Opini

Opini: Wujud Konservasi dengan Pewarna Alami

Opini: Wujud Konservasi dengan Pewarna Alami

Rasuane Noor

Rasuane Noor

Oleh Rasuane Noor, Mahasiswa Program Studi Doktor Biologi UGM/Dosen Universitas Muhammadiyah Metro

Dalam suasana peringatan Hari Konservasi Kehidupan Liar Sedunia setiap tanggal 4 Desember, hari yang selalu kita untuk mengingatkan begitu pentingnya dalam manajemen terhadap alam dan lingkungan secara bijaksana untuk melindungi tanaman dan binatang. Banyak cerita tentang tumbuhan dan hewan yang punah, dan lebih titik beratnya terancam punah.

Oleh sebab itu, kita harus selalu dan sedini mungkin untuk mencapkan kuat akar dan tumbuh kembang dalam konservasi pada generasi muda. Seharusnya sejak sekolah dasar sudah mempatrikan kepada anak-anak untuk budaya konservasi alam.

Selanjutnya kepada anak muda untuk terus menerapkan budaya konservasi. Sebagai pemegang masa depan, generasi muda mesti berpegang teguh pada tradisi yang merupakan jati diri bangsa.

Karena masa depan adalah kekuatan masa lalu yang bersumber dari warisan leluhur Nusantara yang mengandung nilai-nilai budaya yang luhur. Kekayaan warna alam Indonesia lekat dengan tradisi dan mesti lestari. Terus bertumbuh kembang agar jati diri bangsa tak lekang namun kian mengakar kuat.

Pembelajaran sejak dini dengan harapan dengan berbagi suatu kebaikan dan menjauhi keburukan sedini mungkin yang nantinya akan terpatri menjadi kebiasaan pada anak-anak hingga dewasa bahkan sampai akhir hayat. Kebiasaan baik apa itu?

Dalam artikel ini berkaitan dengan penggunaan pewarna alami. Jika bicara warna, hal ini tentu berkaitan dengan keindahan, jika dunia ini tidak berwarna maka dunia ini tidak akan indah. Iya betul, bisa dibayangkan jika tidak ada warna? Seperti contoh bagaimana jika kita menonton TV dengan warna hitam putih dibandingkan dengan  TV berwarna, dari hal tersebut akan berbeda jelas ya.

Tapi hitam putih juga itu adalah warna juga ya? Intinya hidup ini berwarna dan mari kita beri warna-warna dengan kebaikan. Nah terkait warna, orang tua sudah mulai mengenalkan berbagai warna kepada anaknya sejak bayi, berbagai warna dari mainan dan sebagainya yang ada di sekitarnya, dengan tujuan dikenalkan untuk merangsang perkembangan anak itu sendiri.

Masa balita, anak-anak dikenalkan melalui hapalan, nyanyian dan sebagainya tentang warna, kita sudah tau lagu-lagu anak anak tentang warna-warna, di antaranya lagu yang sudah populer dan tidak asing lagi didengar oleh siapa pun.

Berikut contoh sepenggal liriknya “pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru”, “balonku ada lima, rupa-rupa warnanya, hijau, kuning, kelabu, ,merah muda dan biru”.  Masih banyak lagu-lagu lain yang tentang warna. 

Belajar tentang warna dan menggunakan pewarna sejak anak mulai belajar menulis, baik di sekolah (kober, Paud, TK dan SD) sudah dikenalkan bahkan menjadi keseharian anak-anak tersebut. Namun dampak apa yang mengintai anak anak tersebut yaitu efek negatif dari pewarna tersebut.

Banyak kasus  yang terjadi dari efek atau dampak penggunaan pewarna sintetik/ pewarna kimia. Penggunaan pewarna sintetik/ pewarna kimia di masyarakat hampir di berbagai produk seperti cat, tektil, makanan dan produk-produk lainnya. Sudah banyak artikel membahas tentang bahaya penggunaan pewarna sintetik/pewarna kimia. 

Sejak lama pewarna sentetis/kimia  sudah digunakan di industri-industri  cat, kertas dan tekstil namun sampai saat ini penyalahgunaan dan pengunaan berlebih atau sering berulang-ulang  dapat memberikan efek fatal terhadap kesehatan dan lingkungan.

Pada anak akan mengganggu tumbuh kembang anak bahkan dapat menyebabkan kanker. Untuk di alam pewarna sintetik tidak mudah terdegradasi atau terurai yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan.  

Lalu solusinya untuk menggantikan pewarna kimia adalah menggunakan pewarna alami yang banyak dan merimpah ruah di alam Indonesia. Saat ini pewarna alami kembali banyak digunakan di industri makanan, farmasi, tekstil, fashion, kosmetik dan kesehatan.

Pewarna alami memiliki banyak manfaat terutama dari segi keamanan, dapat terurai secara hayati dan dapat mengantikan yang sintetis.  Hal ini sejalan dengan tujuan global dalam menjaga bumi kita dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB)/ Sustainable Development Goals (SDGs) yang dilakukan dengan banyak slogan di antaranya back to nature, go green, dan eco green.

Tak hanya itu, penggunaan kembali pewarna alami sejalan dengan isu SDGs. Pewarna alami dari alam yang sangat sustainable sehingga tidak meninggalkan limbah yang mengotori bumi.

Penggunaan pewarna alami tidak hanya dalam misi penyelamatan lingkungan, peningkatan kesehatan dan kesejahteraan, tetapi juga dalam pelestarian alam, tradisi dan budaya dan misi edukasi.

Pewarna alami banyak di dapat dari tumbuh-tumbuhan tetapi juga dari hewan di antaranya warna hitam yang didapat dari tinta cumi-cumi, ungu dari teripang dan hijau dari rumput laut. Selain itu juga dapat menggunakan bahan dari lumpur/tanah dan batuan. 

Pada tumbuhan, bagian yang mengandung pewarna terdapat dari daun, bunga, buah, kulit buah, kayu, kulit kayu, dan akar serta bagian lainnya dapat memberikan warna.  Pewarna alami sudah lama digunakan di Indonesia selain pada pewarna makanan yang paling jelas pada tradisi membatik yang merupakan budaya leluhur Nusantara.

Saat ini bahan pewarna sintetis yang banyak digunakan sebagai pewarna batik sudah mulai beralih ke pewarna alami yang mana melalui Balai Besar Batik dan Kerajinan sudah diteliti dan dikembangkan secara luas beragam jenis tumbuhan penghasil warna alam. 

Jika berbicara tentang pewarna alami sangatlah panjang dan lebar. Indonesia negara megadeversitas yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Dari dahulu sudah biasa menggunakan pewarna alami yang digunakan sebagai bahan pewarna pakaian, rumah tangga, dan pewarna makanan.

Akan tetapi dengan berkembangnya teknologi tergerus oleh penggunaan pewarna sintetik. Di mana pewarna sintetis memiliki efek negatif yang fatal. Oleh sebab itu, revitalisasi dengan slogan back to nature (kembali ke alami) harus digalakkan kembali dimulai dari sejak usia dini.  

Generasi muda harus mengenal ragam jenis sumber pewarnaan alam yang berlimpah di Indonesia. Pengenalan pewarnaan alam yang paling baik adalah kepada anak-anak sejak usia dini  di sekolah Kober, PAUD, TK dan SD. 

Kegiatan dimulai dari mengenal berbagai warna sampai mengaplikasikan pewarna alami melalui kegiatan mewarnai dan melukis atau hanya corat coret saja. Mengenalkan dan menggunakan pewarna-pewarna alami di kegiatan sekolah, dari jenis tumbuhannya, bagian tumbuhan yang penghasil pewarnanya, memanen pewarnanya, dan mengaplikasi pewarna tersebut dalam kegiatan belajar.

Kegiatan dalam melukis dan menggambar di sekolah dengan mengenalkan dan membiasakan siswa untuk menggunakan pewarna alami yaitu dari berbagai tumbuhan pewarna yang ada di sekitar kita yang melimpah. Penerapkan pembelajaran tentang pewarna alami  dari pengenalan, penggunaan dan pencegahan terhadap pengggunaan pewarna sintetis.

Anak-anak diajarkan tentang ciri-ciri dan bahaya dari pewarna sintetis baik dari berbagai produk terutama produk pewarna pada makanan. Anak-anak dikenalkan macam-macam pewarna alami, keuntungan dan sumber dari pewarna alami. Dari membiasakan dengan yang alami dan mencegah yang berbahaya dari usia dini, di situ juga akan mencegah munculnya masalah atau efek ke masa depan generasi muda kita.

Sedini mungkin menjauhi bahan bahan kimia berbahaya bagi kehidupan dan menggantinya dengan yang alami. Selanjutnya bagi pihak pemegang kepentingan untuk pewarna sinetitis/kimia berbahaya tidak digunakan lagi atau dilarang beredar, pengawasan lebih ketat, karena tidak memberikan manfaat kesehatan malah berefek negatif, demi masa depan penerus bangsa. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda