Opini

Americano, Madilog, dan Gelombang China (Catatan tentang Endurance Generasi Baru)

Americano, Madilog, dan Gelombang China (Catatan tentang Endurance Generasi Baru)

Romi Aprilyansa

Oleh Romi Aprilyansa (Alumnus SMAN 2 Bandar Lampung dan Fakultas Teknik Unila)

Belakangan ini, anak-anak muda mulai membaca kembali Madilog karya Tan Malaka. Buku yang dulu hanya dikenal di ruang diskusi kampus kini kembali muncul di linimasa media sosial, dibicarakan di ruang kopi, dan dijadikan simbol kebangkitan cara berpikir rasional.

Fenomena ini muncul bersamaan dengan perubahan besar di dunia: arus teknologi, barang murah, dan cara hidup serba cepat yang sebagian besar datang dari China. Negara itu berhasil memadukan sosialisme yang disiplin dengan kapitalisme yang pragmatis—menciptakan arus ekonomi yang bukan hanya menguasai pasar, tapi juga cara berpikir manusia modern.

Anak muda Indonesia tumbuh di tengah arus ini. Mereka akrab dengan produk murah, gawai canggih, dan sistem instan yang memudahkan banyak hal, namun diam-diam mengikis daya tahan berpikir. Pragmatisme menjadi kebiasaan; efisiensi berubah menjadi ideologi.

Namun di sela arus itu, muncul tanda kecil tapi penting: pencarian arah berpikir yang lebih jernih. Kembalinya minat pada Tan Malaka menunjukkan ada kerinduan terhadap kedalaman—terhadap cara berpikir yang tidak hanya mengikuti tren, tapi berusaha memahami akar.

Anak muda masa kini bukan tidak punya idealisme, hanya cara mengekspresikannya berbeda. Mereka membaca Madilog sambil menyeruput americano—kopi yang kuat tapi sudah dicairkan. Simbol sederhana dari generasi yang tetap ingin merasakan pahitnya realitas, tapi juga ingin tetap bisa meneguknya tanpa terbakar.

Logika yang Tergerus dan “Industri Kesalehan”

Di tengah arus global yang pragmatis, logika masyarakat kita juga diuji di dalam negeri. Baru-baru ini, salah satu stasiun televisi menyoroti bagaimana sebagian pemuka agama memanfaatkan kesulitan ekonomi masyarakat dengan menjual “doa berbayar” atau menjadikan kesalehan sebagai komoditas.
Fenomena ini menunjukkan bentuk lain dari krisis logika yang pernah dikritik Tan Malaka delapan dekade lalu.

Dalam Madilog, Tan Malaka menulis bahwa bangsa yang ingin maju harus merdeka dalam berpikir. Ia mengingatkan bahwa akal sehat harus berdiri sejajar dengan iman, bukan tunduk kepadanya. Ketika logika dilemahkan oleh rasa takut atau otoritas simbolik, masyarakat menjadi mudah diarahkan—bahkan dalam hal-hal yang menyangkut moral dan spiritualitas.

Masalah muncul ketika kritik terhadap praktik ekonomi-keagamaan justru dibalas dengan ancaman atau tuduhan penghinaan. Di titik ini, iman berubah fungsi: dari penerang hati menjadi alat kekuasaan. Padahal, berpikir logis bukan berarti menolak agama, tetapi menolak manipulasi atas nama agama.

Fenomena semacam ini memperlihatkan bahwa krisis logika tidak hanya datang dari luar—dari gempuran teknologi dan pragmatisme China—tetapi juga dari dalam, ketika keberanian berpikir dianggap dosa, dan kesadaran kritis dianggap penghinaan.

Endurance yang Diuji dari Dua Arah

Dulu, para pemimpin seperti Tan Malaka, Soekarno, atau Sjahrir memiliki endurance yang lahir dari kesadaran sejarah dan penderitaan. Mereka tidak mengejar popularitas, melainkan memperjuangkan gagasan.
Sekarang, pemimpin diuji oleh derasnya arus opini dan cepatnya perubahan selera publik. Endurance kini tidak lagi diukur dari kekuatan ide, tetapi dari kelincahan menjaga citra.

China menjadi contoh ekstrem dari dunia pragmatis: mereka efisien, terukur, tapi berisiko kehilangan arah moral. Sementara di dalam negeri, kita berisiko kehilangan kejernihan berpikir ketika kesalehan dijadikan komoditas dan kritik dianggap ancaman.

Indonesia berdiri di antara dua arus besar: di satu sisi, arus global yang mendorong efisiensi tanpa makna; di sisi lain, arus domestik yang memuja kesucian tanpa logika.

Surfing di Tengah Gelombang

Pertanyaannya bukan lagi bagaimana menolak pengaruh China atau membungkam tafsir keagamaan,
tetapi bagaimana berselancar di atas semua arus itu tanpa kehilangan nilai sendiri. Bukan tentang melawan arus, melainkan memahami arah angin dan tetap menjaga kemudi.

Kita membutuhkan kembali semangat berpikir seperti Madilog: berpijak pada logika, tapi tetap berakar pada nilai. Membangun core value Indonesia yang murni tidak berarti menutup diri dari dunia, tapi mampu memilih—apa yang perlu diserap, dan apa yang perlu disaring.

Kopi americano mungkin metafora yang pas untuk generasi ini. Kita hidup di zaman yang encer, tapi masih ingin merasakan pahitnya realitas. Dan mungkin, di situlah endurance sejati muncul: kemampuan menelan kenyataan tanpa kehilangan arah berpikir. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda