Berita Foto

Warga Desa Titiwangi Kecamatan Candipuro Lampung Selatan Tanam Saham Pasar Modal

Warga Desa Titiwangi Kecamatan Candipuro Lampung Selatan Tanam Saham Pasar Modal

Desa Titiwangi sebagai desa inklusi keuangan. | Dokumentasi

Desa Titiwangi sebagai desa inklusi keuangan. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Lampung Selatan – Untuk meningkatkan keuntungan dan mengembangkan modal usaha, masyarakat Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro, kabupaten Lampung Selatan beralih menjadi Investor ke pasar modal.

Hal tersebut dilakukan usai penahbisan Titiwangi sebagai desa Inklusi keuangan pada 19 November 2019 yang lalu.

Perwakilan Bursa Efek Indonesia Lampung, Fahmi Al-Kahfi mengatakan, usai ditetapkan sebagai desa Inklusi keuangan
tahun 2019, hingga tahun 2021 terdapat sepuluh kegiatan yang dilakukan oleh Bursa Efek Indonesia.

Kegiatan tersebut sempat melambat karena adanya pandemi COVID-19.
”

Alhamdulillah ada sebanyak 15 orang menjadi investor yang awalnya dari perangkat desa ada Sumari (Kades Titiwangi) yang kami edukasi pertama dan langsung menjadi investor,” terangnya.

Ia menambahkan, Titiwangi merupakan desa Inklusi keuangan kedua di Provinsi Lampung.

Tercatat sampai saat ini nilai transaksi mencapai Rp235 juta dari jumlah masyarakat menanamkan sahamnya di pasar modal.

Demikian terungkap saat Kunjungan media bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) ke Desa Titiwangi, Kecamatan Candipuro, Lampung Selatan, dengan tema “Desa Inklusi Mendorong Perkembangan Perekonomian Desa”, Selasa, 30/11/2021.

“Memang tidak mudah untuk memperkenalkan kemasyarakat berkaitan dengan investasi,” ujarnya.

Sementara, Kepala Desa Titiwangi Sumari mengatakan, masyarakat masih banyak yang belum memahami cara untuk berinvestasi.

Bahkan banyak masyarakat tabungan usaha ikut kandas saat menjadi investor di koperasi swasta ketika koperasi tersebut bangkrut.

“Di wilayah Titiwangi banyak masyarakat yang menabung di BMT. Alhasil BMT bangkrut modal mereka tidak kembali,” terangnya.

“Alhamdulillah sejak tahun 2019 mereka masuk galeri Investasi dari Bursa Efek Indonesia, tentunya dari BEI, OJK dan Desa memberikan pemahaman dan edukasi ke masyarakat bagaimana cara berinvestasi yang aman agar masyarakat tidak terjerumus lagi,” ujarnya.

Menurut Sumari, sebelum pandemi covid 19 warga sangat antusias untuk berinvestasi.

Banyak dari pemilik modal yang ingin berinvestasi tapi buta teknologi.

“Kebanyakan yang punya uang itu orang tua tapi itu kurang paham teknologi. Kalau di galeri harus paham IT untuk mengontrol Investasi. Karena tidak paham,  mereka lari ke bank. Maka melalui kegiatan musyawarah desa kami memberikan informasi apa itu tentang Bursa Efek, menanam saham, dan pasar modal. Paling tidak anaknya ada yang tahu tentang IT supaya mereka paham,” terangnya.

Deputi Bidang Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Lampun, Aprianus John Resnad, mengatakan, desa inklusi keuangan adalah program percepatan pengembangan ekonomi di perdesaan.

Hadirnya bursa efek Indonesia (BEI) memberikan dampak baik karena masyarakat diberikan pemahaman dan pelatihan baik secara teori maupun praktik bagaiamana usaha dan berinvestasi ke pasar modal.

“Jadi berinvestasi itu bukan hanya di bank, melainkan di bursa juga ada. Ke depannya melalui galeri bursa efek Indonesia ini yang menyediakan Informasi terkini untuk menganalisis perdagangan saham, dan juga sebagai jembatan menuju wawasan Ilmu pengetahuan tentang pasar modal, ” ungkapnya.

Saat ini, kata Aprianus, di Provinsi Lampung terdapat 12 galeri investasi, 8 di perguruan tinggi yang di Kota Metro dan Bandar Lampung, dan 4 di desa yakni di Pesawaran dan Lampung Selatan .

Dengan adanya galeri Investasi BEI dapat memberikan manfaat, informasi tepat sasaran yang optimal tentang pasar modal tidak terkecuali di desa. [Sugiono]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda