Berita Foto Ruwajurai Bandar Lampung

Diskusi Film “Tandur” di Taman FISIP Unila, Maryono Cerita Nasib Petani Kota Baru

Diskusi Film “Tandur” di Taman FISIP Unila, Maryono Cerita Nasib Petani Kota Baru

Diskusi dan nobar film "Tandur". | Khoirunnisa

Diskusi dan nobar film “Tandur”. | Khoirunnisa

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Mahasiswa Pojok FISIP Unila menggelar nonton bareng film dokumenter bertajuk “Tandur” bersama mahasiswa dan masyarakat umum tadi malam di Taman kampus setempat.

Film ini dibuat kerja sama tiga lembaga yakni media massa konsentris.id, LBH Bandar Lampung, dan Walhi Lampung.

Pada acara tersebut, Maryono, pembicara sekaligus petani di Kota Baru, Lampung Selatan, menceritakan sedikit sejarah dari lahan itu.

Kata dia, pada 1955, lahan itu digarap oleh masyarakat. Kemudian Dinas Kehutanan Lampung Selatan membentuk kelompok untuk menanam kayu-kayuan seperti karet untuk jangka panjang.

Ia mengungkapkan, pada saat itu, status tanahnya register, tetapi bisa dibikin suporadik (surat pernyataan penguasaan fisik bidang tanah). Masyarakat juga tetap membayar pajak sampai saat ini.

Rangkaian tersebut bermula dari lahan yang masih hutan dan berubah menjadi lahan garapan. Masyarakat menggunakan lahan tersebut untuk kepentingan bertani. Lalu pemerintah dengan kebijakan mulai mengatur lahan tersebut.

Dijelaskan, pada saat itu, pemerintah mengganti uang kerahiman sebagai bentuk ganti rugi karena tanahnya diambil pemerintah. Namun, semakin ke sini, kebijakan berubah dan bertambah yang membuat para petani merasa dirugikan.

“Di Kota Baru bisa dilihat sekarang, lahan untuk petani semakin sedikit. Sudah banyak yang diambil alih oleh pemerintah untuk dijadikan infrastruktur bangunan,” kata dia.

Menurut Maryono, keputusan tersebut sangat disayangkan karena lahan yang biasanya digunakan untuk pertanian akan dibangun bangunan. Kata dia, itu berdampak tidak bagus untuk para petani.

Ia juga menyimpulkan, para petani merupakan pelaku utama pembangunan pertanian sekaligus produksi dan kemandirian pangan di Indonesia.

Di akhir sesi diskusi Maryono berpesan agar para petani lebih diperhatikan dengan memberi perlindungan lahan pertanian serta peningkatan teknologi dan inovasi yang modernisasi untuk meningkatkan hasil panen.

Kata Maryono, hal ini tentu memerlukan keterlibatan generasi muda dalam pertanian. Tujuannya, agar tidak terjadi penurunan jumlah petani dan berpotensi mengganggu ketahanan pangan.

Pemerintah, kata dia, beserta berbagai pihak, harus bekerja sama melalui program pelatihan dan pendidikan yang mendukung generasi muda untuk terlibat dalam pertanian yang berkelanjutan. [Khoirunnisa]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda