Berita Foto Opini

Generasi Milenial Dongkrak Sektor Pertanian

Generasi Milenial Dongkrak Sektor Pertanian

Ilustrasi. | Dokumentasi

Ilustrasi. | Dokumentasi

Febiyana Qomariyah, Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Lampung

Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.

Sebuah kalimat legenda yang pernah dilontarkan oleh tokoh nasional, Bung Karno, menjadi relevan dengan target pemerintah untuk melahirkan 2,5 juta petani milenial pada 2024.

Di sisi lain, pemerintah juga berharap adanya peningkatan produktivitas pertanian melalui program Smart Farming Millenials guna menciptakan ketahanan pangan dan pemulihan ekonomi nasional sebagai dampak pandemi covid-19. Nampaknya hal ini sangat rasional. Mengapa?

Indonesia merupakan negara agraris. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 13,70 persen ekonomi Indonesia ditopang oleh sektor pertanian. Indonesia juga punya modal yang cukup besar dari sisi penduduk usia muda. Sensus Penduduk 2020 mencatat sebanyak 25,87 persen penduduk Indonesia adalah generasi milenial.

Dari sisi tenaga kerja, BPS juga mencatat bahwa pada Februari 2021 sektor pertanian menyerap tenaga kerja terbanyak di Indonesia (29,59 persen). Sayangnya, dominasi tenaga kerja sektor pertanian di Indonesia tidak diimbangi oleh kualitas SDM di dalamnya.

Hasil Survei Pertanian Antar Sensus 2018 menunjukkan bahwa 65,82 persen kepala rumah tangga usaha pertanian di Indonesia berusia lebih dari 45 tahun. Merangkul generasi milenial untuk berkecimpung di sektor pertanian merupakan momentum yang tepat dilakukan saat ini. Saatnya

menghadirkan generasi muda sebagai petani yang cerdas, produktif, melek teknologi dan modern. Ini dilakukan agar profesi petani tidak hanya didominasi oleh penduduk usia tua saja. Selain itu, ancaman hilangnya profesi petani di masa yang akan datang menjadi kekhawatiran tersendiri. Padahal, sektor pertanian menjadi tumpuan ketahanan pangan nasional.

Karakteristik generasi milenial yang akrab dengan teknologi digital dan media sosial dinilai mampu mengembangkan sektor pertanian di Indonesia. Generasi milenial menghadirkan inovasi di sektor pertanian. Misalnya dengan teknologi seperti penginderaan jarak jauh (remote sensing) untuk mengamati berbagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman seperti cuaca, jenis tanah, dan kelembaban tanah.

Hal inilah yang membuat adanya ketepatan dan keakuratan di sektor pertanian. Karena segala prosesnya berbasis data dan menerapkan sistem otomasi. Berbeda dengan sistem pertanian tradisonal yang hanya menerapkan naluri dalam pengelolaan lahan pertanian. Seperti pada proses menanam tanaman tertentu membutuhkan pupuk jenis tertentu sebanyak sekian kilogram untuk sekian hektar, tanpa memperhatikan kondisi dan jenis tanahnya seperti apa.

Hal ini dilakukan secara turun temurun, sehingga hasil yang diperoleh menjadi tidak maksimal. Dengan pertanian modern yang berbasis data, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan kebutuhan pupuk pada setiap tahap pertumbuhan tanaman, sehingga penggunaan pupuk bisa lebih efisien.

Selain itu, pemanfaatan artificial intelligence dengan menciptakan robot yang dapat memancarkan gelombang elektromagnetik untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tanaman dapat diterapkan pada sektor pertanian. Ataupun dengan menciptakan robot yang bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi kegiatan produksi pertanian. Sehingga kesan kotor, panas dan jorok pada sektor pertanian akan hilang dengan pemanfaatan teknologi.

Generasi milenial berpotensi melakukan sesuatu yang lebih terbuka. Generasi milenial lebih mudah menerima perubahan. Mereka memiliki banyak sudut pandang baru. Mereka juga lebih fleksibel dan dinamis dalam menghadapi tantangan. Tak hanya itu, inovasi rantai pasok juga berperan penting untuk menciptakan efisiensi pasokan dan permintaan pasar terhadap hasil pertanian.

Munculnya berbagai digital platform sebagai wadah yang mempertemukan petani dan konsumen atau pedagang lain, dinilai dapat memperpendek rantai pasok. Melalui digital platform, pemasaran hasil pertanian menjadi lebih mudah dengan proses pengiriman yang efisien, sehingga ada kesesuaian yang lebih baik antara produsen dan konsumen atau pedagang lain.

Hadirnya generasi milenial di sektor pertanian setidaknya memberi harapan akan masa depan sektor pertanian yang lebih cerah meski masih ada tantangan di masa depan. Pandemi covid-19 menyadarkan kita untuk kembali memberi perhatian serius terhadap peningkatan sektor pertanian. Sebab, sektor yang cenderung diabaikan ini menjadi satu-satunya sektor yang mampu tumbuh positif di tengah hantaman pandemi.

Mengutip data BPS, saat sektor lain mengalami kontraksi di sepanjang tahun 2020, sektor pertanian tumbuh 1,75 persen (y-o-y). Trend pertumbuhan positif ini terus berlanjut di kuartal 1-2021, sektor pertanian tumbuh 2,95 persen (y-o-y), sementara sektor lain masih mengalami kontraksi.

Demikian juga halnya saat Indonesia keluar dari resesi di kuartal 2-2021, sektor pertanian tetap tumbuh 0,38 persen (y-o-y). Keberlangsungan sektor pertanian adalah keberlangsungan kehidupan bangsa Indonesia, termasuk generasi milenial. Oleh karena itu, dukungan pemerintah diperlukan untuk kemajuan sektor pertanian yang digerakan oleh generasi milenial. Peningkatan kualitas SDM generasi milenial di bidang pertanian sangat berguna untuk mengembangkan sektor pertanian.

Kegiatan penyuluhan, pendidikan, dan pelatihan dengan sasaran utama generasi milenial diperlukan untuk menumbuhkan dan mengembangkan jiwa wirausaha generasi milenial di sektor pertanian. Tak hanya pandai bertani, generasi milenial di sektor pertanian pun mampu berbisnis pertanian secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi.

Selain itu, dukungan permodalan berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi petani generasi milenial juga diperlukan guna menunjang berbagai kegiatan pertanian sekaligus meningkatkan nilai jual produk pertanian. Secara umum dan sebagai penunjang kegiatan pertanian, KUR ini tidak hanya dikhususkan bagi petani generasi milenial saja, namun juga petani lainnya.

Ketersediaan infrastrukur berupa jaringan internet yang baik juga mutlak diperlukan. Hal ini akan memperlancar proses pemasaran produk pertanian melalui digital platform hingga seluruh pelosok wilayah Indonesia.

Inovasi generasi milenial di sektor pertanian diperlukan untuk menciptakan sektor pertanian yang kokoh dan mampu menciptakan ketahanan pangan nasional. Jadi, masih berpikir ulang untuk menjadi petani? []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda