Dahlan

Oleh Dahlan (Sekretaris Jenderal Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Kutub)
Fenomena gangster motor di Bandar Lampung beberapa hari terakhir menjadi pemberitaan yang hangat di media cetak maupun media sosial. Aksi mereka meresahkan.
Tidak hanya berkonvoi keliling kota pada malam hari, tawuran, dan sebagainya, tetapi juga bertindak yang meresahkan masyarakat. Bisa dibayangkan siapa yang tak ngeri melihat segerombolan anak muda berkeliling kota dengan mengendarai sepeda motor, membawa senjata tajam, mengacung-acungkan golok bergerigi, celurit raksasa, dan sebagainya–seolah bersiap untuk berperang melawan musuh.
Seperti ramai diberitakan media massa, Polda Lampung menangkap 16 pemuda anggota gangster yang berencana tawuran (21/5) dini hari. Para pemuda yang diduga tergabung dalam kelompok gangster diamankan saat melakukan patroli Samapta Presisi, para pemuda yang berhasil ditangkap tersebut mengaku bahwa kelompok mereka akan bergabung dengan Kelompok Pusat Bersatu dan mencari lawan melakukan aksi tawuran.
Remaja yang tergabung dalam gangster umumnya adalah para remaja yang sedang dalam proses perkembangan, yaitu mengalami krisis identitas. Krisis identitas terjadi karena remaja mengalami konflik kepribadian antara yang dipersepsi dan yang dihadapi dari lingkungannya.
Ketika seseorang mempertanyakan jati diri mereka dan apa fungsi mereka ada di dunia ini. Remaja dalam hal ini yang sedang dalam masa analisis dan eksplorasi terkait perkembangan harga diri.
Identitas ini menjadi penting karena masa remaja menjadi tahap dari krisis identitas yang menempatkan mereka berada dalam kebingungan menentukan perspektif dan orientasi diri. Sekelompok remaja yang bergabung dalam geng motor tersebut tengah mencari identitas diri.
Dalam proses itu, mereka cenderung mengikuti kelompok yang dianggap sebagai kelompok yang ideal. Geng motor itulah yang menjadi kelompok ideal mereka.
Untuk mengantisipasi dan mengeliminasi agar ulah gangster motor tidak berkembang makin mencemaskan, mereka harus ditangani jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendek ini, pihak keamanan dan pemerintah setempat melakukan tindakan antisipatif dan represif terhadap kasus-kasus yang berpotensi menimbulkan kerawanan dan keresahan masyarakat yang disebabkan kelompok geng tersebut.
Ketika aksi yang dikembangkan para geng motor sudah melewati batas wilayah kriminal, tidak ada cara lain kecuali menangkap dan memproses mereka secara hukum.
Sementara itu, untuk jangka panjangnya, fungsi keluarga sebagai basis pendidikan dan pembinaan anak remaja perlu ditingkatkan lagi. Keluarga merupakan kunci pokok untuk mengatasi masalah geng motor.
Dan, setelah itu baru pihak pemerintah seperti lembaga-lembaga yang membidangi masalah keamanan dan lembaga pembinaan sosial. Peran keluarga menjadi sangat vital karena munculnya masalah geng motor bersumber dari anak yang keluar dari keluarga untuk pembentukan identitas diri dan sosial.
Keluarga yang rapuh menjadi ’sarang” utama kasus anak keluar dari rumah. Apakah keluarga sudah menjadi role model perkembangan anak?
Selain itu, komunikasi yang positif dan intensif dilakukan oleh orang tua dan anak dan anggota keluarga lainnya dengan baik. Persoalan anak yang mengalami krisis identitas tidak akan sampai keluar dari keluarga manakala keluarga memberikan jaminan akan ketenangan dan terselesaikannya konflik dan krisis identitas.
Orang tua perlu mengarahkan anaknya untuk mengikuti kegiatan positif, seperti olahraga, seni atau musik, atau kegiatan lain yang mengembangkan kepribadian positif. Apabila susah mengubah perilaku, anak untuk sementara dipindahkan ke lingkungan atau circle lain.
Dan, dipastikan tidak menjalin hubungan dengan kelompok yang menjadi referensinya saat ini. Tentu dengan tetap mendapatkan pengawasan dari keluarga.
Mengatasi gangster memang tidak mungkin dilakukan hanya melalui pendekatan yang instan. Kembali pada peran keluarga sebagai lembaga sosial yang menjadi habitus anak-anak tumbuh dan berkembang untuk mempelajari nilai dan norma sosial.
Cara tersebut adalah solusi yang paling efektif untuk mencegah agar anak-anak kita tidak terkontaminasi pengaruh buruk peer group-nya. []
