Berita Foto Ruwajurai Tulang Bawang Barat

Jogja Biennale dan Sekolah Seni Tubaba Diskusi Publik “Membaca Pendidikan Seni dalam Siasat Khatulistiwa”

Jogja Biennale dan Sekolah Seni Tubaba Diskusi Publik “Membaca Pendidikan Seni dalam Siasat Khatulistiwa”

Ilustrasi. | Dokumentasi

Ilustrasi. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Panaragan – Jogja Biennale dan Sekolah Seni Tubaba menggelar Diskusi Publik “Membaca Pendidikan Seni dalam Siasat Khatulistiwa”. Acara diadakan di Tiyuh-tiyuh, Kota Budaya Ulluan Nughik, Tubaba, Selasa, 17/5/2022, pukul 15.00 s.d. 17.30 WIB.

Bupati Umar Ahmad memberikan pengantar pada acara ini. Sebagai pembicara adalah Semi Ikra Anggara (Direktur Sekolah Seni Tubaba), Alia Swastika (Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta), dan Karen Hardini (Staf Program dan Riset Yayasan Biennale Yogyakarta).

Acara dipandu Renti Rosmalis dengan moderator John Heryanto.

Acara dibuka dengan penampilan karya anak-anak Sekolah Seni Tubaba berupa pameran seni rupa anak “Perjalanan Karet” dan pertunjukan tari Nenemo.

Ini adalah penutup putaran I khatulistiwa Biennale Jogja Equator (BJE) dengan berbagai diskusi.

YBY berupaya membuka ruang dialog dan diskusi seluas-luasnya atas gagasan dasar dan konsep-konsep yang muncul selama berlangsungnya BJE.

Hal ini dimunculkan kembali dalam beragam bentuk presentasi untuk memperluas wacana dekolonisasi seni dan praktik penciptaan dalam kaitannya dengan pergeseran konteks sosial politik global atau situasi di Indonesia, termasuk dalam konteks pendidikan seni.

Bagaimana sejarah seni Indonesia bisa menjadi bagian dari ruang pembentukan identitas yang berdaulat? Bagaimana kita memberikan daya tawar kritis terhadap percakapan ekosistem dan infrastruktur seni yang selama ini didominasi oleh sistem seni Barat? Bagaimana pengetahuan dibentuk berkaitan dengan bagaimana sistem pemikiran Barat tentang pendidikan seni memengaruhi diskursus pengetahuan dalam pendidikan di Indonesia.

Bagaimana kita bisa menunjuk pengetahuan lokal sebagai pijakan bagi sistem berpikir baru yang lebih dekat dengan realitas dan praktik pendidikan seni di Indonesia sendiri, atau kebudayaan Nusantara dan Khatulistiwa secara lebih luas?.

Acara ini dapat terselenggarakan atas kerja sama Sekolah Seni Tubaba bersama Yayasan Biennale Yogyakarta, didukung oleh Taman Budaya Yogyakarta dan Pemerintah Daerah Tubaba. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda