Opini

Gen Z, FOMO, dan Seni Membaca Pra-Investasi

Gen Z, FOMO, dan Seni Membaca Pra-Investasi

Romi Aprilyansa

Oleh Romi Aprilyansa

Pernahkah Anda merasa ketinggalan ketika teman-teman ramai bicara soal crypto, saham, atau trading? Itulah yang disebut fear of missing out alias FOMO.

Fenomena ini sangat dekat dengan generasi muda, terutama Gen Z, yang tumbuh dengan notifikasi tanpa henti dan informasi berseliweran di layar ponsel.

Masalahnya, otak manusia tidak didesain untuk memproses banjir informasi seperti sekarang. Sejak lama, psikolog George A. Miller sudah menyebutkan bahwa daya ingat kerja manusia terbatas pada “magical number 7 ± 2”. Artinya, kalau informasi terlalu banyak, kita mudah bingung, salah ambil keputusan, atau justru menunda memutuskan.

Nah, Gen Z punya gaya pengambilan keputusan yang khas: cepat, sering berbasis intuisi, dan sangat dipengaruhi opini di media sosial. Tidak salah, karena itu bagian dari zaman. Tapi ketika bicara soal investasi—entah saham, crypto, atau trading—cara seperti ini bisa berisiko tinggi.

Di sinilah pentingnya critical thinking. Menahan diri sejenak, memilah informasi, lalu bertanya:

“Apakah saya paham risikonya? Apa sumber ini kredibel? Atau jangan-jangan saya cuma ikut-ikutan?” Pertanyaan sederhana ini bisa jadi rem di tengah derasnya ajakan “ayo cepat kaya” yang bertebaran di internet.

Saya jadi teringat pengalaman pribadi. Dulu, saat baru kenal dunia trading, saya membaca buku The New Trading for a Living karya Dr. Alexander Elder.

Elder menekankan bahwa inti trading bukan pada trik cepat untung, melainkan pada psikologi, disiplin, dan kontrol risiko.

Banyak orang, katanya, jatuh bukan karena pasar yang kejam, tapi karena tidak bisa mengendalikan emosi sendiri—serakah ketika untung, panik ketika rugi.

Pelajaran dari Elder itu akhirnya membuat saya memilih untuk mundur. Bukan berarti pasar itu buruk, tapi saya sadar bahwa tidak semua orang cocok dengan ritme cepat dan tekanan tinggi dari trading. Dari situ saya belajar: investasi bukan sprint, melainkan maraton.

Bagi Gen Z hari ini, pesan sederhananya adalah: jangan buru-buru ikut hanya karena takut ketinggalan.

Baca dulu, pahami dulu, baru melangkah. Dunia finansial memang menawarkan peluang besar, tapi juga bisa jadi jebakan mahal kalau kita masuk tanpa bekal pengetahuan dan kendali diri.

Investasi yang sehat bukan soal pamer cuan di media sosial, tapi soal bagaimana kita bisa tidur nyenyak tanpa dikejar rasa cemas. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda