Berita Foto Ruwajurai Bandar Lampung

Amir Tunanetra Pedagang Kerupuk Keliling di Bandar Lampung, Pernah Dibohongi Pembeli dan Kena Prank Orang Iseng

Amir Tunanetra Pedagang Kerupuk Keliling di Bandar Lampung, Pernah Dibohongi Pembeli dan Kena Prank Orang Iseng

Amir. | Kurniati

Amir. | Kurniati

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Amir (40) seorang tunanetra penjual kerupuk terus berjalan tanpa henti untuk menjajakan dagangannya.

Sehari-hari ia berjualan berkeliling dengan menggunakan kayu penopang dan tongkat untuk petunjuk saat ia berjalan .

Waktu diemui wartalampung.id, Amir bercerita hanya ini mata pencarian yang bisa ia lakukan.

“Saya tidak bisa melakukan pekerjaan apa pun selain ini. Karena tidak bisa melihat tidak ada yang menerima,” tuturnya, Jumat, 1/10/2021.

Amir tinggal bersama istri dan anaknya di daerah Jalan Pramuka, Bandar Lampung.

Saat ditanya wartalampung.id, Amir mengaku tidak ada yang bisa membantunya karena istrinya juga seorang tunanetra.

Sedangkan anak-anaknya masih kecil sehingga sedang memerlukan banyak kebutuhan.

Setiap hari Amir pergi berjualan dari jam tiga sore sampai malam hari .

Ia berjalan dari arah Jalan Pramuka lalu ke arah Perumahan Bukit Keming Permai (BKP) lalu kit kembali lagi ke Pramuka.

Tidak hanya menjual kerupuk, ada pula jajanan lain seperti kemplang dan keripik singkong.

Harga jajanan yang ia jual sangat murah yaitu Rp5. 000 per bungkus.

Banyak kejadian yang tidak menenakkan terjadi saat Amir sedang berdagang keliling.

Ia pernah dibohongi oleh pembeli karena keterbatasannya. Kata Amir, ada yang beli dagangan, tetapi uang yang dia berikan hanya seribu rupiah.

Hal itu dia ketahui saat ia pulang ke rumah dan menghitung hasil penjualan dengan anak-anaknya.

Amir juga pernah dipanggil seorang pembeli dari kejauhan, tetapi tidak ada yang menjawab setelah ia menghampiri suara tersebut alis kena prank.

Walaupun begitu, dia tidak pernah mempersalahkan. Ia membiarkan orang yang jahat kepadanya.

“Pasti Allah bakal ganti dengan yang lebih,” katanya.

Amir selalu merasa bersyukur atas kekurangannya. Ia tidak pernah melupakan Allah SWT sekalipun ia tidak bisa melihat.

Setiap mendengar azan asar, magrib ataupun isya saat sedang dagang, Amir selalu menyempatkan salat terlebih dahulu.

“Hidup rahasia Allah. Keterbatasan bukanlah alasan untuk tidak bisa bangkit dan berjuang,” Pungkasnya. [Kurniati, Mahasiswi Ilmu Komunikasi FISIP UBL]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda