Sugeng Haryono, penggerak Motor Pustaka. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Tanpa membebani banyak orang, Sugeng Haryono berlabuh dari Ponorogo menuju Pulau Sumatera, tempat yang tidak pernah ia kunjungi. Bahkan, tidak ada seseorang pula untuk dikunjungi.
Tujuannya hanya satu, memperbaiki kehidupan. Seperti yang ingin dilakukan manusia, berevolusi dan berrevolusi. Dengan berbekal Rp600 ribu hasil menjual motor satu-satunya di kampung, Sugeng berangkat.
“Merinding saya,” ujarnya sembari memperlihatkan lengan cokelatnya kala diwawancara di sela kegiatan pelatihan penggerak literasi pekan lalu oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung di Hotel Emersia.
Sugeng membeli Pop Mie di kapal. Asupan makanan pertamanya di hari ia memutuskan untuk merantau.
Energi dan uang di kantong telah dikuras oleh calo kapal. Sisa uang yang ia punya bahkan tidak cukup untuk makan malam. Seperti yang ditawarkan sopir truk yang mengangkut mebel dari Jepara.
“Saya nebeng sama bapak itu, ketemu di musala pompa bensin. Saya ikut sampai tujuan bapak sampai, Pak, kata saya. Alhamdullilah, bapaknya mau menolong saya.” Ujarnya.
Seharusnya Sugeng berhenti di Kabupaten Lampung Tengah, tapi takdir berkata lain. Takut tidak bisa bertahan hidup hanya dengan Rp30 ribu, Sugeng memutuskan untuk bertanya pada penjual pecel lele tempat sopir dan kernet truk makan malam di Desa Pematang Pasir, Lampung Selatan.
Bertemulah ia dengan Basuki, pemilik bengkel sepeda motor.
“Tidak digaji, tapi dapat tempat tinggal dan makan. Wah, itu sudah cukup buat saya.”
Dua bulan bekerja di bengkel Basuki, Sugeng merasa bosan. Tidak ada teman untuk diajak ngobrol atau jalan-jalan. Berbekal kebosanan itu, Sugeng mencari perpustakaan di desa tersebut.
“Mereka malah tanya, perpustakaan itu apa ya, Mas?” ujar Sugeng.
Di matanya terlihat kekecewaan besar. Di kepalanya ia bertanya-tanya bagaimana bisa mereka tidak tahu apa itu perpustakaan. Kemudian di hati Sugeng muncul keinginan besar.
“Saya harus punya perpustakaan,” lanjutnya sembari mengusap lengannya yang kembali merinding.
Gerakan membuat perpustakaan seperti pada umumnya terasa mustahil bagi Sugeng. Tentu biaya yang dipakai tidak sedikit.
Belum lagi perizinan tanah dan izin membangun. Sugeng berkata, ia bahkan sudah sangat bersyukur bisa makan sehari-hari.
Tetapi Sugeng terus bermimpi. Pertama-tama lewat Basuki. Uang yang Sugeng peroleh berasal dari tambal ban di bengkel Basuki. Uang itu dikumpulkan rupiah demi rupiah untuk mimpinya yang besar membangun perpustakaan.
Akhir tahun, sudah terkumpul Rp500 ribu di tabungan Sugeng. Semuanya hasil dari tambal ban.
Tahapan kedua untuk mewujudkan mimpi Sugeng ada di toko rongsokan. Siang itu, Sugeng pergi mencari besi untuk Basuki. Besinya tidak ada, tetapi ada rongsokan lengkap dengan BPKB dan STNK, yaitu kerangka motor.
“Disuruh ditimbang dulu dan harganya Rp400 ribu. Saya bonceng motor baru saya di motor Pak Basuki yang saya bawa sambil tersenyum. Tentu, senang banget punya motor baru,” Sugeng tertawa tiap membicarakan kerangka motor yang disebutnya sebagai motor baru.
Motor itulah yang membawanya pada mimpi, anak-anak, istri, sampai Jokowi, Presiden R.I.
“Saya berkeliling pakai motor itu untuk bawa buku-buku bekas di ronjot. Akhirnya saya punya perpustakaan keliling,” jelas Sugeng.
Buku-buku yang Sugeng bawa bersumber dari banyak orang. Ia memiliki teman-teman Facebook yang mau mendukungnya berkat unggahan tentang perpustakaan keliling ini di laman Facebooknya.
Sugeng bersyukur saat itu ada kamera yang dipinjam dari sekretaris desa untuk mengabadikan momen-momennya berkeliling. Ia mengunggah foto-foto itu di warnet, yang harga per jamnya cukup mahal baginya.
Anak-anak antusias. Di tengah antusiasme masyarakat saat itu, beberapa di antaranya merasa sebaliknya. Cibiran didapat Sugeng ulah meminta buku-buku bekas dari rumah ke rumah.
“Tapi, tiba-tiba saya dapat telepon. Katanya dari Istana Negara, undang saya buat ketemu Jokowi. Ah, ini pasti penipuan” kata Sugeng.
Telepon itu masih berdering keesokan harinya dengan tujuan yang sama. Sugeng mulai percaya bahwa ia memang mendapat undangan dari Presiden.
“Kalau memang ini benar, saya mau naik motor. Saya bilang gitu ke staf Presiden,” kata Sugeng seraya tertawa.
Kecintaan Sugeng pada motornya yang didapat dari tukang rongsok membawanya melewati gerbang Istana Negara. Ia tidak menyangka akan berada di istana, diliput oleh para media, dan terlebih disambut oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.
Motor itulah yang menjadi sarana Sugeng untuk mencapai mimpi terbesarnya, membangun perpustakaan.
“Kalau hari itu saya enggak jual motor untuk merantau dan menganggap remeh motor rongsokan, saya enggak tahu apa saya bisa bertemu Jokowi dan teman-teman penggerak literasi lain di istana, atau bahkan jadi brand ambassador Tolak Angin dan Danone Aqua,” ujarnya.
Joko Widodo menawarkan motor baru untuk Sugeng. Tidak menolak, tetapi Sugeng meminta jumlah lebih untuk diberikan kepada para teman penggerak perpustakaan keliling.
“Akhirnya Jokowi kirim 90 motor baru, bagus, mulus, untuk teman-teman penggerak perpustakaan keliling,” ujar Sugeng dengan binar di matanya.
Perpustakaan keliling terus berkeliling. Ia menamai gerakan ini dengan Motor Pustaka. Harapannya agar anak-anak mampu bangkit dan memiliki kehidupan yang layak dan lebih baik dengan membaca buku.
Sugeng menjelaskan, tidak ada yang tidak mungkin selama ada usaha di dalamnya. Sugeng terus berharap dan hidup dalam mimpi hingga akhirnya ia bangun dan berlari mengejar mimpi itu.
“Yang jelas, Matematika Allah itu 1 dikurang 1 bukan nol. Bisa jadi sama dengan satu, dua, seratus, bahkan tak terhingga. Ini yang saya terima.”
Sugeng berharap Motor Pustaka tetap ada dan semakin berkembang. Manfaat yang diterima anak-anak dari membaca buku akan dirasakan mereka untuk 10 tahun ke depan karena anak-anak ini adalah generasi bangsa.
“Karena negeri ini bukan warisan nenek moyang kita, tapi titipan untuk anak-cucu nanti,” pesannya.
Berkat Motor Pustaka, Sugeng dapat terbang hingga ke Turki untuk memperkenalkan Motor Pustakanya, mendapat beasiswa dari UT untuk gelar S1 Perpustakaan dan S2 Ilmu Komunikasi. Sugeng mempersembahkan ilmu-ilmunya untuk masyarakat di perkampungan supaya mereka juga bangkit dan tumbuh dalam lingkungan yang sehat.
Di sela-sela aktivitas Pustaka Bergerak, Sugeng menulis buku berjudul Bidadariku di Balik Tumpukan Buku. Buku ini berkisah tentang pertemuannya dengan istri saat ia ikut meminjam buku di Motor Pustaka.
Motor Pustaka pertamanya ia simpan sebagai bagian dari sejarah hidupnya. [Elisabeth Siregar, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung]
