Mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila. | Dandy HR
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Enam mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung turut serta dalam ajang Muli Mekhanai Universitas Lampung 2025.
Mereka menilai kompetisi ini bukan sekadar ajang prestasi, melainkan juga wadah untuk mengembangkan diri sekaligus melestarikan budaya Lampung.
Keenam mahasiswa tersebut adalah Isyara Safitri, Zaki Al-Farizi, Shella Damasyanda, Raden Denish Vianka Putra, Azkia Zahwanisa, dan Hudzaifah Ubaidillah Irfani.
Dalam wawancara, mereka menceritakan alasan, persiapan, hingga harapan mengikuti ajang bergengsi yang baru dilaksanakan pertama kali ini.
Isyara Safitri mengaku mengetahui informasi lomba dari media sosial Instagram. Ia tertarik mengikuti Muli Mekhanai karena ingin mengeksplorasi dunia modeling sekaligus memperdalam pengetahuan tentang budaya Lampung.
Hal senada diungkapkan Zaki Al-Farizi yang mendapatkan informasi dari teman. Ia menilai ajang ini menjadi kesempatan berharga untuk mengasah potensi diri sekaligus menjadi representasi mahasiswa yang berkarakter.
Berbeda dengan keduanya, Shella Damasyanda menuturkan bahwa ia mendapat dorongan langsung dari kaprodi.
“Persiapannya lebih ke latihan public speaking, belajar budaya, menjaga attitude dan penampilan,” jelasnya.
Sementara itu, Raden Denish Vianka Putra menyebut motivasinya adalah untuk menantang diri, khususnya dalam kemampuan berbicara di depan umum.
Ia bahkan menargetkan dapat mempromosikan budaya Lampung hingga ke tingkat internasional, termasuk kepada wisatawan Prancis.
Azkia Zahwanisa mengungkapkan alasan ikut serta bukan hanya untuk mengembangkan potensi, tetapi juga memperluas relasi. Ia menyiapkan diri dengan berlatih catwalk, menjaga kondisi fisik, serta mempelajari budaya.
Hudzaifah Ubaidillah Irfani yang masih mahasiswa baru menuturkan keikutsertaannya adalah bentuk kontribusi bagi kegiatan universitas.
Ia menekankan pentingnya keberanian tampil dan memanfaatkan ajang ini sebagai pengalaman pertama di luar kelas.
Dari tahap seleksi hingga pembekalan, seluruh peserta sepakat bahwa mereka mendapatkan banyak pengetahuan baru, mulai dari budaya Lampung, pariwisata, teknologi digital, hingga pengembangan soft skill.
Meski menghadapi tantangan seperti rasa gugup, keterbatasan waktu unjuk bakat, maupun tuntutan wicara publik (public speaking), mereka tetap berkomitmen menampilkan yang terbaik.
Bagi mereka, Muli Mekhanai bukan sekadar ajang kompetisi. Lebih dari itu, acara ini dipandang sebagai simbol generasi muda Lampung yang modern, percaya diri, dan tetap berakar pada budaya daerah.
“Tujuan kami bukan hanya mengejar kemenangan, tetapi juga berkontribusi untuk memperkenalkan budaya Lampung ke masyarakat luas,” ujar Hudzaifah.
Dengan semangat tersebut, keenam mahasiswa Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila optimistis dapat menjadi representasi terbaik, baik bagi universitas maupun daerah Lampung di masa mendatang. [Dandy HR/Delima Kurnia]

Tinggalkan Komentar Anda