Melisa
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Bersama kompatriotnya, Sely Anjani, Melisa mengusung konsep generasi guava. Ia menolak jika generasi seusianya dipersepsikan dengan generasi stroberi.
Kepada wartalampung.id, Melisa bercerita banyak hal. Melisa dilahirkan di Lampung Barat, 30 Desember 1998.
Gadis kecil yang dibesarkan di perdesaan oleh orang tua yang sangat menyayanginya dan selalu mendoakannya. Ia juga dilindugi oleh abang satu satunya, Mat Nasir, yang menemani proses hidup, cita-cita, dan kariernya.
Bagi Melisa, mereka adalah sistem pendukung terbaik dalam hidup. Dilahirkan dari kedua orang tua yang berprofesi sebagai petani kopi, Melisa berusaha mengejar impiannya.
Moto hidupnya “I Want to reach what I want dengan izin Allah dan doa kedua orang tua”.
Melisa sarat prestasi. Dari SD, SMP, SMA, sampai perkuliahan, Melisa sudah berprestasi. Juga pada ajang olimpiade.
Ranking di kelas hanya bergerak tipis antara 1 dan 2.
Saat SD ia sudah mengikuti olimpiade matematika. Selain itu , bidang seni yaitu penciptaan dan pembacaan puisi serta mengikuti lomba solo song.
Saat SMA, Melisa juga aktif di kelas, organisasi, olimpiade, dan juga mengikuti cerdas cermat, bersama dengan teman-temannya.
Melisa juga tercatat pernah menjadi bendahara umum OSIS, peserta karya ilmiah remaja, PIK Remaja yang menangani permasalahan dan kenakalan siswa/remaja SMA, aktif mengikuti Pramuka sampai ke jenjang laksana, dan olimpiade geografi, serta cerdas cermat PKN.
Pada saat di bangku SMA, Melisa sudah menyadari bahwa gemar akan literasi. Ia pernah mendapatkan piala dari Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri karena menulis “Bagaimana Pelestarian Bahasa Lampung”.
Setelah lulus, Melisa melanjutkan pendidikannya di Universitas Lampung pada 2016. Ia diterima melalui jalur SNMPTN atau jalur undangan dan memilih Fakultas Hukum. Studi di hukum ia rampungkan 3 tahun 4 bulan dengan cumlaude.
Tidak bosan belajarn, Melisa melanjutkan studi di master of science Universitas Lampung pada 2020. Ia berambisi ingin menjadi pakar lingkungan.
Pada 2021, Melisa menjalani kuliah double degree karena kuliah juga di master of law Universitas Lampung.
Selama kuliah dari sarjana, ia sudah aktif mengikuti penelitian yang dilakukan oleh dosen. Aktif mengikuti seminar nasional dan internasional.
Ia juga berpartisipasi melakukan penelitian yang diterbitkan pada jurnal yang terindeks Scopus, DOAJ, maupun ISBN.
Melisa menyelesaikan studinya di magister sains dan magister hukum selama 1 tahun 4 bulan.
Menjalani kuliah dengan memutuskan dua fakultas membuat ia jarang bermain. Kehidupannya sarat dengan belajar.
“Mencoba dan terus berusaha, tetap lebih baik, perkuat harapan dengan doa, insya Allah bisa,” ujarnya kepada wartalampung.id.
Menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan ujian itu membuat mental Melisa tangguh. Ia tak mau disebut sebagai generasi Z yang stroberi: terlihat cantik tetapi lembek dan cepat membusuk.
Inilah sebabnya, ia dan mitranya, Selly Enjelina, membuat suatu tulisan yaitu ”Guava Generation Menolak Stroberry Generation”.
Kenapa guava? Filosofi ini Melisa gunakan karena guava memiliki biji yang ada di dalam buahnya yang menunjukan sebagai problematik kehidupan.
Daging merah pada guava difilosofikan sebagai semangat yang membara dan dilapisi kulit warna hijau yang menunjukkan ketenangan dalam menghadapi situasi dan kondisi yang terjadi.
Generasi Z adalah generasi yang lahir di era digital dan tumbuh dengan teknologi.
Melisa juga sedang mengembangkan klub Gemar Literasi Bandar Lampung yang dia bangun bersama dengan teman-temannya dari berbagai universitas.
Literasi bukan hanya diartikan sebagai membaca atau menulis, melainkan lebih dari itu.
Literasi bisa dimaknai dengan kecintaan seseorang dengan tulisan, mengamati, menelaah, meneliti dan mengeksplorasi setiap hal yang mampu mendatangkan pengetahuan baru untuknya.
Melisa bilang, saat ini kita memiliki masalah serius tentang dunia literasi. Indonesia saat ini sedang menghadapi krisis literasi.
Menurut survei terbaru, Indonesia berada pada peringkat bawah dalam hal kemampuan membaca dan menulis jika dibandingkan dengan negara-negara lainnya.
Penelitian lain dari UNESCO dan Kemenkominfo menjelaskan, minat baca buku di Indonesia hanya di angka 0,001 persen. Maknanya, dari seribu orang, hanya satu yang gemar membaca buku.
Melisa menyadari, literasi adalah salah satu tahap awal dimulainya tangga perkembangan sumber daya manusia unggul dalam mengembangkan inovasi, teknologi dan juga ilmu pengetahuan lainnya.
”Semua tentu bisa dilakukan jika seseorang tak pernah bosan untuk berliterasi.”
Melisa mengajak anak muda untuk menghabiskan waktu untuk memperbaiki dari, memperbanyak ilmu, mengasah soft skill, banyak mencoba hal baru, banyak berdiskusi dengan seseorang yang kita percaya bisa mentrasfer ilmu, dan jangan menyerah ketika gagal. []

Tinggalkan Komentar Anda