Rio Chaniado. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Maqashid syariah atau tujuan syariat itu adalah kemaslahatan dunia dan akhirat. Maka yang diperjuangkan oleh kelompok yang menamakan diri sebagai aktivis ekonomi syariah adalah kemaslahatan.
Dan jika ada sebuah keresehan dari kondisi saat ini untuk mencapai tujuan tersebut, aktivis ekonomi syariah harus hadir dan lantang bersuara.
Demikian disampaikan Rio Chaniado, Presnas FoSSEI 2021, dalam rilis hari ini. Ia mengatakan, yang terjadi saat ini adalah rusaknya demokrasi, ketidakadilan ekonomi rakyat dan kesewenang-wenangan penguasa dalam mengelola negara.
Jika ini terus terjadi, kata dia, tidak ada keadilan yang dirasakan rakyat, bahkan akan terjun ke jurang kesengsaraan dan kembali pada masa-masa kelam otoritarian penguasa.
“Saya sebagai seorang yang sampai saat ini berjuang untuk ekonomi umat, mengajak kepada seluruh aktivis ekonomi syariah dengan latar belakang organisasi apa pun untuk hadir dalam barisan perjuangan rakyat dalam menuntut keadilan didaerah masing-masing bersama dengan barisan elemen mahasiswa dan masyarakat lainnya,” lanjutnya.
Alumni Unila dan kader HMI Cabang Bandar Lampung ini juga menyampaikan, aktivis ekonomi syariah tidak boleh netral. Pasalnya, kita harus bersikap.
Dengan naiknya BBM dan PPN serta mafia minyak goreng yang menyengsarakan ditambah elite yang terus menggaungkan penundaan pilpres dan presiden 3 periode elas melanggar konstitusi.
“Netral bukan pilihan, hanya ada satu kata, lawan,” ujarnya.
Sebelumnyan diketahui bahwa gelombang unjuk rasa sudah terjadi di berbagai daerah dan puncaknya akan terjadi pada 11 April 2022.
Unjuk rasa yang diinisiasi oleh kelompok mahasiswa ini adalah sebagai bentuk keresehan rakyat dengan fenomena yang terjadi dalam kehidupan sosial.
Langkanya minyak goreng sampai membuat harga naik hampir 2 kali lipat, naiknya Pertamax dan wacana kenaikan pertalite, juga naiknya PPN ditambah suara sumbang dari istanan dan elite politik yang terus menyuarakan perpanjangan pilpres ditengarai sebagai pemicu kemarahan rakyat. []
