Mashabi. | Aulia Kartika

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Kemarau tahun ini disebabkan oleh perubahan iklim. Mitra Bentala selaku LSM yang bergerak dibidang lingkungan berpendapat bahwa, perubahan iklim terjadi karena beberapa faktor dari alam maupun ulah manusia.
“Perubahan iklim itu berarti terjadi karena efek rumah kaca yang menyebabkan lapisan ozon menjadi tipis hingga bolong-bolong, termasuk kejadian el nino,” terang Mashabi, manajer advokasi dan kajian Mitra Bentala, Selasa, 10/10/2023
Mashabi berpendapat, perubahan iklim yang terjadi saat ini berarti gas rumah kaca serta lapisan ozon yang sudah mulai menipis dan bolong-bolong. Selain itu, Mashabi juga mengungkapkan El Nino menyababkan uap yang biasanya terproses menjadi awan tidak terproses.
“Perubahan iklim berarti gas rumah kaca serta lapisan ozon yang sudah mulai menipis dan bolong-bolong, banyak faktor termasuk kejadian el nino ini. El nino kaitannya dengan naiknya permukaan air laut sehingga menyebabkan uap yang biasanya terproses menjadi tidak terproses dengan baik karena lapisan ozon yang mulai menipis,” lanjutnya.
Mashabi juga mengatakan, kekeringan terjadi karena degradasi lingkungan dan juga kurangnya semua pihak termasuk pemerintah dalam regulasi yang berkaitan dengan konservasi air.
“Perlu diketahui, kekeringan itu mestinya tidak terjadi karena memang terjadi degradasi lingkungan. Yang kedua, kurangnya semua pihak termasuk pemerintah terkait regulasi yang berkaitan dengan konservasi air. Masalahnya pengelolaan air hujan juga masih sangat minim,” kata dia.
Kemudian, penyebab kekeringan lingkungan selanjutnya yaitu minimnya pengetahuan masyarakat, serta kurangnya inisiatif pemerintah dalam membuat sumur resapan dan biopori.
Tanah yang seharusnya meresap air hujan, kata dia, tertutup oleh semen, paving, dan aspal. Ini menyebabkan, saat hujan terjadi banjir tanpa teresapnya air hujan ke tanah.
“Yang menjadi penyebab dari hal tersebut yaitu minimnya pengetahuan masyarakat, kemudian kalau di tingkat pemerintah yaitu kurangnya inisiatif pemerintah dalam membuat sumur resapan dan biopori. Ini menyebabkan saat hujan dua jam saja sudah terjadi banjir,” tambahnya.
Ia mengatakan, karena sumber air kita hanya hujan, ketika tanah tertutup, sumber air di sekitar menjadi berkurang. Hal ini sudah Mitra Bentala sampaikan kepada pemerintah.
Akan tetapi, tidak diindahkan. Ia juga berharap pemerintah untuk lebih memperhatikan keadaan lingkungan dan tidak bergantung pada LSM seperti Mitra Bentala.
Selain itu, berdasarkan hasil kajian yang dilakukan oleh Mitra Bentala, mereka juga sudah membuat biopori, yaitu di Langkapura, Kemiling, Kedaton, dan Tanjungseneng.
Titik-titik yang kekurangan air bersih yaitu kebanyakan di wilayah pesisir. Selain itu, Tanjungseneng, Kedaton, Telukbetung Selatan, dan Sukarame.
Masyarakat juga diharapkan dapat membuat biopori dan harus bijak dan hemat dalam menggunakan air. [Aulia Kartika]

Tinggalkan Komentar Anda