Hiburan

Model Amel, Kerja di Hongkong demi “Rumah Kanton”

Model Amel, Kerja di Hongkong demi “Rumah Kanton”

Amel

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Model Lampung Amel memang tipikal yang punya kemauan kuat. Jika sudah ada yang diinginkan, ia akan capai. Seorang ibu dari temannya membawa pikirannya untuk bekerja di luar negeri. Negara pilihan juga sudah ditetapkan: Hongkong.

Ia sudah membaca banyak hal dan mendengar cerita pekerja migran Indonesia yang bekerja di sana. Amel memilih bekerja menjaga lansia di sana.

Satu hal yang ia sudah impikan adalah punya rumah sendiri dari hasil kerja kerasnya. Namun, urusan pergi ini bukan hal yang sepele. Untuk menjadi pekerja migran yang sah, mesti dapat izin dari orangtua, lurah atau kepala desa, serta pihak lain. Urusan administrasi yang lumayan riweh.

Izin tentu yang terpenting. Tapi izin dari orangtua juga bukan hal yang mudah. Amel mesti meyakinkan agar kedua orangtuanya mau melepasnya bekerja di Hongkong.

Beberapa lama melobi, keinginan itu gol. Apalagi Amel sudah komitmen untuk mengirim semua gajinya kepada ibunya. Kelak, dari hasil gaji ini akan digunakan untuk membeli tanah dan membangun rumah. Sebuah cita-cita tinggi bagi gadis yang baru mentas di kehidupan.

Ringkas cerita, Amel bekerja juga di negerinya aktor kesohor Andy Lau itu. Ia sempat berganti beberapa tempat kerja sampai akhirnya menemukan yang klop. Ia mesti menjaga dan merawat sepasang lansia. Kakek dan nenek.

Gaji oke, fasilitas cukup, dan kehidupan terjamin. Tapi hidup di negeri orang memang keras. Amel sudah komitmen semua gajinya bakal dipakai beli tanah dan bangun rumah. Maka untuk menambah kebutuhan selama di sana, termasuk jajan, dan sesekali belanja, ia mesti putar akal.

Amel kemudian memilih berjualan. Apa saja asal laku, termasuk emas, ia jual. Cari tempat beli barang murah, dijual di Hongkong bisa tiga kali lipat. Dari sana ia mendapat uang tambahan lumayan. Bahkan setara gaji menjadi perawat lansia yang hmmm sampai sih kalau dua digit, hehehe.

Amel juga bukan tipikal yang ikut dalam gaya hidup. Ponsel, selama masih bisa dipakai, akan ia gunakan. Nyaris tak mengganti gawai selama di Hongkong. Berganti pun karena memang rusak dan tak bisa diservis lagi.

Tapi, soal belanja dan makan-makan, sebagaimana gadis seusianya, ya tetap. Tapi semua masih dalam kontrol yang ketat. Ia sudah mewanti-wanti dirinya untuk tidak menggunakan sepeser pun uang gaji untuk kebutuhan di sana.

Amel juga bersyukur di sini banyak fotografer kenalan. Bahkan, ada yang dari Filipina dan Vietnam. Demikian pula dengan make-up artist. Ia punya banyak kolega. Dari hasil foto saja ia bisa simpan uang lumayan. Ia tak menyangka, jauh di negeri seberang, kemampuannya sebagai model masih terpakai.

Para fotografer juga senang dengan Amel karena pembawaan yang baik dan karakter wajah yang khas. Meski demikian, karena punya wajah mendekati etnik Tionghoa, ia kerap disangka warga Hongkong.

Soal bahasa juga tak masalah baginya. Lima bulan belajar bahasa Kanton membuatnya fasih berkomunikasi dalam keseharian. Baik di dalam ranah bekerja maupun bekerja di luar pekerjaan utama merawat sepasang lansia itu.

Amel meyakini, asal kita bisa membawa diri, bekerja dengan baik dan jujur, akan membawa kebaikan. Itu semua ia rasakan selama di Hongkong dalam durasi nyaris empat tahun.

Ada saja hal-hal yang tak ia duga untuk menambah tabungannya. Jualan lancar, jadi model jalan. Hanya panggilan dari orangtua saja yang kemudian ”memaksa” Amel bertahan hampir empat tahun. Semula, memang ia janji hanya dua tahun. Tapi karena merasa tabungan belum cukup untuk menyelesaikan rumah di Sidomulyo, ia menambah kontrak kerja.

Pengalaman di Hongkong benar-benar menjadikan Amel perempuan tangguh. Ia mengatakan, perempuan sekarang mesti kuat mental dan ada keahlian. Meski nanti sudah berkeluarga, tetap punya sumber pemasukan sendiri sehingga tak bergantung pada pemasukan suami. Benar juga, ya.

Tahun 2022, pengalaman kerja di Hongkong berakhir. Ia mesti balik ke Tanah Air. Rumah sudah mulai dibangun dan hampir selesai. Hanya kurang penyelesaian di beberapa titik. Tapi secara umum sudah bagus dan bisa ditempati.

Ayahnya sempat bercanda mau menamai itu ”Rumah Kanton” merujuk bahasa di Hongkong. Ya maklum saja, semua pembiayaan tanah dan rumah memang dari hasil gajinya selama bekerja di Hongkong. Boleh juga ya dinamai ”Rumah Kanton”. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda