Opini

Mengenal Rasul Allah (2)

Mengenal Rasul Allah (2)

Gufron Azis Fuadi

Tak kenal maka tak sayang (tak cinta), kata sebuah pepatah. Yang maknanya adalah bahwa rasa sayang, peduli, atau memahami terhadap seseorang atau sesuatu hanya bisa tumbuh setelah adanya proses pengenalan dan pemahaman yang mendalam.

Pepatah ini menyiratkan bahwa jika seseorang atau suatu hal tidak dikenal, maka kecil kemungkinan akan muncul rasa peduli dan kasih sayang.

Bagi seorang muslim, mengenal Rasulullah Saw adalah kewajiban, agar dirinya bisa mengamalkan Islam secara sempurna. Tanpa beliau, kita tidak dapat menjalankan ajaran Islam dengan baik.

Karena kehadirannya bukan hanya untuk menyampaikan risalah atau ajaran tetapi juga memberikan panduan, bimbingan dan contoh kepada kita tentang cara bagaimana mengamalkan ajaran Islam yang lengkap dan sempurna.

Oleh karena itu bila hanya mengandalkan peringatan maulid nabi Muhammad Saw dalam setiap tahunnya, maka itu jauh dari kata cukup. Kita harus meluang waktu untuk membaca atau mempelajari biografi beliau atau sering disebut dengan Sirah Nabawiyah.

Dengan mempelajari kita akan mengenal Rasulullah Saw secara mendalam sehingga dengan demikian, diharapkan tumbuh rasa mencintainya, keinginan mengikutinya dan membelanya. Dengan mempelajari Sirah Nabawiyah kita tidak saja akan mengenal beliau secara fisik, nasab, latarbelakang dan perjuangannya dalam menegakkan Islam tetapi juga cara beliau beribadah, berdakwah dan beramal shaleh sebagai sesama manusia.

Kita akan tahu bahwa nabi tidak hanya mengajarkan cara beribadah saja tetapi juga cara bagaimana mencari rejeki, berpolitik, menegakkan hukum dan keadilan, menjadi pemimpin, ayah, suami, tetangga dan anggota masyarakat.

Beliau mencontohkan bagaimana berkasih sayang, saling menghormati dan menghadapi orang munafik, orang non muslim yang tidak memusuhi dan non muslim yang memusuhi. Dimana sikap beliau berbeda beda, tidak gebyah uyah podo asine alias sama rata secara membabi buta.

Mengapa kita harus mengenal Rasulullah Saw dengan baik? Karena mengenal Rasulullah Saw adalah kebutuhan kita sebagai manusia. Kita tahu sebagai manusia kita diciptakan Allah dengan fitrah: ingin mengetahui siapa Penciptanya, ingin beribadah kepada Sang Pencipta nya, disamping ingin menjalani hidupnya secara tentram, teratur dan damai.

Tanpa petunjuk dari Allah melalui utusan (rasul) Nya maka fitrah kita akan tersesat menjadi animisme, dinamisme, bahkan atheisme, agnostisme atau deisme. Bisa jadi menjadi musyrik, orang yang percaya bahwa Tuhan itu lebih dari satu. Bahkan punya orang tua dan punya anak.

Tanpa mengikuti petunjuk dari Rasulullah Saw bisa dipastikan kita akan tersesat. Dalam Islam, jika kita ingin mengenal Allah, ingin beribadah kepada Allah, ingin mengikuti perintah Allah, maka kita harus mengikuti perintah Rasulullah Saw.

Inilah kaidah rabbani dalam Islam. Oleh karena itulah, syahadatain terdiri atas dua pengakuan yaitu kepada Allah dan rasul-Nya. Mengikuti petunjuk Rasulullah Saw berarti mengikuti jalan agama Allah yang mempunyai langit dan bumi.

Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)

Dengan mengikuti bimbingan dari Rasulullah Saw kita akan mengenal Allah dengan baik dan mengetahui betapa kasih sayang Nya Allah begitu besar kepada sehingga menyiapkan alam semesta ini untuk memenuhi kebutuhan hidup kita, lengkap dengan pedomannya (minhajul hayah).

Sehingga kita bisa beribadah, baik ibadah khassah maupun ammah (ibadah khusus atau umum), dengan niat yang benar, cara yang benar dan tujuan yang benar (lillah, fillah dan ilallah).

Sampai disini kita faham bahwa antara kita dengan rasul Allah, kita lah yang berhajat, kitalah yang membutuhkan Rasul, tetapi justru kerinduan dan kasih sayangnya rasul kepada kita jauh lebih besar dibanding kita kepada rasul.

Allah berfirman: “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (At Taubah: 128)

Bahkan ketika merasakan dahsyatnya rasa sakit sakaratul maut menjelang wafatnya, Rasulullah masih sempat berdoa untuk keselamatan umatnya.

“Ya Allah, dahsyat sekali sekaratul maut ini. Timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku. Jangan (timpakan) kepada umatku,” doa Nabi Muhammad SAW.

Dan disaat hari perhitungan, beliau pun mencemaskan kita, dengan ungkapan: “Ummati, ummati,” umatku, umatku… Shallu ‘ala Nabi.. Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda