Opini

Catatan Pengalaman Haji Gufron Azis Fuadi: Dapat Cashback dan Jangan Sombong

Catatan Pengalaman Haji Gufron Azis Fuadi: Dapat Cashback dan Jangan Sombong

Gufron Azis Fuadi

Saat pertama pergi haji tahun 2006, kawasan Minna tempat para jamaah berkemah tiga hari untuk melempar jumrah setelah wukuf di Arafah dan mabit di Muzdalifah, sangat padat dan ramai.

Kata orang sana, ini karena haji tahun itu adalah haji Akbar. Di mana wukuf di Arafah tahun itu bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 9 Zulhijjah.

Disebut haji akbar karena hari itu bertepatan dengan bertemunya beberapa hal yang istimewa. Di mana istimewanya hari Arafah bertemu dengan istimewanya hari Jumat sebagai sayyidul ayyam.

Hari Arafah pada hari Jumat juga bertepatan dengan haji pertama dalam Islam, yaitu haji wada’ Rasulullah pada tahun 10 Hijriah.

Hari Arafah pada hari Jumat juga adalah hari diturunkannya ayat terakhir dalam Alquran, yaitu ayat 3 surat Al Maidah yang turun pada waktu setelah asar.

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Ali Imran: 3)

Di mana ayat tersebut menegaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna dan Islam-lah agama yang diridai Allah.

Kata para ulama, sesuatu yang istimewa bertemu dengan sesuatu yang istimewa lainnya maka akan melahir sesuatu yang lebih istimewa. Begitulah haji akbar.

Saya mempunyai beberapa kesan istimewa berhaji pada tahun itu.

Pertama, tentu ya haji akbar itu.

Kedua, rombongan kami termasuk dari rombongan haji reguler yang nekat untuk melaksanakan sunnah tarwiyah. Yakni dari Mekah tidak langsung ke Arafah tetapi lebih dulu mabit di Minna pada tanggal 8 Zulhijjah.

Karena umumnya jamaah haji reguler dari Indonesia, dari Mekah langsung menuju Arafah untuk persiapan wukuf keesokan harinya.

Untuk memutuskan boleh tarwiyah ke Mina, kami harus membuat surat pernyataan tidak akan menuntut bila terjadi sesuatu terhadap kami karena memutuskan untuk tarwiyah. Dan apa yang dikhawatirkan nyaris terjadi, yaitu hampir tidak ada bus yang menjemput kami untuk ke Arafah.

Akhirnya kami harus lari ke sana kemari untuk mencegat bus yang kosong dan bersedia mengantar ke Arafah, dan baru dapat menjelang dzuhur.

Ketiga, meskipun nyaris kesulitan untuk mendapatkan bus ke Arafah, kami terhindar dari kekurangan makan. Karena ternyata jamaah yang langsung ke Arafah, disana mengalami kesulitan makan dan tidak ada warung.

Sementara di Mina banyak warung makanan. Karena pada tahun itu ada miskomunikasi antara pihak Indonesia dengan Muasasah haji dalam hal katering. Sehingga selama Armina jatah makan kacau balau.

Tetapi dirombongan kami, karena pengalaman waktu tarwiyah sehingga memiliki ma’rifatul maidan yang cukup serta ada dalam rombongan kami yang pintar lobi dengan pihak dapur, sehingga setiap waktu makan kami selalu mendapatnya.

Meskipun untuk itu harus mengeluarkan rokok empat batang setiap mengambil katering.

Suap? Bukan, karena memang nasi kotak itu jatah atau hak kami, bukan punya orang lain. Ya paling ya nebuslah.

Ketiga, karena jatah katering yang sangat berantakan, bahkan sebuah televisi swasta Indonesia memberitakan jamaah haji Indonesia berebut makanan, lengkap dengan videonya, maka pemerintah memutuskan untuk memberikan cashback kepada setiap jamaah selama Armina, 15 kali makan dikali 15 riyal saudi per sekali makan. Lumayan!

Keempat, selain mendapat cashback katering 225 riyal saudi, kami juga mendapatkan cashback dari pemondokan yang kurang bagus dan agak jauh sebanyak 150 riyal saudi.

Dan akhirnya dari uang cashback dan ditambah dari uang saku, saya mengajak istri membelikan cincin di sekitar masjidil haram dan saya pakaikan di lantai atap masjid bertepatan dengan 6 Januari 2007, hari ulang tahun pernikahan kami.

Mengingat cincin kawin yang dulu saya berikan sudah lama lepas dari jari manisnya setelah diikhlaskan untuk Bosnia-Herzegovina.

Blas, ini aslinya tidak ada dalam pikiran, apalagi rencana. Qadarullah. Ini menjadi tajdid cinta kami di depan Kakbah!

Kelima, pada musim haji tahun itu dan kesempatan haji pertama kami, saya berkesempatan untuk mencium Hajar Aswad dan beberapa kali salat di Hijr Ismail.

Tanpa bantuan para calo mukimin tanah air. Kata kawan, kalau ditawari para mukimin, Hajar Aswad Hajar Aswad…, diam aja. Jangan bilang “tidak”, takutnya kata “tidak” ini menjadi doa yang diijabah.

Dan waktu itu saya ikuti. Suatu pagi setelah syuruq dan salat sunah isyraq di dinding Kakbah antara pintu Kakbah dengan pintu Hijr Ismail saya pamit sama istri untuk mencoba mencium Hajar Aswad serta meminta istri untuk menunggu di arah pintu nomor sekian.

Saat beringsut ke arah kiri sekitar depan Multazam ada orang dari daerah Maghribi ngajak bareng berkolaborasi untuk mencium Hajar Aswad.

Kemudian hanya hitungan menit kami bergerak sat-set-sat-set maka sampailah di tujuan. Kemudian saudara Maghribi ini mempersilakan saya duluan dan dia melindungi selanjutnya gantian saya yang melindungi.

Dari pengalaman ini saya punya beberapa tips untuk mencium Hajar Aswad, pertama pilih waktu yang agak sepi, meskipun pelataran Kakbah 24 jam ramai terus.

Waktu setelah syuruq termasuk waktu yang relatif sepi, karena itu adalah setelah waktu puncak para jama’ah di Masjidil Haram yang berkumpul sejak jam 2 atau 3 dinihari.

Kedua, waktu setelah isyraq juga adalah waktu jamaah mulai sarapan, ngopi, dan buang-buang sehingga mereka segera kembali ke hotel atau pemondokan.

Ketiga, jangan lupa berdoa kepada Allah swt dengan serius dan jelas/tegas bahwa kita berhajat mencium Hajar Aswad.

Saya pernah berdoa untuk mencium Hajar Aswad atau paling memegangnya. Maka yang terjadi saat kepala saya mau menunduk mencium Hajar Aswad langsung tergeser dan terdorong terus-menerus, sehingga akhirnya saya hanya bisa megang saja.

Ah… mungkin karena doa saya tadi tidak tegas antara mencium dan memegang.

Hajar Aswad adalah batuan surga yang pertama kali diberikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Adam saat membangun Kakbah yang berupa galian dan tumpukan batu.

Kemudian bergeser ke Jabal Abi Qubais saat terjadi banjir bandang kala nabi Nuh. Dan atas bantuan malaikat, Nabi Ibrahim mengambilnya dari jabal Qubais dan memasangnya di bagian Kakbah yang dibangunnya.

Keenam, haji waktu itu istimewa karena kami berangkat tahun 2006 dan baru pulang tahun 2007. Pergi pulang di pesawat mendapat, bukan kelas bisnis atau ekonomi, tapi kelas VIP.

Yang kata pramugari, ini kelasnya para menteri. Padahal kita, mantri pun bukan.

Mau bilang ini rezeki anak saleh, juga takut. Takut malah pulang nya “dihukum” Allah karena sombong, menjadi duduk di kelas ekonomi dekat toilet.

Karena dalam perjalanan haji, lebih lebih di tanah haram, seringkali perilaku sombong dibalas langsung.

Seperti salah satu anggota rombongan yang saat pulang ke pemondokan ditanya, tahu nggak jalannya?

Ah gampang kok, cuma belok kanan sama kiri sampai, jawabnya. Dan ternyata dia berputar berkali kali di sekitar pemondokan tetapi tidak bisa melihatnya.

Dan baru melihatnya setelah kelelahan, menyadari kesombongannya dan beristigfar, yang ternyata dia sudah berada di depan hotel pemondokan.

(Beberapa waktu yang lalu bertemu yang bersangkutan, dan tidak masalah bila saya tulis pengalaman tersebut).

Cerita dan kisah seperti itu banyak dan terjadi setiap tahun. Semoga kita bisa mengambil hikmahnya.

Setelah itu, Mekah berangsur angsur sepi. Jamaah haji plus dan jamaah gelombang pertama mulai kembali pulang sementara jamaah haji gelombang kedua berangsur-angsur pergi berziarah ke Madinah sebelum akhirnya pulang ke Tanah Air.

Wallahualam bissawab. [Gufron Azis Fuadi]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda