Nusantara

Lima Kompetensi Dasar bagi Pengajar BIPA di Indonesia versi Yeti Mulyati

Lima Kompetensi Dasar bagi Pengajar BIPA di Indonesia versi Yeti Mulyati

Zoom meeting. | Tangkapan layar Delima Kurnia

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Program BIPA Berbasis SKKNI untuk Pengajar BIPA yang digelar secara daring, Yeti Mulyati dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menekankan pentingnya penguasaan lima kompetensi utama sebagai fondasi dasar bagi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), Senin, 27/10/2025.

Menurut Yeti, pengajar BIPA tidak hanya dituntut mampu berbahasa Indonesia dengan baik, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai struktur, budaya, dan konteks penggunaan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Guru Besar UPI tersebut menjelaskan bahwa setidaknya ada lima kompetensi utama yang harus dimiliki oleh setiap pengajar BIPA.

Kompetensi bahasa seperti penguasaan pengetahuan linguistik bahasa Indonesia mulai dari fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, hingga wacana.

Kemudian kompetensi berbahasa yang terdiri atas keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, serta memirsa.

Selanjutnya kompetensi sastra kemampuan memahami dan memanfaatkan genre serta karya sastra dalam pembelajaran.

Kemudian ia juga menjelaskan mengenai kompetensi budaya yakni pemahaman terhadap konteks budaya, baik dalam bahasa maupun perilaku sosial dan yang terakhir ialah kompetensi pedagogik diamana pada kemampuan ini berisi bagaimana mengajar, menilai, dan mengembangkan proses pembelajaran.

Dalam penjelasannya, Yeti mencontohkan pentingnya kompetensi linguistik, terutama dalam menjelaskan struktur dan kaidah bahasa Indonesia kepada penutur asing.

“Kalau tidak ada pengetahuan fonologi atau morfologi, sulit menjelaskan perbedaan seperti ‘menterjemahkan’ dan ‘menerjemahkan’. Begitu juga menjelaskan mengapa ‘kuda makan rumput’ benar secara struktur, tetapi ‘rumput makan kuda’ tidak bisa diartikan serupa,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa penguasaan sastra dan budaya berperan penting dalam membantu peserta didik memahami nilai-nilai dan konteks sosial masyarakat Indonesia.

Misalnya, bagaimana budaya Sunda menafsirkan lambaian tangan bukan sebagai perpisahan, melainkan panggilan.

“Pengajar BIPA perlu menguasai lima kompetensi ini agar pembelajaran menjadi bermakna, efektif, dan kontekstual,” tegasnya.

Kegiatan Bimtek ini diikuti oleh pengajar BIPA dari berbagai daerah di Indonesia dan diselenggarakan oleh Balai Bahasa Maluku Utara sebagai upaya peningkatan kualitas tenaga pengajar BIPA berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). [Delima Kurnia]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda