Dewan Pimpinan Wilayah Penggerak Milenial Indonesia Lampung diskusi bertema "Gen-Z Bicara: Menyoal Harapan dan Tantangan Demokrasi Kita". | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Dewan Pimpinan Wilayah Penggerak Milenial Indonesia (DPW PMI) Provinsi Lampung mengelar diskusi bertema “Gen-Z Bicara: Menyoal Harapan dan Tantangan Demokrasi Kita” melalui Zoom Meeting, Jumat, 29/4/2022.
Diskusi via aplikasi Zoom menghadirkan tiga pembicara yakni Rizky Hendarji Putra (kader Muda NasDem Lampung(, Indra Bahari (mahasiswa PascaSarjsana Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Bandung), dan Jane Rosalina (Divisi Pemantauan Impunitas Kontras).
Acara dimeriahkan Paus Sastra Lampung Isbedy Stiawan Zs.
Wildan Hanafi, Koordinator DPW Penggerak Milenial Indonesia Lampung mengatakan, diskusi berangkat dari apa yang terjadi di Indonesia.
Generasi milenial dan Gen-z selalu menjadi “korban” demokrasi. Kenapa demikian? Wildan mengatakan, karena mereka dibutuhkan hanya suara, tanpa mendorong dan mengasah softski;l dan hardskil, sehingga mereka paham akan pentingnya berdemokrasi.
Indra Bahari, Ketua Bidang Kajian Keilmuan HMI Bandung, memaparkan, pihaknya ingin mencoba membuka gagasan soal regresi demokrasi yang memang terjadi di Indonesia.
Hal itu, kata dia, harus bisa diterima dan dipahami. Bukan hanya oleh akademisi, melainkan juga masyarakat sipil.
Masyarakat sipil, ujarnya, saat ini menganggap Indonesia baik-baik saja, tidak ada permasalahan, atau bahkan regresi.
“Memang banyak perspektif maupun tema yang ditulis dalam buku ini dari soal general, situasi demokratisasi di indonesia dan di dunia,” katanya.
Jane Rosalina menegaskan, dalam beberapa waktu terakhir, kritik sering dikaitkan dengan tindakan subversif. Kritik berarti antinegara ataupun antipemerintah yang kemudian dijawab negara dengan tindakan represif untuk membungkam kebebasan warga negara.
Padahal, ujar dia, ini merupakan bentuk ekspresi publik sebagai wujud partisipasi masyarakat yang demokratis guna menjaga keberlangsungan proses demokrasi.
“Jangan sampai pola-pola tersebut justru memperparah iklim demokrasi di Indonesia dan membuat masyarakat takut untuk mengoreksi pemerintah. Semoga ruang-ruang diskursus seperti ini mengakar dan meluas sebagai bentuk partisipasi korektif masyarakat yang baik terhadap negara,” tegas Jane Rosalina.
Rizki Hendarji Putra menambahkan, ia sangat mengapresiasi kegiatan kegiatan semacam ini. Isu demokrasi, kata dia, memang menjadi pembahasan yang menarik. Pembahasan ini harus digalakkan di kalangan milenial, termasuk politik inklusif harus menjadi cara berpolitik anak muda agar stagnansi hingga regresi demokrasi bisa ditekan.
“Ia berharap PMI menjadi lokomotif untuk menggalakkan isu perbaikan demokrasi ke generasi muda, agar gen z sebagai tulang punggung bangsa siap menyongsong kepemimpinan ke depan,” tutupnya. [Mufrody]
