Orasi wisuda Universitas Teknokrat Indonesia. | Dokumentasi UTI
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Wisuda Universitas Teknokrat Indonesia hari ini diisi juga dengan orasi.
Judul Orasi Wisuda 2025 “The Impact of Technology on Young Generation Character (Dampak Transformasi Teknologi terhadap Karakter Pemuda)”.
Bahasa Inggris disampaikan Silvia Damayanti Puspaningrum, S.S. (Sastra Inggris), Bahasa Lampung oleh Fazki Nanda Fahira, S.M. (Manajemen), dan bahasa Indonesia oleh Fajar Saputra, S.Kom. (Informatika).
Berikut intisari orasi wisuda hari ini.
Kita akan memasuki fase baru dalam hidup kita. ”With great power comes great responsibility”. Begitulah nasihat Uncle Ben kepada keponakannya, Peter Parker.
Kekuatan besar datang dengan tanggung jawab yang juga besar. Kekuatan adalah metafora dari ilmu pengetahuan yang telah kita pelajari selama masa perkuliahan.
Ilmu sastra dan pedagogi bagi kalian yang berasal dari FSIP, ilmu ekonomi dan bisnis bagi kalian yang berasal dari FEB, dan ilmu teknik dan komputer bagi kalian yang berasal dari FTIK.
Selepas prosesi wisuda hari ini, kita akan kembali ke masyarakat. Mengemban peran sebagai agen perubahan. Kita harus bersiap untuk menyambut tantangan zaman yang berada di depan mata: Transformasi teknologi.
Hari ini saya berdiri dengan satu keyakinan kuat: Bahwa teknologi bukan hanya sebuah alat. Teknologi adalah peradaban baru. Kita bukan hanya harus hidup berdampingan dengan teknologi, tetapi juga harus berkolaborasi, untuk hidup di dalamnya.
Namun di tengah derasnya arus inovasi, muncul satu kecenderungan yang perlu kita waspadai: deus ex machina. Sebuah konsep yang lahir dari panggung drama Yunani kuno, di mana masalah manusia diselesaikan secara tiba-tiba oleh “dewa dari mesin”—solusi instan yang turun dari langit tanpa melalui proses dan perjuangan.
Dalam konteks modern, deus ex machina menjadi simbol ketergantungan berlebihan pada teknologi, seolah-olah teknologi adalah juru selamat bagi segala masalah manusia. Ini adalah jebakan yang halus namun berbahaya—jika kita mengandalka teknologi tanpa pemahaman kritis, tanpa etika, dan tanpa visi jangka panjang.
Generasi muda tidak boleh menjadi penonton dalam drama ini. Kita bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga pembentuk arah penggunaannya. Kita tidak boleh menyerahkan masa depan kepada algoritma tanpa kendali, atau kecerdasan buatan tanpa pemikiran yang kritis.
Di sinilah peran pemuda menjadi krusial: sebagai navigator peradaban digital, yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga bijak secara moral dan visioner secara intelektual.
Kemudahan yang disajikan dengan adanya teknologi, jangan sampai membuat kita menjadi generasi mager alias malas bergerak. Justru kita harus lebih gercep alias gerak cepat, seiring cepatnya laju transformasi teknologi saat ini.
Fenomena “mager” (malas gerak) di kalangan anak muda tidak bisa dilepaskan dari dampak transformasi teknologi yang pesat, terutama dalam cara kita mengakses hiburan, informasi, dan interaksi sosial. Teknologi digital telah mengubah ritme kehidupan menjadi serba instan, cepat, dan minim usaha fisik maupun mental.
Aplikasi hiburan seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menawarkan konten singkat yang mampu memberikan rangsangan dopamin secara cepat, tanpa memerlukan fokus atau refleksi mendalam.
Kebiasaan ini memunculkan gejala yang kini populer disebut sebagai “brainrot”, yakni kondisi di mana otak terlalu terbiasa dengan stimulus dangkal dan cepat, sehingga kesulitan dalam mempertahankan konsentrasi, berpikir kritis, atau menikmati aktivitas jangka panjang yang membutuhkan usaha.
Di titik ini, “mager” bukan hanya soal tubuh yang enggan bergerak, tetapi juga refleksi dari otak yang kehilangan dorongan untuk berproses secara aktif.
Transformasi teknologi yang awalnya menjanjikan efisiensi dan kemudahan justru menciptakan paradoks: generasi muda menjadi lebih terhubung, namun sekaligus lebih pasif secara kognitif.
Dalam konteks ini, mager dan brainrot adalah dua wajah dari disorientasi digital, di mana manusia lebih banyak menjadi konsumen pasif teknologi daripada pengguna aktif yang sadar tujuan. Maka, tantangannya bukan hanya membatasi waktu layar, tetapi juga membangun kesadaran kritis dalam menggunakan teknologi secara bermakna dan seimbang.
Kita harus menjauhi mentalitas “serahkan saja semuanya pada teknologi.” Peran kita bukan menjadi generasi yang menunggu diselamatkan oleh teknologi, tetapi generasi yang menyelamatkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah laju teknologi. Mari kita ubah kebiasaan rebahan menjadi perubahan.
Kita hidup pada masa yang ditandai oleh kemajuan teknologi luar biasa. AI, atau kecerdasan buatan, kini telah menembus hampir semua sektor kehidupan—pendidikan, kesehatan, ekonomi, pertanian, hingga keamanan siber.
Jika Anda seorang jurnalis, bayangkan Anda bisa membuat sebuah berita panjang hanya dalam hitungan detik. Jika Anda seorang guru, bayangkan Anda bisa membuat 100 soal ujian dengan tingkat kesulitan yang terukur, hanya dalam hitungan detik.
Jika Anda seorang petani, bayangkan Anda dapat memprediksi hasil panen dan keuntungan jangka panjang, hanya dalam hitungan detik. Jika Anda seoang dokter, bayangkan Anda bisa membuatkan resep obat untuk puluhan pasien dalam waktu bersamaan sekaligus. Adanya kemudahan itu bukan lagi fantasi, tetapi kenyataan yang terbentang di depan mata kita hari ini.
Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada tahun 2045, ketika usia kemerdekaan mencapai satu abad. Pada saat itu, sekitar 70% penduduk Indonesia berada dalam usia produktif. Inilah yang disebut sebagai bonus demografi.
Namun, bonus ini bisa menjadi beban demografi jika tidak dikelola dengan baik. Tanpa penguasaan keterampilan abad 21—terutama literasi digital dan AI—generasi muda kita bisa tergilas oleh gelombang disrupsi teknologi.
Dalam jurnal Nature Machine Intelligence (2021), dinyatakan bahwa “automation has the potential to widen social inequality if access to AI education is not equitably distributed.”
“Otomatisasi berpotensi memperlebar ketimpangan sosial, jika akses terhadap pendidikan AI tidak didistribusikan secara adil.”
Pendidikan memegang peran sentral dalam menyiapkan generasi emas yang melek AI. Bukan sekadar mampu mengoperasikan teknologi, tetapi mampu memahami, mengkritisi, dan menciptakan produk nyata. Inovasi yang juga selalu menjadi pilar utama dalam proses belajar di Universitas Teknokrat Indonesia.
Mahasiswa UTI tidak hanya belajar konsep dan teori, tetapi juga diajak beraksi secara nyata. Menciptakan produk inovasi yang dapat berguna bagi masyarakat global. Saat ini, AI telah digunakan dalam berbagai aplikasi pendidikan.
Mulai dari pembelajaran adaptif, tutor virtual, hingga sistem penilaian otomatis, seperti yang telah diterapkan di Universitas Teknokrat Indonesia. Dalam Journal of Educational Technology (2022), dijelaskan bahwa AI mampu meningkatkan motivasi dan hasil
belajar siswa secara signifikan, khususnya ketika dikombinasikan dengan strategi pengajaran yang tepat. Dalam bukunya yang berjudul Technopoly, Neil Postman mengingatkan kita bahwa: ”Teknologi itu tidak netral. Ia membawa konsekuensi budaya dan sosial yang mendalam.”
Oleh karena itu, AI harus dikembangkan dengan prinsip-prinsip etika dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Untuk menjadikan AI sebagai pendorong kemajuan bangsa, kita memerlukan ekosistem yang sehat. Pemerintah Indonesia telah meluncurkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) 2020–2045.
Namun strategi ini tidak akan berhasil tanpa kolaborasi yang erat dari semua elemen masyarakat. Akademisi harus menjadi pionir dalam riset dan pengembangan teknologi. industri harus menjadi inkubator bisnis teknologi, dan pemerintah harus mendukung dengan kebijakan yang berpihak pada kemajuan masyarakat digital.
Sebagaimana ditegaskan oleh Yuval Noah Harari, dalam bukunya Homo Deus: ”Siapa yang menguasai data, akan menguasai masa depan.”
Kita tidak bisa berbicara tentang masa depan teknologi tanpa menengok sejenak ke masa lalu, pada seorang matematikawan jenius bernama Alan Turing.
Dalam Perang Dunia II, Turing berhasil memecahkan kode sebuah alat sandi milik Jerman yang disebut Enigma. Itu adalah mesin yang mampu menyandikan pesan dengan pola yang berubah-ubah. Tapi dari upaya Turing untuk memahami dan menaklukkannya, lahirlah cikal bakal cara berpikir mesin.
Dengan merancang mesin Bombe yang dapat menelusuri jutaan kemungkinan dalam waktu singkat, Turing tidak hanya menyelamatkan jutaan nyawa, tetapi juga membuka jalan menuju era kecerdasan buatan (Copeland, 2004).
Maka hari ini, ketika kita berbicara tentang AI, kita sesungguhnya sedang melanjutkan langkah seorang pemuda yang percaya bahwa mesin, jika diarahkan dengan etika dan logika, bisa menjadi alat perubahan peradaban.
Dalam drama Yunani, deus ex machina sering dikritik sebagai penyelesaian ceritayang tidak alami—mengabaikan logika sebab-akibat. Demikian pula, menjadikan teknologi sebagai solusi mutlak tanpa refleksi kritis bisa membuat kita melupakan proses dan perjuangan manusia.
Maka yang dibutuhkan bukan sekadar penggunaan teknologi, tapi kesadaran untuk mengelola teknologi dengan rasa kemanusiaan. Rekan rekan wisudawan sekalian. Dengan teknologi dan ilmu pengetahuan di tangan, tugas kita sebagai akademisi bukan hanya membicarakan masa depan, tetapi menciptakan masa depan.
Dengan pendidikan yang bermutu, riset yang progresif, kebijakan yang berpihak pada kemanusiaan—kita bisa menyiapkan diri menjadi generasi emas yang bukan hanya siap menghadapi perubahan, tapi juga mampu memimpin di depan.
Dari asa menuju aksi nyata. Demikian yang dapat saya sampaikan. Rekan rekan wisudawan sekalian, untuk merayakan kelulusan kita, mari sambutkan seruan ini…. []

Tinggalkan Komentar Anda