Berita Foto Mancanegara

Mahasiswa KKN Internasional UIN Raden Intan Maknai Perjuangan Guru CLC Ladang Pontian Fico Sabah Malaysia

Mahasiswa KKN Internasional UIN Raden Intan Maknai Perjuangan Guru CLC Ladang Pontian Fico Sabah Malaysia

Mahasiswa KKN Internasional UIN Raden Intan di CLC Ladang Pontian Fico, Sabah, Malaysia. | Dokumentasi

Mahasiswa KKN Internasional UIN Raden Intan di CLC Ladang Pontian Fico, Sabah, Malaysia. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Sabah – KKN internasional merupakan salah satu program pengabdian kepada masyarakat meliputi wilayah lintas negara yang bertujuan untuk mengimplementasikan Tridharma Perguruan Tinggi dan mempererat hubungan persaudaraan antar negara serta memberikan dampak yang positif bagi lingkungan setempat.

Pada tahun ini sebanyak 17 mahasiswa UIN Raden Intan Lampung mengikuti program KKN internasional. Sebanyak 17 mahasiswa tersebut ditempatkan di CLC Ladang, Kota Kinabatangan, Sabah, Malaysia.

Mahasiswa terbagi menjadi 3 kelompok, CLC Jago Harmoni sebanyak 5 mahasiswa, CLC Pendirosa (6), dan CLC Pontian Fico (6).

Perjalanan menuju lokasi KKN kurang lebih selama 4 hari perjalanan, terhitung sejak keberangkatan pada tanggal 4 Agustus dan tiba di lokasi KKN masing-masing pada tanggal 7 Agustus sore hari.

Melalui perjalanan itu para mahasiswa mulai bisa merasakan bagaimana perjuangan para guru untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Setibanya di lokasi KKN, mereka disambut baik oleh pihak ladang dan masyarakat setempat.

“Selamat Datang di CLC Pontian Fico. Inilah tempat kami, terima kasih telah bersedia mengabdi di CLC Ladang Pontian Fico. Semoga dengan kehadiran teman-teman KKN bisa memberikan kontribusi yang positif bagi masyarakat setempat dan sukses melaksanakan program kerja KKN,” kata Ridho Kurniawan, guru pembina SMP CLC Pontian Fico.

Setelah beberapa hari menjalani aktivitas, barulah mahasiswa UIN Raden Intan menyaksikan dan merasakan bagaimana perjuangan para guru di sini.

Untuk kelas SMP hanya terdapat 1 ruangan di mana ruangan itu dibagi menjadi 3 kelas yaitu kelas 7, 8, dan 9 dengan jumlah siswa/i kurang lebih 40 orang.

Sedangkan untuk kelas SD terdapat beberapa ruangan di mana ruangan tersebut juga dibagi menjadi 3 kelas. Kelas 1, 2, dan 3 di pagi hari. Kemudian kelas 4, 5, dan 6 siang hari.

Ridho Kurniawan mengatakan, para guru harus bisa mengajarkan semua mata pelajaran. Karena guru SMP hanya sendiri, Ridho harus mengajar 3 kelas sekaligus dalam waktu yang bersamaan.

“Saya berikan materi ke salah satu kelas, kemudian saya beralih ke kelas yang lain,” ujarnya.

Akan tetapi, dengan semua keterbatasan itu tidak sedikitpun menyurutkan semangat para guru di sini untuk mendidik dan mencerdaskan generasi penerus bangsa.

Hal itu mengetuk hati mahasiswa KKN untuk memaksimalkan kinerja selama di sini.

Mahasiswa ingin memberikan dampak yang positif bagi masyarakat setempat dan mengobarkan api semangat siswa/siswi untuk menuntut ilmu agar menjadi generasi emas di masa mendatang. [Muhammad Ilham Saputra]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda