Hindun Susilawati. | Dokumentasi

Oleh Hindun Susilawati (Penulis Lepas dan pegiat Sygma Learning Consultant)
Pemilihan umum (pemilu) merupakan proses demokratis untuk memilih wakil rakyat, pemimpin daerah, dan pemimpin negara secara langsung oleh warga negara. Pemilu merupakan mekanisme penting dalam sistem demokrasi modern yang memungkinkan rakyat berpatisipasi dalam menentukan pemimpin dan kebijakan negara.
Harapannya, pemilu dapat menciptakan sistem pemerintahan yang berdasarkan pada kehendak rakyat, menjaga prinsip-prinsip demokrasi, mendorong partisipasi politik warga negara, dan memastikan bahwa pemimpin yang terpilih mewakili kepentingan dan aspirasi masyarakat secara luas.
Namun, disayangkan, saat ini masyarakat kurang peduli pada proses itu. Menurut data BPS (Badan Pusat Statistik), derajat kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap proses pemilu cukup rendah.
Rata-rata skornya hanya sebesar 69,72 poin pada 2021. Masyarakat berpikir siapa pun pemimpinnya, semuanya sama.
Hal itu bisa jadi disebabkan karena kurangnya edukasi, atau masyarakat belum pernah menemukan pemimpin yang benar-benar mengayomi rakyat. Selama ini, pemimpin mendekati masyarakat bila ada kepentingan, sehingga masyarakat menganggap siapapun pemimpinnya rasanya sama saja kepemimpinannya.
Bukan hanya bingung memilih calon presiden dan wakil presiden saja, melainkan rakyat juga bingung menentukan banyaknya calon anggota legislatif.
Beberapa dekade ini, belum ada pemimpin negeri ini yang mencintai rakyatnya sehingga rakyat mencintainya. Semua yang berambisi dalam pemerintahan hanya memikirkan keuntungan pribadi.
Karenanya, rakyat kehilangan kepercayaan pada pejabat publik. Ketika salah satu anggota keluarga berhasil menjadi pejabat, anggota keluarga yang lain pun ikut dalam kontestasi pemilu.
Semua anggota keluarga ikut mendaftar sebagai calon anggota legislatif, maupun kepala daerah. Ironinya, terkadang mereka ikut dalam kontestasi tanpa memiliki kemampuan yang mumpuni.
Ketika masyarakat akhirnya memutuskan untuk memilih, mereka bingung sehingga memutuskan untuk memilih calon yang mampu memberikan materi banyak saat kampanye. Rakyat tidak melihat lagi kemampuan calon pemimpin. Hal ini sangat menyedihkan.
Banyak cara tidak sesuai dengan aturan yang digunakan untuk mendapatkan kedudukan. Seperti kasus pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh hakim konstitusi untuk meloloskan salah satu calon wakil presiden. Sungguh demokrasi di negara kita ini telah rusak.
Apakah kita nyaman dengan kondisi bangsa yang seperti ini? Haruskah kita diam, menutup mata, dan menerima semua yang tersaji di negara kita ini?
Tidakkah kita merasa gelisah dengan harga kebutuhan pokok yang meninggi tetapi tidak diimbangi dengan kenaikan penghasilan? Masyarakat mencari pekerjaan tidak mudah, hanya yang memiliki koneksi dan uang yang dapat membeli pekerjaan. Pada akhirnya, rakyat yang miskin terus mendapatkan ketidakadilan.
Di antara cara untuk mengetahui apakah seseorang layak menjadi pemimpin yakni dengan melihat aktivitas kesehariannya. Saat ini teknologi telah canggih, kita dapat melihat keseharian calon pemimpin melalui akun media sosial mereka.
Namun, kita harus berhati-hati, saat musim kampanye seperti ini bisa jadi yang ditampilkan di media sosial adalah pencitraan. Selain mengikuti media sosial calon pemimpin, hendaknya kita melihat rekam jejaknya keduanya dapat kita lihat di dunia maya.
Pilih pemimpin yang peduli pada kepentingan rakyat, cerdas, berprestasi, dan beretika. Selain itu, ia dapat mengendalikan diri dalam artian tidak mudah emosi, dan memiliki visi misi yang jelas.
Itulah pentingnya kegiatan kampanye dilakukan agar kita dapat mengenal calon pemimpin sebelum kita menentukan pilihan. Lihatlah aktivitasnya sebelum ia mencalonkan diri.
Orang yang tiba-tiba menjadi baik saat pencalonan padahal sebelumnya tidak baik, bisa jadi hanya pencitraan. Pemimpin yang tidak baik hanya ingin mengambil simpati masyarakat untuk mendapatkan suara saja.
Pemimpin yang berwawasan dan beretika dapat kita lihat dari bagaimana ia merespons setiap kritik dan saran. Ia tidak akan mudah emosi menanggapi hal-hal negatif tetapi ia akan memberikan solusi.
Bahkan fitnah dan nyinyiran akan dibalasnya dengan prestasi. Mari kita gunakan hak suara kita dengan baik. Satu suara kita amat berharga untuk masa depan anak cucu dan bangsa ini.
Bila kita berpikir bahwa siapa pun yang memimpin kondisinya sama saja, itu salah. Dengan berpikiran seperti itu, kita tidak peduli pada bangsa dan masa depan anak cucu.
Pemimpin yang tidak baik akan merusak tatanan bangsa. Ia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan kelompoknya. Mereka tidak memikirkan efek dari perbuatannya.
Pemimpin memiliki otoritas dan kewenangan dalam mengambil kebijakan. Pemimpin yang baik akan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan rakyatnya.
Bukan hanya kepentingan materi saja, melainkan juga kenyamanan dan kesejahteraan untuk rakyat. Sementara pemimpin yang tidak baik akan mengambil keputusan untuk memperkaya pribadi dan kelompoknya saja.
Mereka tidak memedulikan dampak negatif yang akan diterima oleh rakyat. Bahkan pemimpin yang egois akan menggunakan kekuasaan untuk menindas rakyatnya.
Pilihan kita menentukan keberlangsungan bangsa ini. Jangan karena jengah dengan kondisi saat ini, kemudian kita menjadi cuek dan tidak mau menggunakan hak suara.
Seharusnya rasa jengah dan kecewa menjadikan kita lebih peduli pada bangsa ini. Kita dapat memperbaiki bangsa ini dengan ikut andil memilih pemimpin yang baik.
Pelajari dengan baik dari semua calon pemimpin yang ada. Pilih yang akhlaknya baik.
Bila tidak ada calon yang menurut kita baik, pilihlah yang paling baik di antara yang buruk.
Bila kita rajin mengamati semua calon yang ada, pastinya kita akan cenderung pada salah satu calon. Manusia memiliki fitrah untuk menyukai hal-hal yang baik.
Hati kecil kita tidak dapat dibohongi. Ikuti kata hati. Jangan sampai akal sehat dan hati nurani kita tertutupi oleh kenikmatan sesaat.
Bila salah pilih, kita akan menderita selama lima tahun. Berbeda jika kita memiliki pemimpin yang memikirkan kepentingan rakyat, kebijakan yang diambil tentunya menyelamatkan rakyat.
Bukan hanya kesejahteraan, melainkan juga dalam hal pendidikan moral rakyat juga dipikirkannya.
Sebagai warga negara yang baik, mari kita gunakan hak pilih kita dengan baik. Kita pilih pemimpin dan anggota legislatif yang memiliki kepedulian kepada negara ini.
Kita ikuti masa kampanye ini untuk menentukan pilihan kita, dengan mengamati visi misi yang diusung masing-masing calon. Kita mencari tahu profil calon dan cari tahu rekam jejak calon. []

Tinggalkan Komentar Anda