Edo Caniago

Oleh Edo Caniago, Mahasiswa Pendidikan Sejarah FKIP Unila
Beberapa hari terakhir, nama Miftah menonjol di tengah perbincangan hangat publik setelah pernyataannya yang dianggap mengejek tukang es viral di media sosial. Sosok yang dikenal sebagai pendakwah kondang ini tiba-tiba menuai kontroversi.
Perkataan yang dilontarkan oleh dirinya yang kelihatan sepele menjadi sorotan, dan memunculkan pertanyaan besar: apakah figur publik seperti Miftah harus lebih bijak dalam menyampaikan pendapatnya?
Menurut saya, Ini bukan sekadar masalah es teh atau pekerjaan tukang es teh. Lebih dari itu, menurut saya hal ini berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan pekerjaan sederhana dengan hormat.
Tidak peduli sederhananya sebuah profesi, tetaplah pekerjaan yang berharga ialah pekerjaan yang dilakukan dengan jujur. Semua orang yang ada di dunia ini, apakah itu tukang es teh atau pemuka agama, memiliki peran yang berbeda dalam menjalankan roda kehidupan masyarakat.
Menyinggung atau mencemooh pekerjaan yang dianggap rendah justru menunjukkan bahwa kita tidak peduli dengan perjuangan hidup orang lain.
Sebagai “tokoh agama”, Miftah seharusnya menjadi contoh dalam menghormati semua orang, termasuk mereka yang bekerja di sektor informal. Pernyataan yang merendahkan dapat meruntuhkan kepercayaan umat dan memudarkan makna ajaran yang dibawanya.
Dan ini menimbulkan pertanyaan di benak saya, Bukankah Islam mengajarkan kepada kita untuk menghormati setiap pekerjaan yang halal dan menguntungkan? Bagaimana kita sebagai orang awam dapat mempelajari moralitas jika seorang tokoh agama pun bisa lengah dalam berbicara?
Namun, perdebatan ini dapat berfungsi sebagai gambaran bagi kita semua. Apakah kita sebagai masyarakat terlalu cepat untuk membuat keputusan atau justru terlalu toleran?
Sangat wajar jika Miftah mendapat kritik atas ucapannya. Tetapi kritik itu harus disampaikan dengan cara yang konstruktif.
Sebaliknya, Miftah diharapkan dapat menerima kritik dengan hati terbuka dan belajar darinya.
Tokoh publik tidak hanya dinilai karena pencapaian mereka, tetapi juga karena seberapa bijak mereka memperlakukan setiap lapisan masyarakat.
Pada akhirnya, polemik ini menunjukkan betapa pentingnya menghormati orang lain dan tetap sederhana. Kita tidak pernah tahu tentang perjuangan di balik setiap pekerjaan kecil. Kehidupan akan lebih indah jika semua orang menghormati satu sama lain.
Meskipun Miftah mungkin telah salah dalam apa yang dia katakan, ucapan itu bisa menjadi inspirasi untuk meningkatkan rasa persaudaraan di tempat yang lebih baik daripada menambah jarak antara kelas sosial.
Karena menurut saya, seseorang yang bekerja apa pun itu tetaplah manusia yang berhak dihargai, mari kita jaga kehormatan ini bersama-sama. []

Tinggalkan Komentar Anda