Berita Foto Ruwajurai Bandar Lampung

Sakit dan Sulit Bicara, Nenek Inah Tetap Jualan Sayur Mayur demi Masa Depan Cucu

Sakit dan Sulit Bicara, Nenek Inah Tetap Jualan Sayur Mayur demi Masa Depan Cucu

Nenek Inah. | Kurniati

Nenek Inah. | Kurniati

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Nenek Inah Maryana (73 tahun) pedagang sayur mayur ,berjualan dengan menahan rasa sakit dari penyakit yang dideritanya .

Nenek Inah bercerita kepada wartalampung.id, ia mengalami gangguan pencernaan dan saraf di lidahnya yang embuatnya tidak begitu jelas saat berbicara.

Kondisi itu membuat Nenek Inah hanya bisa duduk menunggu pembeli menghampirinya .

Sudah sejak lima ahun belakangan ini Nenek Inah tidak dapat berbicara dengan jelas.

“Sebenarnya saya masih bisa berbicara. Cuma lidah saya sarafnya terganggu. Jadi saat bicara saya gagap dan pelan, ” katanya ,kepada wartalampung.id , Sabtu 18/9/2021.

Dengan tubuhnya yang semakin renta dan kondisi yang tidak lagi bugar, Nenek Inah memilih tetap berdagang sayur mayur.

Ia menjelaskan anak dan menantunya meninggal kecelakaan saat ia berusia 58 tahun.

Sedangkan suami Nenek Inah wafat kalau usianya 65 tahun.

Kini Nenek Inah tinggal dengan cucunya yang berusia 13 tahun di daerah Kemiling, Bandar Lampung.

Sehari-hari Nenek Inah menanam sayur mayur untuk dijual di pasar. Ia juga sering mendapat bantuan oleh tetangga sekitar.

Setiap Selasa dan Jumat Nenek Inah berjualan di Pasar Tempel BKP dari pukul 14.00 sampai 18.00.

Hari lainnya ia berjualan di Pasar Tani Kemiling dari pagi sampai siang.

Penghasilan Nenek Inah pas-pasan untuk kebutuhan dia dan cucunya. Jika punya uang lebih, dia menyimpan untuk masa depan cucunya.

“Saya mau cucu saya sukses. Jangan jadi seperti saya atau ibunya yang tidak sekolah, ” katanya.

Tak berharap dengan bantuan apa pun, Nenek Inah memilih berusaha sendiri selagi masih diberi umur panjang.

Harapan yang sangat besar kepada cucunya untuk menjadi sukses membuat Nenek Inah tak memedulikan kondisinya.

“Saya hanya ingin cucu saya lebih baik dari saya walaupun saya harus bekerja keras mengumpulkan uang,” pungkasnya. [Kurniati, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UBL]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda