Berita Foto Advertorial Opini

Opini: Mengenal Tren Pengembangan Software Terkini

Opini: Mengenal Tren Pengembangan Software Terkini

Erliyan Redy Susanto. | Dokumentasi

 

Erliyan Redy Susanto. | Dokumentasi

Oleh Erliyan Redy Susanto (Pakar Rekayasa Perangkat Lunak Universitas Teknokrat Indonesia, Berpengalaman dalam Pengembangan Software pada Institusi Pemerintahan dan Swasta di Lampung)

Ngabuburit merupakan tradisi masyarakat Indonesia ketika menunggu datangnya waktu berbuka puasa di bulan Ramadan. Tradisi ini bisa dilakukan dengan berbagai macam kegiatan.

Selain berburu takjil, tadarus, mengikuti kultum di masjid, bahkan ngabuburit dapat dilakukan dengan membaca artikel teknologi. Insyaallah, dengan kegiatan ngabuburit terkait ilmu pengetahuan dan diniatkan ibadah, dapat mempermudah kita dalam memahami ilmu yang dipelajari.

Dalam artikel ini, saya akan sharing mengenai tren pengembangan software terkini di dunia sekarang. Artikel ini sangat berguna bagi programmer, software developer bahkan mahasiswa. Terutama bagi mahasiswa dengan jurusan/bidang IT yang akan dan sedang dalam masa pengerjaan skripsi.

Bidang IT merupakan salah satu bidang yang paling banyak diminati saat ini karena dianggap memiliki prospek yang paling menjanjikan dalam hal pekerjaan. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya perguruan tinggi bidang IT dan banyaknya mahasiswa yang mengambil jurusan terkait IT.

Rekayasa perangkat lunak adalah salah satu materi yang dipelajari oleh mahasiswa jurusan IT. Mahasiswa dapat membangun software sederhana hingga yang kompleks dengan teknik rekayasa perangkat lunak. Bahkan sebagian besar mahasiswa yang sedang skripsi risetnya terkait dengan pembuatan software.

Meskipun demikian, tidak semua mahasiswa jurusan IT memiliki pemahaman dan skill yang sama dalam membuat software. Oleh karena itu, diperlukan berbagai macam metode dan tools yang sesuai dengan masalah yang akan diselesaikan.

Secara umum software dibuat dengan melalui beberapa tahapan yaitu perencanaan, analisis, desain, implementasi, pengujian, dan pemeliharaan. Istilah ini banyak dikenal dengan sebutan Software Development Live Cycle (SDLC).

Dalam hal ini saya akan menyoroti bagian implementasi atau biasa dikenal dengan istilah coding atau pemrograman karena sebagian besar waktu banyak dialokasikan untuk kegiatan pembuatan produk berupa software.

Software atau program biasanya dibuat oleh programmer atau developer berdasarkan suatu proyek. Di mana setiap proyek memiliki waktu pengerjaan. Tantangan sebenarnya bagi para programmer atau developer dalam membangun software adalah waktu.

Sedangkan bagi manajer proyek tantangannya adalah cost yaitu bagaimana membangun software dengan biaya yang rendah.

Pada era sebelumnya, dalam pembuatan software diperlukan keahlian khusus yaitu dengan menguasai bahasa pemrograman.

Akan tetapi, semakin kompleks software yang akan dibangun maka semakin lama juga waktu yang dibutuhkan. Untuk menyelesaikan permasalahan ini, muncul teknik baru dalam pengembangan software. Teknik baru ini dikenal dengan istilah low-code dan no-code.

Pada artikel ini kita akan membahas low-code. Ada beberapa proses dalam pembuatan kode dibuat secara otomatis. Dengan demikian software lebih cepat diselesaikan dibanding dengan cara konvensional.

Cara konvensional yang dimaksud adalah dengan mengetik semua kode program yang dikenal dengan istilah hard coding.  Sedangkan untuk artikel selanjutnya kita akan membahas mengenai no-code.

Gartner Inc., sebuah perusahaan riset dan konsultan IT yang berbasis di Stamford, Connecticut, Amerika Serikat. Produk dan layanan Gartner adalah riset, program eksekutif, konsultasi, dan konferensi.

Gartner memiliki lebih dari 12 ribu klien perusahaan dan organisasi yang berasal dari 100 negara di dunia. Dalam laman websitenya dinyatakan bahwa pengembangan kode rendah/low-code adalah pengembangan aplikasi yang cepat atau pengembangan produktivitas tinggi, dengan opsi untuk menggunakan kode atau skrip.

Dengan kata lain adalah upaya untuk mempercepat pembuatan software dengan menggunakan tools khusus. Meskipun demikian pengembang perlu memiliki keahlian dalam bidang pemrograman untuk memaksimalkan kerja dari tools low-code tersebut.

Berikut ini adalah perbandingan penyedia pengembangan software dengan teknik low-code.

Ilustrasi. | Dokumentasi
Ilustrasi. | Dok
Ilustrasi. | Dok
Ilustrasi. | Dok

Demikian artikel mengenai tren pengembangan software terkini menggunakan teknik low-code. Jangan lupa nantikan artikel saya berikutnya tentang no-code yaitu bagaimana membuat software tanpa menguasai bahasa pemrograman. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda