Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr HM Nasrullah Yusuf SE MBA bersama dosen dan mahasiswa juara lomba inovasi daerah. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Mahasiswa Program Studi Teknik Elektro Universitas Teknokrat Indonesia (UTI) tahun ini mengikuti lomba apresiasi anugerah iptek Provinsi Lampung tahun 2022 yang diselenggarakan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Lampung.
Tim Teknokrat menjadi juara III kategori peneliti kategori peneliti dengan judul karya “Rancang bangun sistem pembangkit listrik tenaga surya untuk tanaman hidroponik berbasis internet optik”. Penyerahan hadiah dilakukan hari ini di Hotel Emersia. Mahasiswa menerima hadiah dari Kepala Balitbangda Lampung Hamartoni Ahadis.
Ilham Dhani, mahasiswa Teknokrat, usai menerima hadiah, kepada wartalampung,id, mengatakan, inovasi yang dilakukan tentang teknologi untuk hidroponik itu sendiri. Seperti mengukur nutrisi pada tanaman dan juga dapat mengukur nutrisi A, B, dan PH-nya secara otomatis. Ia didampingi Nur Faqih Ardiantoro, tim lainnya.
Ilham menambahkan, manfaat dari karyanya yaitu untuk perkembangan hidroponik itu sendiri karena itu merupakan teknologinya.
Ia menambahkan, untuk pembiayaan dalam pembuatan karyanya itu ditanggung sepenuhnya oleh Universitas Teknokrat Indonesia.
“Pembuatan karya itu diangkat dari judul skripsi saya. Perkiraan tidak sampai dua bulan, tapi di penelitian saya itu setengah tahun,” kata dia.
Mahasiswa semester 8 itu mengatakan, untuk kesulitannya ialah mengukur nutrisi secara otomatis karena pemberian pupuk secara otomatis nilainya tidak teratur.
Ia berharap ke depannya untuk penggunaan baterainya lebih ditingkatkan lagi karena alatnya tidak bergantung pada energi listrik, melainkan menggunakan energi terbarukan pembangkit listrik tenaga surya, penggunaan kontrol, dan penambahan sensor-sensor lainnya.
Alat ini resmi bernama hidroponik bertenaga surya berbasis IoT. Ilham mengatakan, prinsip kerja hidroponik PLTS berbasis IoT ini tidak perlu menggunakan listrik PLN, tetapi menggunan panel surya 100 Wp untuk sumber energi listrik. Alat ini juga menggunakan baterai 12V DC sebagai penyimpan daya sementara yang dihasilkan oleh panel surya.
Ini bertujuan menghidupkan pompa air, mikrokontroler, 4 pristaltick pump , relay, sensor TDS, sensor pH, sensor ultrasonic, sensor tegangan, dan keran otomatis. Fungsi keseluruhan terutama untuk dapat menghidupkan pompa air untuk terus bersirkulasi selama 24 jam.
Jika air sudah bersirkulasi, sensor TDS akan mendeteksi air terkandung nutrisi. Jika tidak, pristaltick pump akan aktif secara otomatis mengalirkan nutrisi A dan B. Sensor pH mendeteksi air saat bersirkulasi jika pH yang dibutuhkan tanaman terlalu rendah, pristaltic pump secara otomatis mengalirkan cairah pH+.
Jika pH yang dibutuhkan tanaman terlalu tinggi, pristaltic pump mengalirkan cairan pH-. Sensor ultrasonic ( water level ) berfungsi untuk mengukur ketinggian air. Jika air rendah secara otomatis kran terbuka dan air mengalir untuk mengisi penampung air yang terdapat di hidroponik.
Sensor tegangan berfungsi mengukur tegangan pada baterai. Arduin UNO berfungsi sebagai kontroler pada sensor-sensor yang digunakan dan Mikrokontroler ESP 32 sebagi pemroses data yang akan dikirimkan ke aplikasi Smart Hidroponik. Aplikasi Smart Hidroponik berfungsi untuk memonitoring jumlah nutrisi, ketinggian pH air, kerendahan pH air, tegangan baterai, dan memonitoring jadwal waktu pembenihan dan waktu panen.
Ia juga mengucapkan terima kasih atas bimbingan dosennya, Novia Utami Putri ST MT. Ia mengatakan, bimbingan dari dosen sangat signifikan dalam pembuatan inovasi ini. Ia berharap ke depan penggunaan tenaga surya ini makin banyak digunakan masyarakat.
Wakil Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr H Mahathir Muhammad SE MM mengatakan, pihak kampus sangat bangga dengan raihan prestasi lomba inovasi daerah ini. Ia mengatakan, riset yang dilakukan mahasiswa dan dibimbing dosen ini bisa menjadi karya yang bermanfaat untuk masyarakat.
Mahathir menjelaskan, Teknokrat komitmen untuk menuju green campus. Penggunaan tenaga surya, kata dia, juga menjadi wujud komitmen kampus dalam menuju green campus. [Fitri Amalia]
