Opini

HRW

HRW

Juwendra Asdiansyah

Oleh Juwendra Asdiansyah

JELANG tengah malam akhir Juli 2022, dalam obrolan santai di Kampung Payungi Metro, Dharma Setyawan mengajukan satu pertanyaan. Persisnya saya tidak ingat, tapi kira-kira begini, “Menurut Bang Juwe, siapa saat ini wartawan di Lampung yang terkategori hebat?”

Diksi “hebat” pun saya ragu, tapi ya kurang lebih demikian inti pertanyaan founder Payungi tersebut. Selain Dharma, ada Muadin Effuari (waktu itu ketua Dewan Kesenian Metro), dan sebelumnya ada beberapa orang lain yang pulang lebih dulu.

Saya tidak langsung menjawab. Ini pertanyaan berat. Seperti profesi lain, tidak cukup satu-dua indikator seorang wartawan dilabeli hebat. Banyak. Dan di antara yang banyak itu, tidak termasuk yang foto atau kawan pejabatnya berderet, jabatan mentereng di dalam-di luar news room, sering pakai dasi, ngomongnya paling gacor, status Facebook-nya paling beringas, mobil paling bagus, atau proyek dan duitnya bejibun.

Dari yang banyak itu, satu indikator paling penting, yang saya taruh paling atas: bisa nulis!

Kenapa nomor satu? Bukannya memang menulis itu pekerjaan wartawan? Apa istimewanya? Memang tidak istimewa mestinya. Tapi anehnya untuk hal biasa banget itu, hari ini banyak wartawan tidak bisa menulis: ya menulis standar, menulis bagus apalagi. Ini ironi, tapi fakta.

Karena menjadi ironi itu lah, kemampuan menulis yang mestinya merupakan skill standar menjadi indikator terpenting menilai kualitas seorang wartawan. Mau jabatannya pemimpin redaksi beragam media, puluhan tahun jadi wartawan, pemegang kartu pers nomor satu, semua gubernur temannya, tapi tulisannya belepotan: wassalam! Emang ada yang begitu? Ada.

Ngomong panjang lebar, malam semakin larut, hingga dini hari kami bubar, pertanyaan Dharma tidak terang benderang terjawab. Di penginapan nan indah milik Uda Friz Anton Kasim saya masih memikirkan pertanyaan itu, “Siapa wartawan di Lampung yang hebat saat ini?” Hanya sedikit nama melintas. Dari yang sedikit itu, kalau harus menyebut, salah satunya: Heri Wardoyo.

***

Heri Wardoyo, biasa disapa Hrw oleh teman-temannya—merujuk inisial/kodenya semasa menjadi wartawan harian Lampung Post, memang beda. Sungguh tidak banyak wartawan di Lampung dengan paket lengkap seperti dia: parlente, berduit, ganteng dengan kumis nan khas, ngetop, relasi-networking sangat luas, jago ngomong, pernah jadi wakil bupati, dan ini yang terpenting: pintar dus jago nulis.

Khusus jabatan wakil bupati (Tulangbawang), cuma dia dan Noverisman Subing, wartawan di Lampung yang pernah mencicipinya. Soal jago ngomong, jangan ditanya. Untung saja dia tidak serius menekuni dunia perngomongan. Kalau tidak, rekor dan reputasi saya sebagai moderator pilkada numero uno di Lampung hampir pasti terancam.

Istrinya pun tidak kalah pamor. Zaidirina, ibu negara Heri Wardoyo, birokrat papan atas. Jejak jabatannya banyak. Malang melintang di Lampung dengan jabatan terakhir kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa dan Transmigrasi Provinsi Lampung, pada 2 Juni lalu dia go nasional: dilantik sebagai deputi Bidang Percepatan Fasilitasi dan Perlindungan Kesejahteraan Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin). Anak buah langsung eks aktivis dan politikus Budiman Sudjatmiko.

Heri Wardoyo sudah lama jadi orang kaya. Satu dari hanya sedikit wartawan (Lampung) yang kaya, terutama pada kurun 10-20 tahun lalu ke belakang. Kalau sekarang mungkin sudah lebih banyak yang berduit.

Sekira tahun 2007, rumahnya di Kota Sepang, Way Halim, Bandar Lampung disatroni maling. Berita kecil di koran menyebutkan di antara yang hilang adalah perhiasan, arloji, batu mulia, dan laptop. Total kerugian sekira Rp500 juta. Untuk sekarang saja jumlah 500 juta itu banyak, bayangkan nilainya saat itu.

Dulu, kepada wartawan muda atau aktivis pers kampus, dengan nada sedikit bergurau saya sering berkata, “Kalau ingin kaya, jangan jadi wartawan, apalagi di Lampung. Di Lampung ini, wartawan kaya cuma satu: Heri Wardoyo.” Insiden kemalingan pada 2007 itu memvalidasi rahasia umum di kalangan wartawan bahwa Hrw memang sugih adanya.

Tapi dari semua kemewahan seorang Heri Wardoyo saya akan fokus saja kepada “jago nulis”, karena seperti saya tulis di paragraf keempat, bukankah itu indikator utama saya menempatkannya sebagai salah sedikit jurnalis paten di Bumi Lada ini.

Jika bandingannya Udo Z Karzi, Budi Hutasuhut, apalagi mendiang almukarom Bambang Eka Wijaya, Heri Wardoyo bukan tergolong wartawan yang “sering menulis”. Tapi dari karya yang tidak berlimpah itu, setidaknya yang pernah saya baca, hampir semuanya bagus. Bagus dalam karya (tulis) jurnalistik itu dua saja ukurannya: kaya secara materi, indah secara (gaya) penulisan.

Tulisan-tulisan Hrw itu ngisi. Dia tidak membiarkan setiap tulisannya loncong begitu saja tanpa taburan potongan “daging” di sana-sini. Dia membedah satu tema dengan pendekatan teoritik yang solid dan acap terasa tidak mainstream (terutama bagi kaum miskin literasi), lalu menukik dengan tudingan, gugatan, sabetan, atau konklusi yang sering tak terduga. Ini khas Hrw banget.

Jika Anda sering membaca tulisan-tulisan saya dan menemukan begitu banyak kesederhanaan sehingga tak perlu keras berpikir untuk mengerti, maka tulisan Hrw adalah vice versa. Mewahnya tulisan itu ada di Heri Wardoyo.

Dia memang jarang atau tidak banyak mengeksploitasi sisi-sisi humanisme realis yang menguras emosi dan kadang sentimentil ala tulisan-tulisan Hamid Basyaib atau Nezar Patria. Tulisannya cenderung berat, tidak menye-menye, tapi tetap nikmat untuk dibaca dan selalu memberikan insight, meski untuk itu seringkali saya saya harus membaca satu paragraf sampai dua-tiga kali hingga bisa mengerti apa yang dia maksud.

Heri Wardoyo menulis dengan bergaya. Diksi-diksinya berkelas. Tak umum, nggak receh, nggak pasaran. Kalimat-kalimatnya bertenaga. Kalau meminjam istilah guru menulis saya, Janet Steele (profesor jurnalistik di George Washington University, AS): tulisannya memiliki engine.

Ini juga tidak semua penulis bisa. Yang saban hari menulis juga belum tentu bisa menguasai jurus writing with a style dan writing with an engine ini. Perlu latihan yang banyak, tekun, serius, mungkin sedikit bakat, dan yang utama: harus pintar.

Dan ini satu lagi lebihnya Hrw: dia pintar, cerdas. Ini no debat. Siapa saja yang mengenalnya, pasti setuju. Saya kalau ngobrol dengan dia lebih baik tidak masuk bahasan yang serius-berat karena seketika bakal merasa atau kelihatan bodoh, ehh ralat, nggak pintar-pintar amat dibanding dia.

Heri pintar karena banyak baca. Bukunya banyak, dan bukan sekadar koleksi untuk gegayaan flexing di media sosial. Buku-buku itu dibacanya. Tahu dari mana? Ya balik lagi: lihat saja tulisannya, dengarkan saat dia bicara. Tulisan bergizi, omongan berbobot hanya keluar dari kepala dengan bacaan yang penuh, literasi yang kuat, wawasan yang berlimpah.

Tulisan yang bagus tidak akan lahir dari orang yang miskin bacaan tapi gemar membuka Google untuk menempelkan sejumlah referensi dan quotes orang terkenal hanya demi tulisannya terlihat keren dan dikira cerdas, disangka banyak baca.

Heri adalah penggemar berat buku. Dan uniknya sebagai penggila buku, dia tidak pelit meminjamkan buku.

November 2023, kami ngobrol via WhatsApp tentang serial buku “Konflik Jawa Pos: Pasca-Pecah Kongsi Dahlan Iskan-Goenawan Mohammad”. Penulisnya Bahari, eks wartawan Jawa Pos. Ada tiga jilid. Semuanya tebal. Masing-masing lebih 400 halaman, belum termasuk pengantar yang tak kalah tebal untuk ukuran pengantar.

Ini buku best seller. Sudah beberapa kali cetak ulang. Mendapatkannya tidak gampang.

“Dulu, 2021, ikut menit pertama pemesan, di WAG. Habis. Terus satu grup PWI pusat geger. Karena kontroversinya edan. Dahlan Iskan pasti borong buku ini. Bener aja. Yo wis pasrah. Taswin dan Ardiansyah aja gak punya,” kata Hrw kepada saya dalam WA. Dua nama terakhir yang disebutnya adalah dua petinggi grup Jawa Pos di Lampung dan koleganya di PWI (Persatuan Wartawan Indonesia).

“Eh ndilalah, pas Sabtu kemarin buka-buka HP, masih ada nomor si penulis buku. Iseng-iseng ku WA, tanya soal bukunya. Alhamdulillah masih ada satu eksemplar (3 jilid) nyelempit di rumah dia. Agak mohon-mohonlah minta. Dikasih! Surprise. Terus dikirim. Drama deh wkwkwk,” lanjutnya soal perjuangan mendapatkan tiga buku tersebut.

Demi tahu sulitnya untuk membeli, saya spontan izin untuk meminjamnya. Tapi ya nanti-nanti saja, tunggu dia rampung membaca. Dan, seminggu kemudian, justru Hrw yang mengingatkan, bahkan mau mengantarkannya sendiri. “Juwe, monggo kalau buku Konflik Jawa Pos mau kamu pinjem. Besok kuanter ke rumahmu or piye!”

Tentu tidak saya iyakan. Sudah dipinjami, masak masih pula diantar. Sungguh terlalu. Dia terlalu baik, saya terlalu tak tahu diri. Saya ke rumahnya pada 15 November dan sejak itu tiga buku tebal tersebut mendekam di rumah saya.

“Mas Heri, bukunya belum selesai. Ampun tebel-tebel bener,” tulis saya di WA pada 5 Desember 2023.

“Ndak apa-apa banget. Santai,” balasnya.

***

Tadi malam saya tertegun membaca warta di ponsel. Kejaksaan Tinggi Lampung menahan Heri Wardoyo dan dua orang lainnya dalam kasus dugaan korupsi uang komisi (participating interest) migas di PT Lampung Energi Berjaya (LEB). Heri komisaris di perusahaan milik Pemerintah Provinsi Lampung tersebut. Dua lainnya direksi.

Meski sesekali mengikuti pemberitaannya, tahu Hrw beberapa kali diperiksa dan posisinya “rawan”, tetap saja saya syok melihat kawan akhirnya memakai rompi tahanan dengan tangan diborgol.

Bagai dejavu, setiap kali ada perstiwa menyangkut orang yang dikenal seperti ini, saya selalu dalam posisi batin tak enak. Meski begitu, sikap saya terhadap korupsi tak lantas berubah. Sikap yang saya abadikan dalam tulisan berjudul “Ojo Dumeh” pada 25 Agustus 2022 ketika dua kolega saya ditangkap KPK.

Cuplikannya begini:

SIKAP saya jelas. Korupsi itu kejahatan. Harus dilawan, harus diperangi. Pelakunya adalah penjahat. Harus dihukum. Semakin berat kesalahan, mesti semakin berat hukuman.

Ini prinsip besi, sejak dulu, sejak menjadi aktivis pers mahasiswa 1990-an, dan terutama sejak disumpah–baiat sebagai aktivis Komite Anti Korupsi (KoAK) awal 2000-an.

Prinsip, pandangan, sikap ini tidak berubah meskipun pelaku korupsi itu teman, kerabat, sahabat, bahkan saudara sekalipun. Tidak karena kenal, salah jadi benar. Tidak sebab kawan, salah malah dibela. Itu bukan saya sama sekali.

Kita sering protes terhadap jalannya hukum: tebang pilih, standar ganda, ambigu. Tapi sadar atau tidak kita pun sering begitu: standar ganda, ambigu. Ngakunya benci dengan korupsi, tapi begitu dapat kesempatan, korupsi juga. Tidak senang dengan tot tet wuk wuk, gilaran bisa dapat pengawalan tot tet wuk wuk merasa keren juga. Tidak suka dengan birokrasi yang bergelimang suap, tapi belain-belain nyogok biar anaknya bisa jadi aparatur negara.

Si paling anti-korupsi jika ada orang pakai baju oranye atau pink, tapi begitu kawan atau saudaranya yang diborgol dia juga teriak paling kencang: dijebak lah, korban kekuasaan lah, macam-macam lah.

Salah ya salah. Tidak kalau kena di badan orang itu jadi salah. Giliran kena badan sendiri, salah jadi benar.

Sejak semalam, hari ini, dan rasanya hingga hari-hari ke depan, bandul ekspose-pemberitaan tentang Hrw melulu berayun kepada hal-hal dengan tone yang minor. Dan itu wajar saja. Lumrah.

Namun apa pun itu, dia teman saya. Senior yang saya hormati dengan segala lebih dan kurangnya. Tidak elok tiba-tiba mengaku tidak kenal, menafikan perkawanan bertahun-tahun, justru saat kawan sedang menghadapi masalah, atau tergelincir berbuat salah. Sebagai kawan, sungguh saya tidak ingin, tidak perlu, dan tidak patut untuk nambahin, ikutan menggebuk dia.

Tulisan saya panjang lebar yang tampak dominan tone positifnya ini bukan hendak membela dia. Hrw jelas tidak sempurna. Tentu banyak juga kurangnya. Dan sebagian di antaranya, kami kawan-kawannya, tahu itu.

Tulisan ini sekadar “penyeimbang” untuk melihat seorang Heri Wardoyo dari sisi yang lain, terutama bagi orang yang tak mengenalnya. Ia juga ekspresi kesedihan sebab satu dari tak banyak wartawan hebat di Lampung harus menatap kenyataan pahit seperti ini.

Baiklah, tulisan ini akan saya tutup dengan kembali menyitir “Ojo Dumeh” yang tampaknya selalu relevan dalam suasana dejavu ini.

Cukuplah hukum bekerja. Jika terbukti bersalah, biarlah dia mempertanggungjawabkan perbuatannya. Semoga dia sadar, bertobat, dan Tuhan menerima pertobatannya.

Ini ibrah berharga, terutama bagi saya.

Semua orang bisa salah, berpotensi dan berpeluang melakukan kesalahan. Itu sebabnya kita diajarkan untuk mawas diri, berhati-hati, eling lan waspodo. Ojo dumeh, ojo kagetan, ojo gumunan.

Semua orang punya dosanya sendiri-sendiri. Setiap saat, godaan, perjamuan dosa terhidang di depan mata. Konon, kita hanya memilih, satu atau beberapa di antaranya.

Selebihnya kita mungkin beruntung, karena Tuhan yang maha baik menutupi dosa-dosa kita, satu atau beberapa di antaranya. **

Kota Baru, 23 September 2025

Juwendra Asdiansyah

  • Penulis, pelukis, public speaking coach
Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda