Opini

Patron Klien dalam Silaturahmi Hari Raya

Patron Klien dalam Silaturahmi Hari Raya

Gufron Azis Fuadi

Oleh Gufron Azis Fuadi

Saat Lebaran rumah para pejabat sering mengadakan open house yang didatangi oleh para pejabat dan staf di bawahnya. Begitupun rumah tokoh atau para sesepuh. Peristiwa ini menunjukkan budaya patron klien masih kuat pada masyarakat kita.

Hubungan patron-klien adalah hubungan timbal balik antara dua pihak yang memiliki perbedaan status sosial, kekuasaan, atau penghasilan. Patron berada dalam posisi yang lebih tinggi (superior) dan klien dalam posisi yang lebih rendah (inferior).

Istilah “patron” berasal dari ungkapan bahasa Spanyol yang secara etimologis berarti “seseorang yang memiliki kekuasaan (power), status, wewenang dan pengaruh”. Sedangkan klien berarti “bawahan”‘ atau orang yang diperintah.

Patron adalah pihak yang memiliki kekuasaan, status, wewenang, dan pengaruh. Sedangkan  klien adalah pihak yang akan memperoleh manfaat dari dukungan atau pengaruh patron.

Hubungan patron klien ini dapat terjadi dalam berbagai bidang baik politik, ekonomi maupun sosial.

Fenomena ramainya acara sungkeman atau open house para pejabat pemerintahan atau tokoh politik yang sedang menjabat pada Hari Raya adalah contoh betapa kuatnya budaya patron klien pada masyarakat kita. Memang terlihat agak feodal, karena memang budaya ini setidaknya sudah mentradisi sejak zaman Mangkunegara I (1757-1795).

Para pejabat bawahan atau staf yang mendatangi atasannya dan masyarakat yang mendatangi tokoh yang menjadi patron, karena beranggapan bahwa patron akan dapat membantu klien untuk meniti karirnya atau setidaknya bisa membantu melakukan pansos (panjat sosial) pada masyarakat umum. Selain tentunya untuk ngalap berkah dari patron keagamaan atau spiritual.

Jadi dapat dikatakan bahwa patron adalah orang yang berada dalam posisi dapat membantu klien-kliennya (Scott, 1983)

Dengan demikian, bila rumah seseorang masih ramai dikunjungi baik pada saat silaturahmi lebaran maupun hari lainnya bisa diartikan pemilik rumah tersebut masih memiliki manfaat untuk orang orang yang mendatanginya. Baik manfaat untuk jabatan karirnya, ekonominya maupun posisi sosialnya di masa depan.

Meskipun tidak semuanya begitu. Karena ada juga yang murni karena ikatan persaudaraan, persahabatan, ikatan spiritual seperti guru/ustaz dan murid atau karena pernah menjadi dermawan yang menolong dan membantu saat dulu mengalami kesusahan.

Meskipun tidak sedikit orang yang “tidak mau” silaturahmi ke rumah seseorang karena dirinya masih punya utang yang belum dibayar kepada orang tersebut sementara dirinya sudah memiliki barang atau alat transportasi yang harganya jauh di atas utang yang ditunggaknya.

Oleh karena itulah, bila seseorang sudah tidak lagi menduduki suatu jabatan biasanya menjadi lebih sepi dari sebelumnya. Karena tanda tangannya sudah tidak berlaku lagi dan ludahnya pun sudah tidak berasa “asin” lagi. Sudah anyep!

Secara umum memang seseorang mendatangi orang lain, karena dalam pandangannya, orang lain itu adalah prioritas yang akan mendatangkan keuntungan baginya. Maka para analis politik sering membuat analisa, bila si A nanti dilantik jadi presiden negara mana yang akan dikunjungi pertama kali.

Karena itu menunjukkan seberapa penting negata tersebut. Atau kalau didalam negeri, siapa tokoh politik yang akan ditemui. Karena itu menunjukkan derajat kepentingannya.

Jadi apakah bila seorang junior yang kita kenal tidak pernah mengunjungi kita sama dengan artinya kita tidak dianggap penting baginya? Bisa jadi!

Maka bersyukurlah bila para pensiunan atau para pinisepuh rumahnya masih sering dikunjungi. Bukan hanya karena ia masih dihormati atau  dikenang budi baiknya oleh para juniornya tetapi lebih dari itu, bahwa rumah yang masih didatangi tamu berarti rumah tersebut masih disambangi oleh malaikat rahmat. Sebagaimana pesan Rasulullah Saw kepada Ali bin Abi Thalib, menantunya:

“Wahai Ali, tidak akan masuk malaikat rahmat ke rumah yang di dalam rumah itu ada patung-patung atau berhala-berhala, atau ada anak yang durhaka pada orang tuanya, atau rumah itu tidak pernah dimasuki tamu.”

Rumah yang sering didatangi tamu dianggap lebih berkah karena mendatangkan rezeki dan rahmat.   Dan rumah yang tidak pernah ada tamunya sama dengan rumah yang tidak pernah didatangi malaikat rahmat.

Alkisah, ada seorang lelaki yang senang kedatangan tamu, namun istrinya menunjukkan sikap yang sebaliknya, mungkin karena capek membuat jamuan untuk tamunya.

Setiap kali mereka kedatangan tamu istrinya menunjukkan sikap yang tidak baik.

Kemudian orang itu mengadukan halnya kepada Rasulullah saw. Kemudian beliau berkata pada lelaki itu:

“Katakan kepada istrimu bahwa hari ini Rasulullah dan beberapa sahabatnya akan bertamu ke rumah kita.”

Rasulullah berpesan pada lelaki itu lagi, “Katakan kepada istrimu agar ia memperhatikan tamu pada saat keluar rumah.”

Istri lelaki itu melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah saw.

Pada saat tamu masuk, wanita itu melihat mereka membawa daging dan buah-buahan yang banyak dan pada saat keluar mereka membawa pulang ular dan kalajengking yang banyak.

Rasulullah saw bersabda: “Kedatangan tamu ke rumah mendatangkan karunia yang banyak ke dalam rumah dan pada saat mereka pergi mereka membawa keluar berbagai bencana.”

Sejak menyaksikan hal itu istri lelaki itu jadi senang menerima tamu. Begitulah manfaatnya kedatangan tamu.

Oleh karena itu Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلأخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

 

“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya.”

(HR Bukhari dan Muslim)

Bertamu dan menerima tamu merupakan bagian dari silaturahmi, suatu amalan sunah yang dianjurkan Rasulullah saw. Apalagi bila bertamunya bukan karena ada kepentingan. Tapi semata mata bersilaturahmi karena Allah swt.

Ini ada haditsnya lo, tapi panjang. Lain kali ya, atau cari sendiri. Wallahu a’lam bi shawab. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda