Pelatihan untuk konselor Puspaga Salimah se-Lampung. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Setelah Salimah Lampung mendapat kepercayaan dari Dinas PPPA (Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak) Provinsi Lampung untuk mengampu Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga), kali ini pengurus menggelar peningkatan kapasitas konselor Puspaga Salimah se-Lampung, Sabtu, 29/10/2022, di Bapelkes Pahoman, Bandar Lampung.
Puluhan peserta konselor Salimah yang hadir mewakili dari 15 kabupaten/kota se-Provinsi Lampung. Para konselor adalah peserta yang sudah direkomendasikan dari pengurus daerah Salimah di 15 kabupaten/kota dan yang telah mengikuti Pelatihan Ketahanan Keluarga Provinsi Lampung sebelumnya pada November 2021 lalu.
Rita Apriliyawati, Ketua PW Salimah Provinsi Lampung, mengatakan, peningkatan kapasitas ini sekaligus dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental 10 Oktober lalu dan menjadi salah satu upaya Salimah untuk mempersiapkan konselor hebat yang siap terjun ke masyarakat.
Adapun peresmian para konselor Puspaga akan dilaksanakan pada Hari Ibu, 22 Desember 2022.
Pada acara ini, panitia mendatangkan dua pemateri, yakni Cahyaningsih Fibri Rokhmani yang memaparkan materi tentang kesehatan jiwa, dan Sukatmini, psikolog, yang memaparkan teknik dasar dan etika konseling.
Dokter Cahyaningsih Fibri Rokhmani memaparkan materi tentang kesehatan jiwa dan ketahanan keluarga. Ia juga menginformasikan ciri-ciri orang yang sehat jiwa dan derajat kesehatan jiwa.
Kata dia, kesehatan jiwa sangat memengaruhi semua individu, keluarga, masyarakat, dan dapat mencegah adanya kenakalan remaja, konflik rumah tangga, perceraian, tindak kriminal, penyalahgunaan narkoba dll.
Hal yang terjadi jika tidak segera ditangani, ujarnya, seseorang yang mengalami gangguan jiwa bisa berdampak pada kematian/bunuh diri, disabilitas, menderita, dan sampai pada pelanggaran hak asasi manusia, stigma dan diskriminasi. Karena itu, lanjutnya, menjaga kesehatan jiwa sangatlah penting.
Ia menguraikan, jika kesehatan jiwa telah terjaga, bisa tercipta ketahanan keluarga yang berdampak pada ketahanan fisik, ekonomi, sosial, dan psikologis.
Dalam materi ketahanan keluarga, Dokter Cahyaningsih Fibri Rokhmani juga menjelaskan stres, ciri-ciri seseorang ketika mengalami stres, cara mengatasi stres, sampai pada tahap studi kasus dan penanganannya.
“Karena kesehatan jiwa keluarga sebagai salah satu aspek ketahanan keluarga itu sendiri,” ujarnya.
Terakhir, Dokter Cahyaningsih Fibri Rokhmani menyampaikan, kesehatan itu seperti uang. Kita tidak pernah menyadari nilainya sampai kita kehilangannya.
“Karena tiada kesehatan tanpa sehat jiwa,” ujarnya.
Sedangkan Sukatmini memaparkan materi tentang teknik dasar dan etika konseling. Berawal dari mengapa perlunya konselor keluarga, dikarenakan masalah yang terjadi sepanjang periode kehidupan manusia itu sendiri.
Seberapa jauh seseorang menghindar, masalah tersebut tetap akan mengikutinya. Karena realitasnya ada orang yang bisa menghadapi permasalahannya sendiri, namun ada pula yang tidak mampu menyelesaikannya.
Ia mengatakan, beberapa orang memerlukan bantuan untuk mengurai dan menyelesaikan masalahnya. Beberapa lainnya ingin berkeluh kesah namun tidak tahu tempat yang tepat.
“Akibatnya, masalahnya tidak selesai, justru semakin berkembang luas,” kata dia.
Sukatmini juga menyampaikan kepada para peserta, seorang konselor bukanlah gudang solusi atas permasalahan setiap orang. Bentuk bantuannya sendiri terdiri dari konseling, coaching, dan bimbingan.
Konseling sendiri adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang pembimbing (konselor) kepada seorang konseli atau sekelompok konseli/klien untuk mengatasi problemnya, dengan maksud agar klien atau sekelompok klien tersebut mengerti lebih jelas tentang problemnya sendiri, dan mampu menemukan jalan keluar dari problem sesuai dengan kemampuannya.
Sukatmini juga menyampaikan tujuan konseling adalah pengembangan keterampilan untuk belajar seumur hidup dengan membantu klien untuk belajar bagaimana mengatasi situasi sulit yang dihadapi di sepanjang hidupnya.
“Membantu klien untuk berani menghadapi tantangan dan kenyataan yang harus dihadapi,”kata dia.
Untuk teknik dasar konseling sendiri dibagi menjadi beberapa hal, berawal dari aktivitas konseling itu sendiri yakni membangun relasi, memahami kedalaman masalah, mencari solusi alternatif bersama klien, memutuskan jalan keluar terbaik secara bersama-sama, penyelesaian dan evaluasi.
“Sedangkan dalam langkah konseling ada di tahap awal, tahap tengah, dan tahap akhir.”
Sukatmini mengatakan, untuk menjadi konselor yang hebat, seseorang harus memiliki keterampilan dasar konseling. Keterampilan mendengarkan, keterampilam memimpin, keterampilan memantulkan, keterampilan merangkum, keterampilan konfrontasi, dan keterampilan memberikan informasi.
Di akhir Sukatmini juga menyampaikan etika konseling dengan diawali dengan sebuah hadis, “Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat kelak.” (HR. Ibnu Majah).
Yang artinya, seorang konselor haruslah menjaga kerahasiaan kliennya, tidak memaksakan nilai-nilai kepada klien, dilarang melakukan aktivitas seksual dengan klien, tidak menjadikan klien bergantung kepada konselor, dapat memisahkan antara konflik pribadi dengan konflik yang dibahas oleh klien, dan tidak melakukan iklan secara berlebihan.
Acara ini dilaksanakan seharian sejak pagi hingga sore hari. Dengan bekal ilmu tentang konselor yang telah diberikan, Rina Devita, Ketua Departemen Pendidikan dan Pelatihan Salimah Lampung, berharap, para konselor Salimah bisa membagi ilmunya kepada konselor di daerah yang berhalangan hadir.
Ia berharap acara ini bisa menjadi awalan yang baik untuk para konselor terjun ke masyarakat menghadapi para klien. [Desliyani Natalia/Humas Salimah Lampung]
