Diskusi film di Unila. | Dede Maisin

Wartalampung.id, Bandar Lampung – A Man of Action adalah film yang menceritakan seorang kuli bangunan Lucio Urtubia. Lucio adalah seorang anarkis Spanyol yang tinggal di Prancis.
Ia melakukan perampokan di bank hingga melakukan pemalsuan uang dan cek.
Hendri Sihaloho, jurnalis konsentris.id, selaku pemantik diskusi film, di Unila, Jumat malam, 13/9/2024.
Ia mengungkapkan, dari kisah Lucio ini, ia menyamakan dengan keadaan saat ini yang terjadi baru-baru ini di Indonesia.
Ia menyinggung terkait peringatan darurat yang terjadi di bulan Agustus lalu. Termasuk beberapa aksi yang pernah dilakukan mahasiswa terkait mosi tidak percaya dengan pemerintah dan gelombang demonstrasi.
Hendri bilang ada tiga gelombang demontrasi besar dalam beberapa tahun terakhir. Tahun ini, tahun 2020, dan tahun 2019 bertajuk reformasi dikorupsi.
Haykal Rasyid dari Forum Literatur, mengungkapkan, film ini menunjukkan sikap kaum anarkis dalam melawan sistem yang terjadi.
Ia menambahkan, sikap anarkisme masih sering disalahartikan. Kata dia, sebelumnya, anarkisme sering disalahartikan sebagai hal-hal yang bernuansa deskruktif, chaos, tidak teratur, dan sebagainya.
Menurut Haykal, hal itu adalah kekeliruan atau ahistoris. Menurut Haykal, sejatinya anarkisme adalah sebuah filsafat politik yang menganjurkan terciptanya masyarakat tanpa negara.
Sebab, menurutnya, negara itu hanyalah otoritas sentral yang memaksakan kepatuhan warganya.
Ia menambahkan, film A Man of Action bisa dikontekstualisasikan dengan kondisi objektif gerakan rakyat. [Dede Maesin]

Tinggalkan Komentar Anda