Samsudin. | Adpim

Waktu SMA sampai dengan pertengahan kuliah, saya dapat tugas mengurusi Remaja Islam Masjid Al Istiqomah, Kelurahan Tanjungagung, Tanjungkarang Timur, Bandar Lampung.Rumah saya sepelemparan batu dari masjid. Meski induk saya Kelurahan Kebonjeruk, sedari kecil memang banyak aktivitas di Masjid Istiqomah.
Aktif di Risma tentu saja sering mengadakan pengajian untuk remaja setempat juga mengundang bapak dan ibu di lingkungan masjid.
Mencari penceramah yang diminati semua kalangan sejujurnya memang sulit. Ada yang suaranya menggelegar tapi sulit dicerna para ibu.
Ada yang pelan dan khidmat tapi bikin ngantuk para bapak. Apalagi yang juga disukai anak-anak.
Suatu waktu kami mengadakan pengajian. Waktunya usai puncak Reformasi kala Presiden Suharto tumbang.
Referensi mencari penceramah dulu tak semudah sekarang yang ramai di media sosial. Salah satu andalan mencari referensi penceramah biasanya saya lihat dari koran Lampung Post tiap Jumat.
Koran yang nantinya tempat saya bekerja selama 10 tahun itu, saban Jumat, ada informasi khatib Jumat.
Saya dan teman-teman biasanya lihat informasi itu. kami punya beberapa ustaz kesukaan sehingga ikut salat di masjid dia bertugas saat jadi khatib. Informasi itu seingat saya diterbitkan Gerakan Mubalig Islam (GMI) Bandar Lampung.
Salah satu nama favorit adalah Samsudin. Seorang guru di SMA Al Kautsar. Lulusan FKIP Unila ini enak kalau ceramah.
Artikulasi suara mantap. Gelegar suara mencukupi. Humoris juga. Senyumnya selalu mengembang. Saya duga Ustaz Samsudin ini jarang marah.
Beberapa nama ustaz favorit saya waktu itu adalah mendiang Ketua Umum Dewan Dakwah Lampung Nazir Hasan, ketua Dewan Dakwah sekarang Mukhlis Sholihin, sahabat saya yang sudah jadi ketua KUA Yubsir Hasani, dan beberapa lainnya. Samsudin tentu berada di dalamnya.
Satu waktu kami punya acara. Pengajian umum untuk warga dan risma.
Karena belum pernah tampil di Masjid Istiqomah, Ustaz Samsudin kami pilih. Saya yang meneleponnya ke rumah. Alhamdulillah dia bersedia.
Ringkas redaksi, acara pengajian terlaksana dengan baik. Samsudin datang dengan mobil kecilnya, mirip Espass atau Suzuki Hijet. Warnanya krem sudah pudar.
Waktu itu penceramah yang punya kendaraan sendiri masih langka. Kebanyakan dijemput panitia. Tapi Samsudin datang sendiri.
Ceramahnya disukai. Ia juga bersalaman dengan hampir semua jamaah laki-laki. Saya masih tergambar senyumnya kala saya uluk terima kasih kepadanya.
Usai itu, relatif tak banyak bersua dengan guru SMA Al Kautsar ini. Tahun 2005 seingat saya, semasa Menpora Adhyaksa Dault, ia diminta ke pusat. Walhasil Ustaz Samsudin jadi pejabat di kementerian.
Waktu berjalan cepat. Staf ahli Menpora itu sering ke Lampung jika ada acara berkaitan dengan kementerian tempat dia bekerja. Salah satunya waktu pencanangan sport center di PKOR Way Halim. Samsudin datang mewakili menteri.
Usai Arinal Djunaidi lepas masa memerintah, Mendagri melantik Samsudin jadi penjabat gubernur Lampung. Saya ingin kasih selamat.
Selamat mengabdi Ustaz Samsudin. Kangen ceramahnya. Kali ini tentu istimewa.
Seorang gubernur menjadi penceramah. Semoga mampu mengemban amanah dengan baik. Semoga diberkahi Allah swt.
Salam dari saya Adian Saputra, anak Risma yang dulu pernah mengundang Ustaz berceramah di Masjid Al Istiqomah. [ADIAN SAPUTRA]

Tinggalkan Komentar Anda