Nusantara

Yeti Mulyati Guru Besar UPI Tekankan Sinergi KKNI dan SKL Pilar Profesionalisme Pengajar BIPA

Yeti Mulyati Guru Besar UPI Tekankan Sinergi KKNI dan SKL Pilar Profesionalisme Pengajar BIPA

Bimbingan Teknis Program BIPA Berbasis SKKNI. | Tangkapan Layar Dandy HR

Wartlampung.id, Maluku Utara – Balai Bahasa Provinsi Maluku Utara menggelar Bimbingan Teknis Program BIPA Berbasis SKKNI secara daring, Senin, 27 Oktober 2025.

Menghadirkan narasumber utama Yeti Mulyati, guru besar UPI.

Dalam paparannya, Yeti menegaskan pentingnya sinergi antara Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) sebagai dasar pembentukan profesionalisme pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA).

Yeti menjelaskan, KKNI dan SKL merupakan dua kebijakan nasional yang berbeda fokus, tetapi saling melengkapi.

SKL berfungsi sebagai panduan dalam merancang tujuan dan capaian pembelajaran, sedangkan KKNI menetapkan kompetensi profesional yang harus dimiliki pengajar BIPA. Keduanya membentuk sistem mutu pembelajaran yang terintegrasi.

“KKNI dan SKL bukan hanya regulasi administratif, tetapi pondasi mutu pembelajaran BIPA yang utuh,” ujar Yeti.

Paradigma pembelajaran BIPA kini berorientasi pada pendekatan komunikatif (Communicative Language Teaching) dan kompetensi komunikasi antarbudaya (Intercultural Communicative Competence).

Bahasa Indonesia harus diajarkan sebagai alat komunikasi lintas budaya yang hidup di masyarakat, bukan sekadar struktur gramatikal.

Pembelajaran berbasis KKNI dan SKL juga menuntut pengajar untuk mengintegrasikan empat keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, serta mengaitkannya dengan unsur budaya lokal.

Model dan metode pengajaran perlu disesuaikan dengan tingkat kemampuan dan kemandirian pemelajar.

“Semakin tinggi level BIPA, semakin besar tanggung jawab pengajar untuk memfasilitasi otonomi belajar pemelajar,” jelasnya.

Pengajar BIPA profesional harus mampu melakukan refleksi pembelajaran, memanfaatkan teknologi digital, serta menyusun asesmen yang relevan dengan konteks sosial dan budaya Indonesia.

Peran pengajar BIPA kini berkembang dari sekadar pendidik menjadi arsitek mutu pembelajaran.

Yeti berharap pengajar BIPA di Indonesia dapat memperkuat kapasitas profesionalnya di level internasional. Bimtek ini menjadi wadah penting untuk menyamakan pemahaman, memperkuat kompetensi, dan menjadikan Indonesia sebagai pusat unggulan pengajaran bahasa Indonesia di dunia. [Dandy HR]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda