Berita Foto Opini

Sarasehan Virtual 22 Tahun FKAR: Mengenang Masa Lalu, Menyapa Masa Kini, dan Menyiapkan Masa Depan

Sarasehan Virtual 22 Tahun FKAR: Mengenang Masa Lalu, Menyapa Masa Kini, dan Menyiapkan Masa Depan

Salah satu kegiatan FKAR Bandar Lampung tahun 2001. Pesantren kilat dan bimbingan teknis penyelenggaraan pesantren kilat bagi guru se-Lampung. | Dokumentasi FKAR

Salah satu kegiatan FKAR Bandar Lampung tahun 2001. Pesantren kilat dan bimbingan teknis penyelenggaraan pesantren kilat bagi guru se-Lampung. | Dokumentasi FKAR

 

Penulis: Arif Budiman, Mantan Ketua Umum Forum Kerja Sama Alumni Rohis (FKAR) Bandar Lampung. Saat ini berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) 

 

22 tahun berlalu. Bukan usia yang sebentar untuk sebuah organisasi. Banyak yang telah datang dan pergi, juga banyak yang sudah berubah tentunya. Baik dari kami, mantan pengurus, maupun organisasinya sendiri. Dari banyak foto kenangan yang ditayangkan pada sarasehan virtual kemarin, komentar yang sering muncul adalah, “Itu dulu, sewaktu kita masih kurus-kurus.”

Tapi tentunya bukan hanya postur badan saja yang berubah. Para pegiat dakwah sekolah yang pernah berada dalam gerbong 22 tahun itu kini sudah berganti posisi. Dahulu yang rata-rata mahasiswa, kini sudah berprofesi aneka rupa: guru, dosen, eksekutif muda, jurnalis, pebisnis, dokter, pegiat sosial, trainer, ustadz, ahli hukum, wakil rakyat, abdi negara, dan lainnya. Mereka yang dulu adalah para muli mekhanai single lillah, kini sudah menyandang gelar istri/suami/ibu/bapak, bahkan beranak-pinak sedemikian banyak.

Saat undangan untuk hadir dalam tilas balik virtual 22 tahun FKAR ini dikirim via Whatsapp, saya terharu. Banyak kisah yang singgah dalam perjalanan belasan tahun lalu itu, melekatkan memori indah yang tak ingin berpindah. Lintasan peristiwa muncul bergantian bagai slide presentasi pada proyektor abstrak di layar pikiran.

FKAR adalah singkatan dari Forum Kerjasama Alumni Rohis. Jargonnya “Laboratorium Dakwah Remaja”, wadah bagi pegiat dakwah sekolah di Bandar Lampung dalam berkreasi dan berjibaku menyiapkan generasi muda yang tahan uji dari serbuan globalisasi yang kadang menjerumuskan. Juga sarana mengembangkan potensi diri dan melejitkan prestasi para pelajar tanpa melupakan jati diri dari nilai-nilai asasi sebagai seorang muslim dan generasi muda penerus bangsa.

Dua malam lalu, saat diminta bercerita mewakili salah satu periode kepengurusan yang pernah dilalui, jujur saya grogi. Sudah lama tak berjumpa dengan para pendahulu dan teman-teman yang pernah bersama saling menguatkan bahu. Nostalgia masa lalu yang bukan saja indah untuk dikenang, tapi menyisipkan haru biru yang dalam. Seperti penggalan bait lagu yang dulu sering kami dendangkan, sebiru hari ini.

Biru adalah warna dominan dalam logo FKAR, dan juga aneka seragam yang dulu kami kenakan. Dan ketika acara malam kemarin saya mengenakan seragam yang sama dengan yang saya kenakan sepuluhan tahun yang lalu, turut hadir perasaan yang beragam. Seragam yang telah membawa kaki ini menjejak ke berbagai tempat penuh warna, dengan segala peristiwa yang kaya makna.

Baca: FKAR Bandar Lampung Diminta Naungi Pelajar Se-Lampung dan Komunikasi dengan Dinas Pendidikan

Mengenang dakwah sekolah adalah mengenang banyak cerita: perjuangan, pengorbanan, persaudaraan, kesungguhan, keikhlasan, dan banyak kisah menakjubkan lainnya. Sungguh membanggakan bisa berinteraksi dengan teman-teman yang seringkali meluangkan waktu untuk aktivitas dakwah sekolahnya melebihi waktu untuk urusannya sendiri.

Wajah yang lelah, pakaian yang akrab dengan debu atau asap jalan raya, muka berkeringat dan berbau sengatan matahari karena harus berjalan jauh, adalah hal lumrah saat kami bertemu. Mereka mungkin tak banyak memiliki waktu untuk merawat diri atau membeli banyak baju untuk sering-sering berganti, tapi jangan ditanya tentang bagaimana harumnya ukhuwah yang begitu erat mereka jaga.

Mereka adalah pejuang yang rela menyisihkan ongkos dari uang saku kuliah yang sebenarnya hanya pas untuk pergi-pulang ke kampus, demi hadir ke sekolah tiap pekannya. Menjumpai anak didik nonformal yang tak memiliki hubungan kekerabatan apapun kecuali karena kecintaan pada rabb-Nya. Belum lagi ditambah iuran ini itu, infak rutin, penggalanan dana, dan segala macam pengeluaran yang mungkin saja harus membuat mereka rela membagi jatah uang makan siangnya.

Awal-awal berinteraksi dengan dakwah sekolah ini, naik angkot lalu lanjut berjalan kaki, adalah hal biasa. Tak banyak dahulu yang memiliki kendaraan bermotor, meski roda dua. Bahkan yang memilikipun, saya ingat, kebanyakan model lama yang tampak antik. Tapi begitulah, keterbatasan bukanlah halangan untuk terus melangkahkan kaki. Dan dari pendahulu itulah saya banyak belajar tentang banyak makna yang tak didapatkan dari bangku-bangku pendidikan formal.

Dahulu juga tak sama dengan sekarang, era yang serba digital. Tak ada smartphone. Tak ada grup-grup Whatsapp yang mempermudah komunikasi massif. Hampir semua masih tradisional. Jika butuh berkomunikasi maka kita pergi ke telepon umum dengan berbekal beberapa koin logam, atau ke wartel (warung telepon) yang berbayar dengan nominal lebih banyak. Setelahnya, ada yang sedikit yang lebih canggih, pager, yang tit tit tit bunyinya, dengan layar monokromnya. Itupun hanya satu dua yang punya. Baru kemudian lahir era handphone, yang awalnya juga masih menjadi barang mewah.

Waktu berlalu, dan kini era baru sudah tampak nyata. Pandemi membawa kita pada dunia virtual yang semakin dekat. Sedekat sentuhan jemari. Dakwah sekolah juga telah bermetamorfosis. Saya bersyukur pengurus yang sekarang sangat melek teknologi. Update dengan perkembangan dunia remaja. Membuat studio mini, meluncurkan podcast, aneka kreativitas digital dan infografis, membuat nilai-nilai yang dibawanya menjadi menarik untuk dilirik.

Perhelatan kegiatan akbar yang semula berkumpul di sebuah tempat yang besar, kini bisa disulap dalam ruang-ruang maya yang bisa diikuti dari kejauhan. Menakjubkan. Tantangan era ini dijawab dengan baik. Tanpa gagap. Tanpa gugup. Mereka guyub dan terus menyingsingkan lengan baju. Melek perubahan dan mengawali era yang baru.

Dan kini saatnya bersiap meramu masa depan. Jalan panjang yang telah dimulai 22 tahun yang lalu, yang pangkal dan ujungnya kita tidak pernah tahu. Jalan yang akan menyemai benih-benih baru hingga bertunas, lalu tumbuh menjadi generasi yang kokoh, yang akar keimanannya menghunjam jauh ke bumi, yang batang pemikirannya kokoh menjulang ke langit, yang daun-daun akhlaknya rimbun meneduhkan, dan buah amalnya lebat penuh manfaat.

Akhir kata, terima kasih kepada panitia dan pengurus FKAR, yang telah menghadirkan kembali nuansa dakwah sekolah bersama sekitar 70an alumni yang mengikuti acara ini. Salam takzim kepada para pendahulu yang telah hadir: kak Arief Budiman, kak Ardianto, kak Mul, kak Adian, kak Decky, kak Suhada, kak Iwan, kak Hasan, mbak Erika, mbak Suci, mbak Dewi Mutia, wabilkhusus mbak Nining (yang saya baru tahu), dan juga lainnya mungkin yang tak sempat saya lihat. Terima kasih juga yang tak terhingga kepada teman-teman yang dahulu bersama mendedikasikan diri dengan sepenuh hati, pikiran, tenaga, dan kemampuan. Dan seperti selorohan kita di masa lalu tentang dakwah sekolah, “Sekali di hati, selamanya di jiwa.”

Masa lalu memang tempat yang indah untuk dikenang, tapi ia bukan tempat untuk pulang. Rumah kita ada di sini, tempat kita sekarang berdiri, dan juga kelak saat menjejak di masa depan.

Semoga dakwah sekolah kian kokoh dalam menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan perubahan pada setiap zaman. Hingga lahir pribadi-pribadi tangguh yang mampu menjadi pilar dan cahaya peradaban untuk agama dan Indonesia tercinta.

Kemiling, 2 Desember 2020

Dari diri yang begitu banyak salah dan kurangnya pada jalan ini,

Arif Budiman

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda