Opini

Proyek dan Kolaborasi Lintas Batas Perkuat Fondasi Bahasa Prancis

Proyek dan Kolaborasi Lintas Batas Perkuat Fondasi Bahasa Prancis

Setia Rini

Oleh Setia Rini, Koordinator Program Studi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Unila

Di banyak kelas bahasa asing, mahasiswa masih belajar dalam ruang-ruang yang steril dari kenyataan.

Mereka masih banyak mengandalkan metode seperti menghafal kosakata, mengerjakan berbagai soal latihan, atau menulis karangan berdasarkan topik yang kadang tak relevan dengan dunia mahasiswa. Padahal, bahasa sejatinya bukan hanya untuk diuji, tetapi untuk dipakai, dirasakan, dan dihidupkan dalam konteks nyata.

Sebagai dosen Bahasa Prancis, saya sering bertanya: bagaimana agar mahasiswa tidak hanya lulus ujian internasional DELF, tetapi juga mampu berbicara dengan percaya diri, menulis dengan tujuan, dan merasa bahwa bahasa yang mereka pelajari bermakna dalam hidup mereka?

Bukan hal yang mudah untuk menciptakan suasana kelas yang berbeda setiap harinya. Namun ada banyak hal yang perlu dicoba untuk mengetahui hasilnya.

Salah satunya adalah dengan mengajarkan bahasa asing kepada mahasiswa melalui proyek nyata dan kolaborasi lintas batas. Pendekatan berbasis proyek (Project-Based Learning) dalam pengajaran yang beberapa tahun terakhir mulai banyak dipraktikkan, bisa menjadi solusi yang menarik.

Bentuknya bisa beragam: dari membuat livret tematik digital yang diunggah di Instagram, menyusun kamus visual untuk pemula, sampai membuat konten edukasi bahasa Prancis berbasis budaya lokal. Semuanya bukan hanya tugas, tapi karya—yang bisa dilihat, dibaca, bahkan digunakan oleh orang lain.

Di kelas keterampilan menulis, misalnya, mahasiswa tidak hanya diminta menulis esai, tetapi juga menyusun caption edukatif, reels naratif, atau bahkan infografis interaktif.

Dalam mata kuliah berbicara, mahasiswa bisa membuat vlog pendek tentang kehidupan kampus, mewawancarai teman dengan bahasa Prancis, atau membuat tantangan berbicara (PO challenge) yang diunggah ke media sosial.

Bahkan mahasiswa pun dapat didorong untuk berjejaring dengan sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa asing, komunitas bahasa, atau pelaku pariwisata lokal yang ingin menyasar wisatawan francophone.

Dalam proses ini, mereka bukan hanya belajar bahasa, tapi juga mengembangkan rasa percaya diri, keterampilan presentasi, dan bahkan sedikit jiwa kewirausahaan.

Belajar bahasa asing seharusnya tidak terpisah dari realitas sosial dan profesional. Justru dengan membawanya keluar dari ruang kelas, bahasa menjadi lebih hidup dan relevan.

Proyek-proyek ini bukan hanya memperkuat kompetensi linguistik mahasiswa, tetapi juga membentuk mereka menjadi pemelajar yang reflektif dan siap menghadapi tantangan dunia kerja.

Saya percaya, semakin banyak pengalaman autentik yang ditawarkan kepada mahasiswa, semakin kuat fondasi keterampilan bahasa mereka.

Dan pada akhirnya, inilah yang akan membantu mahasiswa tidak hanya lulus ujian, tetapi juga menjalani kehidupan sebagai individu yang mampu berkomunikasi lintas budaya. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda