Mareta Putria

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Mareta Putria @maretaputriaa pernah merasakan kegagalan dalam sebuah kompetisi yang ia mimpikan sukses di dalamnya. Namun, ia tak menyerah. Meski kecewa, mahasiswi Universitas Teknokrat Indonesia ini tak menyerah.
Seorang dosen kemudian menawarinya masuk sebuah agensi. Ia dididik dengan baik untuk menjadi model yang baik.
Mulai dari belajar catwalk, fotografi, table manner, dan lainnya. Pendek kata, Mareta disiapkan untuk sukses pada ajang yang lebih tinggi dalam lingkup beauty pageant.
Momentum itu datang pada pemilihan Muli-Mekhanai Lampung Selatan tahun 2024 yang baru lewat. Mareta mempersiapkan diri dengan baik.
Sebuah lembaga di lingkup pemerintah daerah kemudian menawarinya menjadi sponsor penuh dalam kontestasi itu. mareta mengiyakan. Ia tinggal membawa badan saja.
Semua keperluan sudah dipersiapkan. Dari mulai gaun, makeup, dan lainnya sudah dipersiapkan dengan baik.
Supaya tak mengecewakan, Mareta bersiap seratus persen. Porsi terbesar tentu saja isi otak alias kecerdasan. Sejumlah literatur ia baca.
Pengetahuan soal budaya dan pariwisata Lampung Selatan ia pahami dengan baik. Soal wicara publik, ia tak khawatir. Di agensi yang ia ikuti, semua sudah dilatih berjam-jam sampai mahir.
Demikian juga soal catwalk. Berjalan dengan sepatu berhak tinggi tak jadi soal.
Masa karantina juga ia lalui dengan baik. Tak ada kendala yang berarti.
Sampai tiba malam final, ia masuk 10 besar. Sebuah predikat disematkan kepada gadis cantik yang tinggal di Haduyang, Natar, Lampung Selatan, itu.
Ia didaulat menjadi Muli Intelegensia Lampung Selatan tahun 2024.
Orangtuanya senang. Sahabat dan kerabat juga berbahagia.
Dari lubuk terdalam hati Mareta, ia puas. Keikutsertaan dan kesuksesan masuk 10 besar buatnya adalah kesuksesan yang ia sendiri tak menyangka.
Rasa penasaran untuk berhasil pada bidang modeling ia torehkan dengan baik. Skupnya daerah pula.
Kepada wartalampung.id baru-baru ini, mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris semester lima ini, mengatakan, ajang itu jadi medan pembuktian. Pembuktian kalau ia bisa. Pembuktian kalau ia punya talenta dan potensi yang bisa dikembangkan.
Secara berseloroh Mareta bilang, ini jadi ajang unjuk dirinya kepada mereka yang selama ini punya pandangan sebelah mata kepadanya.
Namun, Mareta malah bersyukur. Ketidakpercayaan kepada dirinya justru menjadi titik balik dan motivasi tersendiri.
Baginya, berbuat dan sukses itu adalah lebih baik ketimbang sibuk menjawab banyak ketidakyakinan orang kepada dirinya selama ini.
Mareta memang tak marah kepada siapa pun. Ia hanya ingin bisa membuktikan kalau kerja keras dan cerdas diiringi doa dan dukungan orangtua, bisa mengantarkan dirinya sampai titik ini.
Bahkan, tak hanya di lingkup kabupaten. Meski bukan pemenang di lingkup Lampung Selatan, pihak kabupaten mempercayakan dirinya untuk ikut dalam kontestasi yang lebih tinggi: pemilihan Muli-Mekhanai Lampung tahun 2024.
Lantaran sudah percaya diri, Mareta mengikutinya dengan baik. Ia tak mau mengecewakan. Prestasi di tingkat provinsi ia torehkan. Lagi-lagi masuk 10 besar. Padahal, dari urutan peserta, gadis kelahiran 15 Maret 2004 ini ada di nomor nyaris buncit: 51.
Masa karantina dan bertemu para juara muli-mekhanai di tingkat kota/kabupaten, dijadikan ajang untuk memperbanyak relasi. Ilmu pengetahuan soal pageant dan kepribadian pun bertambah.
Mareta bersyukur, dari sini kepercayaan dirinya makin meningkat. Orangtua juga memberikan dukungan penuh. Kampusnya pun memberikan dispensasi saat ia membawa nama kampus pada ajang itu.
Sukses selalu, Mareta. [@adiansaputra27]

Tinggalkan Komentar Anda