Berita Foto Opini

Opini: Fenomena Jilbab di Kampus Islam, Pakai di Dalam Lepas di Luar

Opini: Fenomena Jilbab di Kampus Islam, Pakai di Dalam Lepas di Luar

Jilbab. | Dokumentasi

Jilbab. | Dokumentasi

Oleh Salsabilla Nabilla Anastasya, Mahasiswi UIN Raden Intan Lampung

Universitas Islam Negeri (UIN) merupakan suatu universitas yag dalam kesehariannya dibalut dengan kebiasaan Islam yang begitu kental. Menjadi wadah bagi para generasi muda dalam menjadikan diri berakhlakul karimah.

Wadah yang dipercayai umat untuk memperbaiki moral generasi bangsa Indonesia. Biasanya ini dijadikan alternatif bagi alumni pondok pesantren dalam melanjutkan pendidikan.

Beberapa dari mereka beralasan bahwa tidak ingin keluar dari jalur syariat Islam yang sudah dibiasakan di pondok pesantren. Tapi tidak semua seperti itu.

Nyatanya, misal, dalam salah satu kelas di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Raden Intan Lampung, hanya ada satu alumni pondok pesantren dan tiga alumni MA. Selebihnya berasal SMA atau SMK yang dalam satu kelasnya berjumlah 39 mahasiswa. Ini sangat berbanding terbalik dengan stereotip yang beredar di masyarakat.

Ada beberapa aturan berpakaian yang sudah menjadi rahasia umum bagi para mahasiswa UIN. Salah satunya berjilbab. Itu wajib hukumnya karena sudah jelas dari namanya universitas Islam.

Seratus persen mahasiswanya beragama Islam. Tapi tidak jarang beberapa mahasiswi UIN hanya memakai jilbab saat sedang berkuliah.

Begitu sudah tidak di lingkungan kampus, bagai burung yang lepas dari sangkarnya. Mereka dengan bebas membuka jilbabnya.

Padahal mereka sendiri tahu hukumnya memakai jilbab itu apa. Bukan sebagai mahasiswi UIN, melainkan sebagai wanita muslimah. Mereka tahu hukumnya.

Mereka tahu akibatnya yang akan berdampak pada ayah serta saudara laki laki mereka. Itu tidak juga menjadikan kesadaran pada diri mereka. Merasa bangga mengunggah fotonya di akun sosial media.

Jika memang pada dasarnya tidak mau memakai jilbab sebagai atribut wajib saat pergi ke kampus, mengapa beberapa dari mereka memilih UIN? Mengapa tidak memilih universitas umum saja yang dalam kesehariannya dibebaskan dalam berpakaian?

Tidak diterima di kampus yang diinginkan, menjadi salah satu alasan mereka berkuliah di UIN. Universitas umum membuka pendaftaran lebih dulu ketimbang UIN. Juga pendaftaran mandiri yang memiliki dua gelombang membuat banyak dari mereka menjadikan UIN pilihan kesekian.

Tidak adanya kemantapan pada hati mereka untuk berkuliah di UIN menjadikan mereka susah berinteraksi dengan lingkungannya. Beradaptasi dengan lingkungan baru terlebih beberapa dari mereka merupakan pendatang.

Masyarakat sendiri menaruh harapan yang besar pada universitas Islam. Menghadirkan stereotip bahwa lulusan UIN sudah pasti bisa mengaji, tilawah, dakwah, dan segala hal yang berhubungan dengan Islam.

Masyarakat sendiri harus diberi pemahaman bahwa universitas Islam sendiri memiliki bagian-bagiannya lagi. Minimnya pemahaman masyarakat tentang universitas Islam menjadi salah satu hal yang harus kita tanggulangi.

Universitas Islam ini sudah maju di dalamnya terdapat berbagai macam program studi tidak hanya berhubungan dengan Islam, tetapi sains dan teknologi. Pihak universitas harusnya lebih gencar dalam mensosialisasikan kampusnya.

Penanaman karakter menjadi pekerjaan besar bagi para pemangku kepentingan di universitas Islam. Memberikan kajian-kajian kepada mahasiswa menjadi alternatif.

Jika masih ada fenomena ini, artinya sedikit sekali kesadaran dan karakter yang tertanam di dalam diri para mahasiswi tersebut. Harus dibuat mata kuliah wajib sebagai salah satu upaya mensosialisasikan wajibnya berhijab. Bukan sebagai mahasiswi universitas Islam, melainkan sebagai muslimah. []

Foto pinjam dari sini

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda