Setia Rini
Bahasa Prancis selalu memiliki keunikan dan kesulitan tersendiri dalam proses pembelajarannya. Bagaimana setiap huruf dan kata berbeda jauh antara pengucapan dan tulisannya, sehingga dibutuhkan ketelitian dan kejelian.
Apalagi dalam praktik penulisan bahasa Prancis dituntut dengan pengimplementasian sekitar 5 aspek penting seperti realisasi berdasarkan perintah soal, koherensi dan kohesi, aspek sosiolinguistik, leksikal, dan struktur pola kalimat terkait tata bahasa.
Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Prancis khususnya dalam keterampilan menulis tidak hanya mencerminkan penguasaan gramatika dan kosakata, tetapi juga menunjukkan kedalaman pemahaman mahasiswa terhadap struktur dan budaya bahasa.
Namun, berdasarkan pengamatan dan pengalaman dalam proses pengajaran, masih terdapat sejumlah kesalahan berulang yang sering dilakukan mahasiswa dalam keterampilan menulis bahasa Prancis. Kesalahan-kesalahan ini, meskipun wajar dalam proses belajar, perlu mendapat perhatian khusus agar tidak menjadi kebiasaan yang menghambat perkembangan berbahasa mereka.
Berikut beberapa kesalahan umum yang kerap ditemui: 1) kesalahan dalam penggunaan kata kerja, 2) terjemahan langsung dari bahasa Indonesia, 3) pengabaian aturan penyesuaian (accord), 4) penggunaan artikel yang tidak tepat, 5) Ketidaktelitian dalam penulisan aksen dan kapitalisasi,
Banyak mahasiswa belum mampu membedakan secara tepat antara kata kerja yang memerlukan être dan avoir dalam passé compose maupun dalam penggunaan umum pada berbagai konteks. J’ai 22 ans bukan Je suis 22 ans, Ma mère est belle bukan Ma mère a belle. Atau J’ai mangé de la pomme bukan Je suis mangé de la pomme.
Selain itu, mahasiswa cenderung menerjemahkan ide atau gagasannya dalam bahasa Indonesia secara literal ke dalam bahasa Prancis tanpa mempertimbangkan struktur dan idiomatik bahasa target. Tidak heran jika banyak tulisan mahasiswa sulit dipahami atau bahkan tidak lazim dalam konteks bahasa Prancis.
Misalnya saja Je suis froid(e) yang seharusnya J’ai froid untuk mengatakan saya kedinginan. Atau Je suis malade de tête yang seharusnya J’ai mal à la tête untuk mengatakan saya sakit kepala/ pusing.
Kesalahan lain yang sering muncul adalah pengabaian aturan penyesuaian antara subjek dan kata sifat atau partisip passé, maupun bentuk lainnya terkait dengan genre maskulin dan feminin, tunggal dan jamak. Misalnya Ma frère est gentille yang seharusnya Mon frère est gentil. Contoh lainnya Elles sont allé au marché seharusnya Elles sont allées au marché.
Mahasiswa kerap melakukan kesalahan dalam penggunaan artikel tertentu dan tak tentu (le, la, les, un, une, des) serta artikel partitif (du, de la, de l’). Kesalahan ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap jenis kata benda dan jumlahnya belum sepenuhnya dikuasai.
Penghilangan atau kesalahan dalam penulisan aksen (é, è, à, û, dll.) merupakan hal yang sangat sering terjadi, padahal aksen dapat mengubah arti kata. Selain itu, banyak mahasiswa juga belum konsisten dalam kapitalisasi, misalnya dalam penulisan les Français atau le mois de juillet.
Kesalahan-kesalahan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kurangnya usaha mahasiswa, melainkan menunjukkan bahwa pembelajaran menulis masih membutuhkan pendekatan yang lebih sistematis dan kontekstual. Penting bagi pengajar untuk terus memberikan umpan balik yang konstruktif, serta menyediakan model penulisan yang baik dan latihan intensif yang terarah.
Menulis dalam bahasa asing bukan perkara mudah. Namun, dengan pembiasaan, kesadaran akan kesalahan, dan refleksi terus-menerus, kemampuan ini dapat berkembang secara signifikan. Pembelajaran menulis seyogianya tidak hanya menekankan pada hasil akhir, tetapi juga menghargai proses berpikir dan berkembangnya kompetensi linguistik mahasiswa. []

Tinggalkan Komentar Anda