Berita Foto Kacamata Adian

Antoni Imam, Adipati Tanpa Upeti

Antoni Imam, Adipati Tanpa Upeti

Antoni Imam | ist

Antoni Imam | ist

RAHMAT Sudirman, redaktur politik Lampung Post, tiba-tiba memanggil saya. Meja kerja Rahmat persis di belakang meja kerja saya. Saya masih di korektor bahasa kala itu, sekira tahun 2005. Itu tepat setahun saya bekerja di kantor harian tertua di Lampung itu. Saya menghabiskan 10 tahun bekerja di surat kabar ini.

Mas Rahmat, demikian biasa disapa, memang kadang demikian. Kalau ada yang menarik, ia mengajak saya ngobrol. Saya berdiri persis di samping kursinya.

“Gila ini, Antoni Imam. Sederhana banget, dan ternyata mantan petinju.”

Begitu kata Rahmat Sudirman. Gila yang dimaksud tentu bukan dalam artian yang sesungguhnya. Kata itu semacam penegasan dari rasa salut kepada seseorang.

Antoni Imam yang ia maksud adalah anggota DPRD Lampung Selatan. Rahmat salut dengan kesederhanaan Antoni Imam. Apalagi ia mantan petinju dan pelari tingkat provinsi.

Saya bertemu muka dengan Antoni Imam pada 2019. Saya mengisi pelatihan jurnalistik yang diadakan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Lampung di Rumah Aspirasi Antoni Imam di Sidomulyo.

Itulah pertama kali saya bersua dengan Antoni Imam. Kami berpelukan hangat layaknya dua sahabat yang lama tak ketemu. Saya bilang, akhirnya bisa ketemu dengan beliau. Ia pun menyapa dengan nada sama.

“Sering dengar nama dan baca beritanya, baru ini ketemu Mas Adian.”

Soal saya menelepon Antoni Imam dan mengirim pesan di Facebook beberapa kali, saya lakukan untuk keperluan pemberitaan.

Sebelum saya mengisi acara, Antoni Imam memberi sambutan. Di situ ia kembali bercerita soal masa lalunya yang petinju dan pelari.

Saya terkesima dengannya. Rumah Aspirasinya saban hari ramai. Ada saja kegiatan yang ditaja di tempat ini. Ibu-ibu pengajian, anak-anak muda, sampai mereka yang sekadar mau mancing dan senam.

Halaman belakang rumah ini luas, kira-kira seperempat lapangan sepak bola. Ada kolamnya pula. Tiap sore sembarang orang datang dan memancing.

Baca: Mobil Mogok dan Sopir Hujan-Hujanan, Antoni Imam Pakai Kresek Tutupi Kepala

Ada musala dengan dua kamar mandi yang bersih di sini. Di sampingnya ada rumah mungil untuk tamu yang hendak bermalam.

Rumah Aspirasi Antoni Imam sederhana. Temboknya bata merah. Gazebonya yang lumayan luas. Saya menyebutnya pesanggrahan. Ruang itu bisa menampung seratusan orang untuk berkegiatan.

Tiap usai kegiatan, semua peserta pasti makan. Lauknya lengkap dan mewah. Ada nasi putih, sambel, ikan teri asin, sayur asem, dan kerupuk.

Siapa yang mendanai makan siang kala ada kegiatan itu? Ya benar, uang dari kantong Antoni Imam sendiri. Orang ini dua periode di DPRD Lampung Selatan, hasil pemilu 2004 dan 2009.

Pada 2009, alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung itu didapuk jadi Wakil Ketua DPRD Lampung Selatan.

Setahun kemudian, 2010, Antoni Imam ikutan pilkada. Gandengan dengan petahana Bupati Wendy Melfa, keduanya diusung Partai Golkar dan PKS. Sayang, mereka kandas. Kalah oleh Rycko Menoza dan Eki Setyanto.

Antoni Imam juga dua periode di DPRD Lampung hasil pemilu 2014 dan 2019. Sayang, periode 2019-2024 tak dirampungkan. Antoni Imam mesti mundur karena ikut Pilkada (lagi) 9 Desember 2020. Tempatnya digantikan Puji Sartono.

Pada pilkada kali ini ia berpasangan dengan Tony Eka Candra, karibnya di dewan dari daerah pemilihan yang sama: Lampung Selatan.

Tony dan Antoni diusung Partai Golkar dan PKS. Kali ini nasibnya sama dengan 2010: kalah. Tony-Antoni mesti mengakui keunggulan Nanang Ermanto-Pandu Kesuma Dewangsa.

Nanang adalah petahana Bupati Lampung Selatan yang menggantikan Zainudin Hasan yang punya perkara di KPK. Uniknya, kala Zainudin Hasan dan Nanang menang pada pilkada 2015, Antoni Imam adalah Ketua Tim Pemenangan.

Antoni Imam buat saya luar biasa. Sehari setelah tahu ia kalah pada pilkada, Antoni Imam tetap biasa saja. Kegiatannya mengunjungi orang sakit, bersilaturahmi, menghadiri hajatan, dan sebagainya, masih ia lakukan. Aktivitasnya tetap padat.

Rumah Aspirasinya juga masih ramai. Saban pagi ada saja tamu. Yang paling sering adalah menerima tamu yang hendak mengundangnya hadir perkawinan anak mereka.

Antoni juga kadang mesti memberikan sambutan bahkan ceramah. Soal tausyiah dan ceramah, sebagai kader PKS, bukan perkara sulit. Khotbah Jumat saja dijabanin, apalagi ceramah atau khotbah nikah.

Yang agak istimewa penilaian saya untuk Antoni Imam kali ini adalah ia ini usai pilkada, “bukan siapa-siapa” . Ia tak lagi punya “jengkol” di bajunya penanda ia adalah anggota dewan.

Regulasi baru mengharuskan semua yang maju pilkada mesti mundur dari kursi dewan. Termasuk Antoni Imam. Meski demikian, aktivitasnya yang tidak berubah lepas pilkada membuatnya makin dicintai warga.

Tanda pagar (tagar) kamibersamaantoni marak di Facebook. Antoni seolah tak peduli kini ia bukan siapa-siapa. Bersama warga rupanya sudah menjadi bagian dari helaan napas dan aliran darah di tubuhnya.

Maka, cobalah Anda sigi Facebook-nya. Nyaris tiap hari usai pilkada ia masih keliling menyapa warga, menjenguk orang sakit, bersilaturahmi dengan teman lama, dan menghadiri hajatan di banyak tempat.

Saya tak tahu apakah pada pilkada 2024 Antoni masih minat untuk menjajalnya. Jika berkaca dari beberapa orang, justru di percobaan ketiga mereka sukses.

Sebut saja nama Khofifah Indar Parawansa yang mesti tiga kali menjajal pilgub Jawa Timur untuk kemudian terpilih.

Atau seperti Zainudin Hasan, bekas Bupati Lampung Selatan, yang juga mesti tiga kali berlaga dulu baru menang. Entahlah apakah Antoni Imam minat untuk yang ketiga kalinya.

Orang-orang seusia saya pasti masa kecilnya pernah mengikuti sandiwara radio Saur Sepuh dengan tokoh utama Brama Kumbara, raja Madangkara yang sezaman dengan Majapahit.

Tentu ini kisah fiksi. Sering dalam cerita ada perihal soal kadipaten-kadipaten yang berada di bawah otoritas kerajaan. Mungkin setara kabupaten kalau sekarang. Ada Kadipaten Sanggam dengan Adipati Samba.

Kalau adipati saban bulan terima upeti setara pajak zaman sekarang. Adipati ditunjuk langsung raja dan ia punya wewenang di tanah kadipatennya.

Antoni Imam saya juluki adipati. Meski tak resmi, ia punya tempat di hati rakyat. Setidaknya 140 ribuan warga pemilihnya tetap setia bersamanya. Bagi saya, Antoni adalah adipati tanpa menerima upeti. [Adian Saputra]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda