Nusantara

Solo Tuan Rumah International Mask Festival (IMF) 2025

Solo Tuan Rumah International Mask Festival (IMF) 2025

International Mask Festival 2025. | Sekar Sari IC

Wartalampung.di, Solo – Kota Solo kembali menjadi tuan rumah International Mask Festival (IMF) 2025. Mengukuhkan diri sebagai kota budaya nusantara.

Pentas seni dan budaya dari dalam dan luar negeri serta konferensi internasional menjadi agenda utama acara yang digelar di Pendapi Gedhe Balaikota Surakarta, Ahad, 16 November 2025.

Di tahun ke-12 penyelenggaraan, IMF 2025 mengangkat tema “Awesome Mask”.

“International Mask Festival tahun ini bertema ‘Awesome Mask’ atau topeng yang menakjubkan atau mengagumkan. Jadi topeng tidak hanya menjadi artefak tapi juga identitas budaya dari Nusantara dan mancanegara,” kata Direktur Solo International Performing Arts, Irawati Kusumosari dalam jumpa pers, Kamis (13/11/2025).

Sebagai pentas dunia, sebanyak 21 delegasi seni terdiri dari 15 dalam dan 6 luar negeri memeriahkan acara ini. Seniman internasional yang tampil antara lain dari Korea Selatan, Myanmar, Malaysia dan Taiwan.

Dari dalam negeri, yang tampil antara lain perwakilan dari Tegal, Banyumas, Semarang, Riau, Bali dan tuan rumah Solo.

Saat membuka IMF 2025, Wali Kota Surakarta, Respati Achmad Ardianto, mengatakan acara ini merupakan bukti kreativitas ekosistem kreatif Solo.

Dia juga mengapresiasi kinerja panitia IMF 2025 yang sukses menggelar acara dengan meriah.

“Melalui festival ini, pemerintah Kota Surakarta berharap semakin banyak kolaborasi lintas daerah dan lintas negara. Kota Surakarta ingin terus menjadi ruang dialog dari dunia internasional,” katanya.

Sementara itu, selama IMF 2025 berlangsung, ribuan penonton terutama dari kalangan muda memadati area festival sejak sore hari.

Pada pembukaan IMF 2025, penari Semarak Candrakirana membawakan tari Janma Krodha.

Para penari pria dan perempuan bergerak mengikuti irama musik. Terkadang lembut, di lain waktu bergerak lincah.

Koreografer Damasus Chrismas Verlananda dan Febryan Danang Isyawara menciptakan tarian Janma Krodha untuk menggambarkan empat sifat dasar manusia; Amarah (anger), Aluamah (desire), Supiyah (passion), dan Mutmainah (serenity).

Selain panggung dalam, penonton juga menikmati pertunjukan di area halaman. Sebelum acara dimulai, penonton dihibur dengan tarian Reog Singo Yogo dari Ponorogo. Belasan penari cilik tampil cemerlang membawakan berbagai atrakasi dan tarian.

Karena ingin lebih mengenalkan seni tradisi topeng, panitia mengemas acara ini dengan ‘cerdik’. Untuk menarik minat kalangan muda, mereka mendatangkan grup folk, Banda Neira.

Nama grup Banda Neira yang terkenal di sejak belasan tahun lalu, menarik minat anak muda di Solo dan sekitarnya untuk datang. Menikmati musik dan mengapresiasi seni tradisi topeng.

Sempat vakum selama delapan tahun, Banda Neira menjadi puncak hari pertama IMF 2025. Penonton dengan sabar menunggu penampilan Ananda Badudu dan Sasha Iguana.

Tampil sekitar pukul 21.00, penonton langsung merangsek ke depan panggung. Mereka duduk memenuhi area Pendapi Gedhe Balaikota Surakarta.

Seluruh penonton festival larut dan bernyanyi bersama. Menyanyikan sejumlah hits ikonik mereka seperti seperti “Sampai Jadi Debu”, “Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti”, dan “Di Atas Kapal Kertas”, Banda Neira sukses menghipnosis seluruh pengunjung.

Selain pertunjukan tari topeng, IMF 2025 juga diisi dengan bazaar kuliner dan kerajinan tangan. Sekitar 30 stan umkm di Solo dan sekitarnya mengikuti acara ini. Seluruh rangkaian acara terbuka untuk umum.

Agenda penting IMF 2025 lainnya adalah Konferensi Internasional (International Mask Organization/IMO).

Konferensi ini menjadi forum akademik dan budaya yang mempertemukan seniman, akademisi, dan praktisi seni topeng dari berbagai daerah.

Di forum tersebut mereka berdiskusi mengenai perkembangan seni pertunjukan kontemporer termasuk pelestarian kesenian tradisional topeng di era digital saat ini. [Sekar Sari IC]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda