Opini

Opini: Piala Dunia dan Sepak Bola Asia

Opini: Piala Dunia dan Sepak Bola Asia

Gino Vanollie. | Dokumentasi

Gino Vanollie. | Dokumentasi

Oleh Gino Vanollie, Pemerhati Sepak Bola

Setelah melalui babak 16 besar yang begitu seru dan menegangkan, 8 tim berhasil lolos untuk melangkah ke bapak perempat final. Benua Eropa mendominasi dengan 5 wakilnya yaitu Belanda,  Prancis, Inggris, finalis 2018 Kroasia dan terakhir Portugal. Benua Amerika diwakili Argentina, dan Brasil, sedangkan Afrika menyisakan Maroko, yang tampil luar biasa dan berhasil memulangkan Spanyol. Tak ada satu pun wakil dari Asia.

Sebagian besar tim yang lolos sesuai prediksi dari awal yaitu tim tim unggulan yang miliki rekam jejak luar biasa. Jepang yang tampil luar biasa di babak fase group dengan mengalahkan 2 tim langganan Juara Dunia Jerman dan Spanyol, harus menerima kekalahan menyakitkan dari Kroasia melalui babak adu penalti.

Tidak adanya wakil Asia di babak 8 besar tentu menyedihkan. Australia yang sejak 2004 sudah bergabung di Asia juga bernasib sama dengan Jepang.

Nihilnya wakil Asia di babak perempat final layak untuk ditelisik lebih dalam. Dalam gelaran Piala Dunia yang terdahulu, memang prestasi tim tim Asia belum mampu menyaingi prestasi tim Eropa,  Amerika, dan Afrika. Walaupun begitu, beberapa Tim Asia mampu membuat kejutan.

Korsel pada saat menjadi tuan rumah gelaran Piala Dunia 2002, mampu tampil menggebrak dan berhasil melangkah jauh hingga babak semifinal. Selebihnya tim-tim Asia memang lebih banyak tereliminasi di fase grup.

Tentu ada beberapa faktor yang membuat tim tim Asia sulit menembus dominasi Eropa, Amerika dan Afrika. Pertama, dari segi fisik secara umum tim Asia tertinggal, kalah bersaing dengan tim dari benua lainnya. Rata rata tinggi pemain Asia terpaut jauh dengan mereka. Hal ini terlihat sangat nyata saat Jepang berhadapan dengan Kroasia. Tampak pemain pemain Samurai Biru sulit bersaing di perebutan bola-bola atas.

Kedua, tradisi dan kultur  bola. Perlu dicatat bahwa olahraga sepak bola lahir di Inggris, sehingga lebih dulu berkembang di Eropa, kemudian menyebar ke Amerika, ke Afrika baru kemudian dibawa oleh para penjajah Eropa sampai ke Asia. Wajar kalau sepakbola Asia relatif masih tertinggal.

Ketiga faktor penerapan sport science. Pengembangan ilmu dan teknologi dalam olahraga khususnya sepakbola, di Eropa dan Amerika sudah jauh lebih maju dan unggul. Penerapan sport science sudah menjadi standart dan tradisi dalam pencarian bakat, pengembangan fisik, skill,  teknik, taktik dan strategi serta analisis pertandingan.

Sementara di Asia baru beberapa negara yang sudah menerapkannya, tetapi secara umum nampaknya belum menjadi prioritas. Afrika walau agak tertinggal dalam pengembangan sport science, tapi memiliki keunggulan komparatif dalam hal bakat alam, fisik dan juga terpaan alam yang keras.

Keberhasilan Maroko menembus babak perempat final, tidak bisa dilepaskan dari usaha mereka untuk mengambil jalan “pintas” dengan begitu banyak menaturalisasi pemain pemain Eropa. Kita tahu, hampir sebagian besar skuat inti timnas Maroko adalah pemain naturalisasi.

Keempat adalah faktor iklim kompetisi. Kualitas kompetisi Eropa, Amerika dan juga Afrika relatif lebih baik dan berkualitas dibanding kompetisi yang ada di negara negara Asia. Benar bahwa beberapa negara Asia seperti Iran, Jepang, Arab Saudi, Korsel, Ubekistan dan juga Qatar sudah mampu menjalankan kompetisi domestik secara baik, tetapi sebagian besar negara Asia lainnya masih relatif tertinggal.

Kelima, tentu keberadaan pelatih berkualitas dan potensi pemain yang berlimpah. Di Eropa , Amerika dan Afrika ketersediaan pelatih berkualitas berlimpah. Tidak sulit mencari pelatih berkualitas sesuai kualifikasi yang dibutuhkan.

Sementara di Asia nampaknya justru sebaliknya. Terbukti hampir semua timnas dan klub klub terbaik di Asia dilatih oleh pelatih dari Eropa maupun Amerika. Sebuah fakta yang nyaris tak terbantahkan.

Selain itu, jumlah pemain sepakbola Eropa, Amerika dan juga Afrika begitu berlimpah. Kompetisi di beberapa negara sampai level 4 bahkan 5. Pembinaan usia dini mereka juga sudah berjalan dengan sangat baik, karena setiap klub punya kewajiban membina tim usia dini melalui akademi klub masing masing.

Selain faktor faktor diatas, keberadaan federasi yang menaungi persepakbolaan telah mampu mengelola olahraga ini secara profesional. Infrastruktur sepakbola khususnya lapangan dan segala kelengkapan pendukungnya, di negara negara Eropa dan Amerika relatif lebih maju, merata, dan berkualitas. Wasit dan perangkat pertandingan memiliki kualifikasi dan  profesional tinggi.

Betul, beberapa kasus terkait pengaturan skor, pengaturan pertandingan  yang melibatkan mafia bola baik di Eropa maupun Amerika juga masih ditemukan, tapi tidak separah di Asia, apalagi Asia Tenggara d imana Timnas Indonesia berada. Asia Tenggara masih tertinggal jauh.

Yang juga tidak kalah penting adalah di Eropa dan juga Amerika, sepak bola telah menjadi industri yang berkembang begitu pesat dan modern, dengan akumulasi modal dan finansial yang luar biasa besar dan mampu di kelola secara baik dan profesional, di semua level kompetisi.

Hal demikian secara umum tidak kita temukan di Asia. Jepang,  Korsel, dan beberapa negara Teluk sudah mampu menjalankan kompetisi dengan baik, tetapi sebagian besar yang lain belum. Kualitas  kompetisi di Asia masih belum merata.

Dengan demikian, selain masih banyak faktor penting yang harus secara simultan dibenahi, Asia jika ingin bersaing dan melangkah lebih jauh di gelaran Piala Dunia, memang harus banyak berbenah secara cepat dan menyeluruh. Tidak boleh parsial dan sepotong potong. Pembenahan sepak bola Asia harus revolusioner di segala bidang.

Kenapa demikian, karena terbukti apa yang telah dilakukan selama ini, tidak mampu membuat Asia bersaing secara baik.

AFC bersama federasi sepak bola di setiap negara Asia harus mau mereformasi ulang grand design pengembangan dan pembinaan sepakbolanya. Asia harus bisa tampil dengan  mengedepankan dan mengoptimalkan “aspek unggul” yang tidak dimiliki Eropa, Amerika maupun Afrika.

Karakter khas Asia cepat, ngotot dan ngeyel, dengan determinasi tinggi harus secara efektif terus ditingkatkan dan dioptimalkan. Selama tim tim Asia mengikuti gaya Eropa, gaya Amerika atau meniru gaya Afrika, yakin dan pasti akan sulit melampaui mereka. Kita harus jadi trend setter bagi diri kita sendiri, jangan lagi jadi follower mereka.

Bahwa kita harus banyak belajar ke Eropa, Amerika dan mungkin Afrika bukan persoalan bahkan harus, semata mata untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman. Sebanyak mungkin pemain pemain Asia bermain di benua lain malah lebih bagus, supaya visi dan kualitas permainan menjadi lebih baik. Yang nantinya diramu menjadi satu dengan karakter Asia menjadi satu kekuatan dan keunggulan yang dahsyat.

Untuk bisa menemukan gen asli, original, sepakbola unggul khas Asia, tentu membutuhkan pengembangan sport science yang maju di dunia sepakbola Asia. Tentu ini tidak mudah, namun mesti segera dimulai.

Dengan demikian,  pengembangan sepakbola Asia berbasis sport science adalah sebuah keniscayaan, yang pada gilirannya kita bisa berharap tim tim Asia mampu tampil orisinal dengan karakteristik khas Asia untuk melangkah jauh bahkan merajai persepakbolaan dunia. Semoga!

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda